Latest Updates

MAKALAH B. INDONESIA "KETERAMPILAN BERBAHASA"



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sebagai seorang guru, kita memerlukan media bahasa dalam upaya membelajarkan para siswa, dalam menjalani profesi dah kehidupan sehari-hari. Kita perlu membaca buku-buku, jurnal, ensiklopedia, dan laporan-laporan yang bermanfaat sebagai sumber materi ajar. Pada kesempatan yang sama, kita perlu membuat catatan-catatan mengenai isi bacaan tersebut dan mungkin pada kesempatan lain kita harus menulis persiapan mengajar, menulis laporan, serta mungkin menulis makalah. Tentu saja pada konteks tertentu kita perlu pula menyampaikan pikiran, perasaan, fakta atau hal lainnya dengan cara berbicara. Agar kita memperoleh pemahaman mengenai hakikat keterampilan berbahasa Indonesia yang perlu dikuasai, kita perlu mempelajari pengertian, manfaat, dan aspek-aspek keterampilan berbahasa.
Dalam berkomunikasi kita menggunakan keterampilan berbahasa yang telah kita miliki, seberapa pun tingkat atau kualitas keterampilan itu. Ada orang yang memiliki keterampilan berbahasa secara optimal sehingga setiap tujuan komunikasinya mudah tercapai. Namun, ada pula orang yang sangat lemah tingkat keterampilannya sehingga bukan tujuan komunikasinya tercapai, tetapi malah terjadi salah pengertian yang berakibat suasana komunikasi menjadi buruk.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis mencoba merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Hakikat Keterampilan Berbahasa
2.      Keterampilan Menyimak
3.      Keterampilan Berbicara
4.      Keterampilan Membaca
5.      Keterampilan Menulis
 C.      Tujuan Penulisan
Berdasarkan Rumusan Masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui Hakikat Keterampilan Berbahasa
2.      Untuk mengetahui Keterampilan Menyimak
3.      Untuk mengetahui Keterampilan Berbicara
4.      Untuk mengetahui Keterampilan Membaca
5.      Untuk mengetahui Keterampilan Menulis

 BAB II
PEMBAHASAN

A.      Hakikat Keterampilan Berbahasa
Keterampilan berbahasa ada empat aspek, yaitu keterampilan berbicara, menyimak, menulis, dan membaca. Dalam berbicara, si pengirim pesan mengirimkan pesan dengan menggunakan bahasa lisan. Kemudian, dalam menyimak si penerima pesan berupaya memberi makna terhadap bahasa lisan yang disampaikan orang lain. Selanjutnya, dalam menulis si pengirim pesan mengirimkan pesan dengan menggunakan bahasa tulis. Dipihak lain, dalam membaca si penerima pesan berupaya memberikan makna terhadap bahasa tulis yang disampaikan orang lain.
Dalam mengirimkan pesan, antara lain si pengirim harus memiliki keterampilan dalam melakukan proses encoding. Sebaliknya dalam menerima pesan si penerima harus memiliki keteramplilan dalam melakukan proses decoding.
Keterampilan berbahasa bermanfaat dalam melakukan interaksi komunikasi dalam masyarakat. Banyak profesi dalam kehidupan bermasyarakat yang keberhasilannya, antara lain tergantung pada tingkat keterampilan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang, misalnya profesi sebagai manager, jaksa, pengacara, guru, dan wartawan.
Ada 4 aspek keterampilan berbahasa Indoneia yaitu mendengar (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis. Mendengarkan dan berbicara merupakan aspek keterampilan berbahasa ragam lisan, sedangkan membaca dan menulis merupakan keterampilan berbahasa ragam tulis. Mendengarkan dan membaca adalah keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif, sedangkan berbicara dan menulis bersifat produktif. Untuk menguasai keempat jenis keterampilan berbahasa tersebut seseorang harus menguasai sejumlah keterampilan mikro.
Berbicara dan mendengarkan adalah dua jenis keterampilan berbahasa lisan yang sangat erat kaitannya. Berbicara bersifat produktif sedangkan mendengarkan bersifat reseptif. Dua jenis keterampilan berbahasa lainnya, yaitu menulis dan membaca. Keduanya merupakan jenis keterampilan berbahasa ragam tulis. Menulis merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif, sedangkan membaca bersifat reseptif.
Dalam pemerolehan atau belajar suatu bahasa, keterampilan berbahasa jenis reseptif tampak banyak mendukung pemerolehan bahasa jenis produktif. Dalam suatu peristiwa komunikasi sering kali beberapa jenis keterampilan berbahasa digunakan secara bersama-sama guna mencapai tujuan komunikasi.
B.       Keterampilan Menyimak
Pada dasarnya pengembangan keterampilan menyimak itu dapat dibedakan atas empat tataran pokok, ialah (1) tataran identifikasi, dan (2) tataran identifikasi dan seleksi tanpa retensi, (3) tataran identifikasi dengan seleksi terpimpin dan retensi janghka pendek, dan (4) tataran identifikasi dengan seleksi retensi jangka panjang.
Ada 3 tahapan proses menyimak. Pertama, menerima masukan auditori (auditory input). Penyimak menerima pesan lain. Mendengar pesan saja tidak menjamin berlangsungnya pemahaman. Kedua, memperhatikan masukan auditori. Penyimak berkonsentrasi (secara fisik dan mental) pada apa yang disajikan penutur. Ketiga, menafsirkan dan berinteraksi dengan masukan auditori. Penyimak tidak sekedar mengumpulkan dan menyimpan pesan, akan tetapi juga mengklarifikasi, membandingkan, dan mennghubungkan pesan dengan pengetahuan awal (previous knowledge). Penyimak juga menggunakan strategi prediksi konfirmasi secara cepat.
Taraf perkembangan pemahaman berbahasa dalam menyimak adalah sebagai berikut. Pada kontak pertama dengan ujaran bahasa, yang masuk ketelinga manusia adalah suatu aliran bunyi gemuruh yang tidak berbeda. Secara berangsur-angsur kita akan merasakan adanya berbagai urutan bunyi, ada keteraturan naik turunnya bunyi, dan ada pula kelompok-kelompok bunyi atas dasar hembusan nafas. Kemudian, kita dapat menyadari adanya beberapa gabungan fakta bahasa yang kita kenal secara arbiter, misalnya kosakata, kelompok kata kerja, dan pernyataan-pernyataan yang sederhana.
Keterampilan menyimak bahasa dalam proses awal menyimak dapat diperinci atas (1) kemampuan mengidentifikasi dan menyeleksi gejala-gejala fonetik, baik yang berupa nada, tekanan, persendian, maupun intonasi pada umumnya. Demikian juga mengidentifikasi dan menyeleksi bunyi-bunyi segmental suatu bahasa yang dipelajari, (2) kemampuan mengenal, membedakan, menerapkan kosakata sesuai dengan makna dan konteksnya yang tepat, (3) kemampuan mengenal, membedakan, menerapkan struktur tata bahasa sesuai dengan maknanya yang tepat termasuk juga struktur frase dan idiom-idiom yang ada.
Untuk menyimak bahasa, kita dapat menggunakan dua strategi, yaitu memusatkan perhatian dan membuat catatan. Adapun latihannya dapat dilakukan dengan latihan membedakan fonem dalam konteks dan latihan menangkap maksud tuturan melalui unsur segmental dan suprasegmental.
Kegiatan menyimak interogatif merupakan kegiatan menyimak yang bertujuan untuk memperoleh informasi berupa fakta-fakta yang akurat dengan cara menginterogasi narasumber. Jadi, pelaku atau penyimak interogatif dalam hal ini adalah seorang pewawancara.
Terdapat 6 kiat yang dapat digunakan untuk menangkap gagasan inti simakan, yaitu :
1.      Membentuk gambar dalam pikiran atau berimajinasi berdasarkan materi smakan;
2.      Mengelompokan informasi;
3.      Mengajukan atau merumuskan pertanyan-pertanyaan berdasarkan materi simakan;
4.      Menemukan pola organisasi informasi;
5.      Mencatat informasi-informasi penting;
6.      Memusatkan perhatian;
Priyatmi mengemukakan tujuh kemampuan yang dimiliki penyimak yang baik, yaitu mampu;
1.      Mengantisipasi topik;
2.      Menemukan topik;
3.      Membedakan ide-ide pokok dengan ide-ide penjelas;
4.      Merumuskan hal-hal penting dari bahan simakan;
5.      Memberikan komentar atau respons terhadap bahan/materi simakan;
6.      Membedakan antara fakta, pendapat, dan simpulan yang terdapat dalam bahan simakan;
7.      Menunjukan nilai estetis yang terdapat dalam bahan simakan;
Menyimak kritis, menyimak kreatif, dan menyimak eksploratif tergolong kedalam kemampuan menyimak tingkat tinggi lanjut. Didalam kegiatan menyimak kritis, penyimak dituntut dapat menilai informasi yang diperoleh melalui bahan simakan. Seorang penyimak kritis dikatakan berhasil jika dia mampu membedakan antara fakta dan opini dan akan mampu membuat simpulan sebagai hasil simakan, mampu menafsirkan makna idiom, ungkapan, dan majas yang terdapat dalam bahan simakan.
Menyimak kreatif ialah kegiatan menyimak yang membutuhkan daya imajinasi dan kreativitas. Penyimak kreatif dituntut mampu menirukan bunyi-bunyi atau lafal yang disimaknya, dan juga mampu mengungkapkan makna tersirat dari bahan simakan. Menyimak eksploratif ialah kegiatan menyimak yang bertujuan menemukan gagasan/informasi bidang-bidang tertentu, kemudian dikembangkan menjadi topik-topik baru.
C.      Keterampilan Berbicara
Kemampuan dasar dalam berbicara sudah dimiliki oleh setiap orang. Hal ini dapat ditelusuri dalam kebiasaan berinteraksi antar individu dan anggota masyarakat. Ketika suasana santai, kemampuan dasar dalam berbicara yang biasa dilakukan orang adalah dialog. Ketika berbicara dihadapan umum tentang kegiatan perlombaan atau pemberitahuan adalah menyampaikan pengumuman. Lain halnya ketika terjadi pertentangan pendapat maka kegiatan yang dilakukan adalah menyampaikan argumentasi. Terakhir, kemampuan dasar dalam kegiatan berbicara adalah bercerita.
Kemampuan lanjut dalam berbicara banyak manfaatnya terutama berkaitan dengan kemampuan bermusyawarah, berdiskusi, dan berpidato. Hal ini dapat diwujudkan dalam proses belajar mengajar. Kemampuan tersebut memerlukan latihan. Berlatih bermusyawarah dan berdiskusi dapat meningkatkan kemahiran seseorang dalam pengusaan keterampilan berbicara. Bermusyawarah amat baik dilakukan terutama agar setiap permasalahan tidak diselesaikan dengan kekerasan. Namun, apapun alasannya penguasaan keterampilan berbicara akan menjadikan anda lebih unggul dari yang lainnya. Ketika ada masalah yang memerlukan mufakat maka bermusyawarah adalah jalan terbaik. Hal ini sejalan dengan diskusi, yang lebih mengutamakan hasil yang lebih dipadukan dengan beberapa pendapat. Adapun perbedaan diantara keduanya, yaitu jika dalam musyawarah ada istilah voting, maka dalam diskusi tidak ada. Pidato itu sendiri lebih mengutamakan kemampuan seseorang berbicara untuk mempengaruhi pendengar atau khalayak ramai.
D.      Keterampilan Membaca
Dalam kehidupan, kita lebih banyak melakukan kegiatan membaca dalam hati daripada membaca bersuara. Namun, untuk profesi tertentu, seperti sebagai pembaca berita, hakim, Presiden dan profesi lainnya, kemampuan membaca bersuara memegang paranan penting dalam karir mereka. Kemampuan membaca dalam hati mengandalkan kemampuan visual, pemahaman, dan ingatan kita dalam membaca, sedangkan kemampuan membaca bersuara mensyaratkan kita untuk melafalkan kata demi kata, kalimat demi kalimat dari bahan bacaan dengan pengucapan, intonasi, tekanan, dan tempo suara yang tepat.
Dalam membaca wacana informative dan membaca untuk tujuan belajar, strategi membaca memindai (scanning dan skimming) menjadi penting. Kemampuan membaca dengan sangat cepat diperlukan dalam pemindaian bahan bacaan. Scanning akan membantu kita menemukan dengan cepat informasi khusus yang kita perlukan, sedangkan skimming membantu kita memperoleh gambaran mengenai bahan bacaan yang kita hadapi. Kedua strategi membaca itu diperlukan dalam melakukan kegiatan prabaca (previewing), kemudian menjadi dasar bagi pembaca untuk melakukan dugaan-dugaan mengenai isi bacaan. Selanjutnya, setelah tahap prabaca dan pendugaan dilalui, dalam membaca untuk tujuan pemahaman (belajar), kita akan menggunakan kecepatan yang berfariasi sesuai dengan kebutuhan. Ini dikarenkan kita sering harus member tanda-tanda tertentu pada bahan bacaan. Kegiatan membaca pemahaman akan lebih mantap apabila diakhiri dengan menulis sebuah rangkuman dan catatan mengenai teks yang telah dibaca.
Dalam berpidato, kadang-kadang seseorang harus menggunakan naskah lengkap karena suatu alasan. Dalam membaca naskah pidato, seseorang harus mengandalkan kemampuan membaca bersuara dengan intonasi, tekanan, dan tempo yang tepat serta kemampuan menggunakan gerak tubuh dan ekspresi wajah yang sesuai. Kemampuan itu hanya dapat diperoleh melalui latihan. Internet merupakan salah satu sumber informasi. Kemamapuan menelusuri wacana informative di internet merupakan nilai tambah yang harus dikuasai. Selain menguasai teknik penelusuran, kecepatan membaca (scanning dan skimming) sangat diperlukan dalam membaca wacana informative di internet.
Kemudian, dalam membaca karya sastra seseorang paling tidak harus memahami tiga hal, yaitu (1) kode bahasa, (2) kode sastra dan (3) kode budaya yang berkaitan dengan karya sastra itu. Tanpa pemahaman terhadap ketiga hal tersebut, pembaca tidak akan dapat memahami dan menikmati karya sastra yang dibaca.
E.       Keterampilan Menulis
Dalam menulis kita harus melakukan pemilihan kata dari sejumlah besar kata dalam bahasa Indonesia yang memiliki berbagai karakteristik, antara lain (a) berupa kata-kata yang bersinonim dan berantonim, (b) berupa kata-kata umum dan khusus, (c) kata-kata asli dan serapan. Kemudian, kata-kata tersebut dengan dibantu oleh unsur gramatikal tertentu harus disusun menjadi kalimat-kalimat efektif. Selanjutnya, sebuah tulisan yang baik bukanlah hanya terdiri dari deretan kalimat lepas, melainkan kalimat-kalimat harus dirangkaikan secara serasi dan padu dengan cara tertentu menjadi paragraf-paragraf. Karangan fiksi merupakan kreatif dan imajinatif penulis. Berbeda dengan itu, karangan nonfiksi merupakan hasil pemikiran dan pengamatan penulis yang dituangkan dengan menggunakan strategi tertentu. Oleh karena itu, karangan fiksi bersifat imajinatif, sedangkan karangan nonfiksi bersifat logis dan empiris.
Biasanya sebuah fiksi direncanakan dengan cara menulis sinopsis cerita terlebih dahulu, kemudian baru dikembangkan dalam bentuk cerita pendek, novel, atau naskah drama. Dipihak lain, proses penulisan karangan nonfiksi melalui langkah-langkah sebagai berikut : pemilihan topik, perumusan tujuan penulisan, penulisan kerangka karangan, pengumpulan bahan tulisan, dan pengembangan kerangka karangan menjadi karangan utuh.
 BAB III
PENUTUP

A.      Simpulan
Menyimak dan berbicara merupakan dua keterampilan berbahasa yang memiliki hubungan sangat erat karena keduanya merupakan keterampilan berbahasa lisan. Pada umumnya kedua keterampilan ini berlangsung secara tatap muka. Namun, dengan kemajuan dalam bidang teknologi, kedua keterampilan berbahasa ini dapat dilaksanakan tanpa tatap muka, yaitu melalui telepon.
Bukti bahwa menyimak memiliki hubungan yang erat dengan berbicara adalah :
1.      Anak belajar berbicara melalui menyimak terlebih dahulu ujar-ujaran orang disekitarnya dan menirunya;
2.      Pada umumnya orang lebih mudah meningat isi pembicaraan dibandingkan dengan isi tulisan;
3.      Kualitas keterampilan seseorang pembicara sangat mempengaruhi hasil menyimak seseorang.
Pembicara yang baik akan menggunakan gesture dan gerak-gerak isyarat untuk membantu penyimak memahami gagasan yang disampaikannya, sedangkan berbicara di dalam rekaman memerlukan keterampilan menggunakan unsure-unsur suprasegmental secara tepat agar tidak terjadi keslahpahaman dengan penyimak.
Sama halnya dengan keterampilan berbahasa yang lain, latihan keterampilan satu-satunya cara orang untuk dapat meningkatkan keterampilan menyimak dan berbicaranya.
Empat keterampilan bahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis), merupakan suatu keterampilan yang satu dengan yang lainnya saling terkait atau saling mendukung. Artinya, satu keterampilan berbahasa yang anda miliki akan membantu anda dalam meningkatkan keterampilan yang lainnya. Misal, dengan keterampilan anda menyimak akan banyak pengetahuan yang anda peroleh, baik dari segi bahasa, seperti kosakata, struktur kalimat, gaya bahasa, dan sebagainya, maupun pengetahuan bidang ilmu lain, seperti biologi, filsafat, psikologi, dan sebagainya. Pengetahuan-pengetahuan ini dapat anda manfaatkan ketika anda berlatih menulis, membaca, dan berbicara. Demikian pula sebaliknya.
Menulis dengan focus menyimak, artinya melalui menyimak anda berlatih menuliskan kembali bahan-bahan yang anda simak ke dalam tulisan dengan menggunakan bahasa anda sendiri.
B.       Saran
Kemampuan menyimak yang harus anda miliki untuk berlatih menulis, membaca, dan berbicara adalah kemampuan menyimak tingkat lanjut. Jika kemampuan menyimak anda belum sampai pada tingkat lanjut, artinya anda harus terus meningkatkan daya simak anda sampai mencapai tingkatan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer,  Abdul. (1998). Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta Bharata.
Monygemery, Robert L. (1993). Teknik Mendengarkan yang Efektif dalam Komunikasi. (Penerjemah Rochmulyati). Jakarta: Pustaka Binaman.
Nicholas, Michael P. (1997). The Lost Art of Listening. (Penerjemah Th. Herner). Jakarta: Gramedia pustaka utama.
Tarigan, Djago. (1991). Materi pendidikan Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Proyek Penataran Guru SD Setara DII.
Tarigan, Henry Guntur. (1984). Menyimak sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Yulistio, Didi. (2001). Keterampilan Menyimak Bahasa Indonesia Bengkulu: Lemlit Unit Press.
 

0 Response to "MAKALAH B. INDONESIA "KETERAMPILAN BERBAHASA""

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.