Latest Updates

MAKALAH BAHASA DAN SASTRA INDONESIA "PENULISAN KREATIF KARANGAN"



BAB I
PENDAHULUAN
 1.1    Latar Belakang
Menulis bukan pekerjaan yang sulit melainkan juga tidak mudah. Untuk memulai menulis, setiap penulis tidak perlu menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikkannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis. Menulis pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Keterampilan menulis digunakan untuk mencatat, merekam, meyakinkan, melaporkan, menginformasikan, dan mempengaruhi pembaca. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh para pembelajar yang dapat menyusun dan merangkai jalan pikiran dan mengemukakannya secara tertulis dengan jelas, lancar, dan komunikatif. Kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian dan pemilihan kata, dan struktur kalimat (McCrimmon, 1967: 122).
Karangan merupakan tulisan yang ditulis oleh pengarang yang mempunyai beberapa bentuk. Ada karangan yang berbentuk narasi dan ada juga yang berbentuk argumentasi. Karangan narasi merupakan karangan yang menceritakan objek pengamatan, yang tujuannya adalah menghimpun fakta. Karangan argumentasi bertujuan memberikan argumen bahwa apa yang ditulis oleh penulis dapat menyakinkan pembaca dan membujuk pembaca agar mengikuti apa yang ditulis oleh penulisnya melalui data dan fakta. Selain berbentuk narasi dan argumentasi, karangan ada pula yang berbntuk paparan dan deskripsi.
Menulis Karangan harus runtut dan teratur. Jika diibaratkan sebuah abjad Arab, maka menulis karangan harus dimulai dari A dan diakhiri dengan Z. Keruntutan dalam menulis karangan ini merupakan kesepakatan bersama dalam International Standardization Organization (ISO). Bila karangan tidak mengikuti kaidah ini, terutama tulisan ilmiah, maka akan dianggap tidak valid. Bagian dari karangan sesuai dengan standar ISO   terdiri dari pendahuluan, isi karangan, dan bagian penutup karangan.
1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
·      Proses Kreatif  dalam Menulis
·      Teknik Penulisan Karangan

1.3    Tujuan Penulisan
Berdasarkan Rumusan Masalah diatas maka tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :
·      Proses Kreatif  dalam Menulis
·      Teknik Penulisan Karangan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Proses Kreatif  dalam Menulis
Menulis merupakan suatu proses kreatif  yang banyak melibatkan cara berpikir divergen (menyebar) daripada konvergen (memusat) (Supriadi, 1997). Menulis tidak ubahnya dengan melukis. Penulis memiliki banyak gagasan dalam menuliskannya. Kendatipun secara teknis ada kriteria-kriteria yang dapat diikutinya, tetapi wujud yang akan dihasilkan itu sangat bergantung pada kepiawaian penulis dalam mengungkapkan gagasan. Banyak orang mempunyai ide-ide bagus di benaknya sebagai hasil dari pengamatan, penelitian, diskusi, atau membaca. Akan tetapi, begitu ide tersebut dilaporkan secara tertulis, laporan itu terasa amat kering, kurang menggigit, dan membosankan. Fokus tulisannya tidak jelas, gaya bahasa yang digunakan monoton, pilihan katanya (diksi) kurang tepat dan tidak mengena sasaran, serta variasi kata dan kalimatnya kering.
Sebagai proses kreatif yang berlangsung secara kognitif, penyusunan sebuah tulisan memuat empat tahap, yaitu: (1) tahap persiapan (prapenulisan), (2) tahap inkubasi, (3) tahap iluminasi, dan (4) tahap verifikasi/evaluasi. Keempat proses ini tidak selalu disadari oleh para pembelajar bahasa Indonesia sebagai bahasa asing. Namun, jika dilacak lebih jauh lagi, hampir semua proses menulis (esai, opini/artikel, karya ilmiah, artistik, atau bahkan masalah politik sekali pun) melalui keempat tahap ini. Harap diingat, bahwa proses kreatif tidak identik dengan proses atau langkah-langkah mengembangkan laporan tetapi lebih banyak merupakan proses kognitif atau bernalar.
Pertama, tahap persiapan atau prapenulisan adalah ketika pembelajar menyiapkan diri, mengumpulkan informasi, merumuskan masalah, menentukan fokus, mengolah informasi, menarik tafsiran dan inferensi terhadap realitas yang dihadapinya, berdiskusi, membaca, mengamati, dan lain-lain yang memperkaya masukan kognitifnya yang akan diproses selanjutnya.
            Kedua, tahap inkubasi adalah ketika pembelajar memproses informasi yang dimilikinya sedemikian rupa, sehingga mengantarkannya pada ditemukannya pemecahan masalah atau jalan keluar yang dicarinya. Proses inkubasi ini analog dengan ayam yang mengerami telurnya sampai telur menetas menjadi anak ayam. Proses ini seringkali terjadi secara tidak disadari, dan memang berlangsung dalam kawasan bawah sadar (subconscious) yang pada dasarnya melibatkan proses perluasan pikiran (expanding of the mind). Proses ini dapat berlangsung beberapa detik sampai bertahun-tahun. Biasanya, ketika seorang penulis melalui proses ini seakan-akan ia mengalami kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Oleh karena itu, tidak jarang seorang penulis yang tidak sabar mengalami frustrasi karena tidak menemukan pemecahan atas masalah yang dipikirkannya. Seakan-akan kita melupakan apa yang ada dalam benak kita. Kita berekreasi dengan anggota keluarga, melakukan pekerjaan lain, atau hanya duduk termenung. Kendatipun demikian, sesungguhnya di bawah sadar kita sedang mengalami proses pengeraman yang menanti saatnya untuk segera “menetas”.
Ketiga, tahap iluminasi adalah ketika datangnya inspirasi atau insight, yaitu gagasan datang seakan-akan tiba-tiba dan berloncatan dari pikiran kita. Pada saat ini, apa yang telah lama kita pikirkan menemukan pemecahan masalah atau jalan keluar. Iluminasi tidak mengenal tempat atau waktu. Ia bisa datang ketika kita duduk di kursi, sedang mengendarai mobil, sedang berbelanja di pasar atau di supermarket, sedang makan, sedang mandi, dan lain-lain.
Jika hal-hal itu terjadi, sebaiknya gagasan yang muncul dan amat dinantikan itu segera dicatat, jangan dibiarkan hilang kembali sebab momentum itu biasanya tidak berlangsung lama. Tentu saja untuk peristiwa tertentu, kita menuliskannya setelah selesai melakukan pekerjaan. Jangan sampai ketika kita sedang mandi, misalnya, kemudian keluar hanya untuk menuliskan gagasan. Agar gagasan tidak menguap begitu saja, seorang pembelajar menulis yang baik selalu menyediakan ballpoint atau pensil dan kertas di dekatnya, bahkan dalam tasnya ke mana pun ia pergi.
Seringkali orang menganggap iluminasi ini sebagai ilham. Padahal, sesungguhnya ia telah lama atau pernah memikirkannya. Secara kognitif, apa yang dikatakan ilham tidak lebih dari proses berpikir kreatif. Ilham tidak datang dari kevakuman tetapi dari usaha dan ada masukan sebelumnya terhadap referensi kognitif seseorang.
Keempat, tahap terakhir yaitu verifikasi, apa yang dituliskan sebagai hasil dari tahap iluminasi itu diperiksa kembali, diseleksi, dan disusun sesuai dengan fokus tulisan. Mungkin ada bagian yang tidak perlu dituliskan, atau ada hal-hal yang perlu ditambahkan, dan lain-lain. Mungkin juga ada bagian yang mengandung hal-hal yang peka, sehingga perlu dipilih kata-kata atau kalimat yang lebih sesuai, tanpa menghilangkan esensinya. Jadi, pada tahap ini kita menguji dan menghadapkan apa yang kita tulis itu dengan realitas sosial, budaya, dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
2.2 Teknik Penulisan Karangan
Penulisan sebuah karangan harus memenuhi persyaratan.persyaratan ini menyangkut isi, bahasa, dan teknik penyajian,oleh sebab itu untuk membuat sebuah karangan perlu direncanakan dan tentunya sesuai dengan pengelompokkan karangannya, baik menurut bentuk, ragam, jenis, rumpun, ataupun macam karangannya.
Pengelompokkan menurut jenis, ragam, dan rumpun memiliki keterkaitan yang saling terkait. Dalam ragam sampai macam karangan kemungkinan pilihan semakin luas sehingga penentuan karangan yang akan ditulis harus semakin diarahkan untuk sampai pada pemilihan terakhir.
Kegiatan penulisan karangan merupakan kegiatan tunggal dan sebagai kesatuan proses. Dikatakan sebagai suatu kegiatan tunggal jika yang ditulis merupakan sebuah karangan yang sederhana, pendek, dan bahannya sudah dikuasai penuh. Sedangkan kegiatan yang merupakan proses, apabila kegiatan itu dilaksanakan dalam beberapa tahap yakni:
1.    Tahap Prapenulisan
Dalam tahap prapenulisan direncanakan hal-hal pokok yang akan mengarahkan
penulis dalamseluruh kegiatan penulisan karangan.
 2.    Tahap Penulisan
Dalam tahap penulisan atau pengembangan, merupakan pelaksanaan tentang hal-hal yang direncanakan, yaitu pengembangan gagasan dalam kalimat-kalimat, satuan paragraf, bagian atau bab.
3.    Tahap Revisi
Dalam tahap revisi yang dilakukan adalah membaca dan menilai kembali mengenai keseluruhan yang telah ditulis, memperbaiki, mengubah, bahkan diperluas kembali isi karangannya.
Dalam merencanakan sebuah karangan agar menghasilkan karangan yang baik dan sistematis, terdapat langkah-langkahnya yakni menentukan:
1.  Topik dan Judul sumber-sumber topik bisa melalui;
a.  Sumber pengalaman yaitu apa-apa yang pernah dialami seseorang
b.  Sumber pengamatan
c.  Sumber imajinasi
d.  Sumber pendapat atau hasil penalaran.
Untuk merumuskan topik yang baik dipergunakan ukuran serta dipertimbangkan beberapa hal yaitu:
1.    Topik hendaknya menarik untuk dibahas.
Topik yang menarik bukan bagi penulisnya saja tetapi diperkirakan juga menarik untuk pembaca.Topik yang menarik perhatian penulis akan memungkinkan penulis berusaha untuk secara serius mencari data yang penting dan relevan dengan masalah yang sedang dikarang,serta akan menimbulkan kegairahan dalam mengembangkannya dan akan mengundang minat pembaca.
2.    Dikuasai penulis.
Penulis hendak memiliki pengetahuan mengenai pokok-pokok permasalahan. Topik merupakan sesuatu yang lebih diketahui penulis dari pada pembacanya.
3.    Menarik dan aktual.
Minat pembaca merupakan hal penting yang harus diperhatikan penulis walaupun yang menarik minat itu amat tergantung pada situasi dan latar belakang pembaca itu sendiri,namun hal-hal berikut merupakan sesuatu yang diminati masyarakat secara umum:yang aktual,penting, penuh konflik,rahasia,humor,atau hal-hal lain yang bermanfaat bagi pembaca.
4.    Topik tidak terlalu luas atau membatasi topik.
Apabila topik itu terlalu luas, pembahasannya akan dangkal,sebaliknya topic yang terlalu sempit dalam sebuah karangan ilmiah, pembahasannya terlalu khusus tidak banyak berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Contoh untuk mempersempit atau membatasi topik untuk lebih speifik dari topik sebelumnya:
a.  Menurut tempat:negara tertentu lebih khusus daripada dunia. ”Bandung Daerah Wisata” dapat dipersempit “Tangkuban Perahu di Daerah Wisata”.
b.  Menurut waktu atau periode / zaman: “Kebudayaan Indonesia” dapat dikhususkan menjadi “Perdagangan Pada Zaman Majapahit”.
Judul karangan pada dasarnya adalah perincian atau jabaran dari topik atau judul merupakan nama yang diberikan untuk bahasan atau karangan, judul berfungsi sebagai slogan promosi untuk menarik minat pembaca dan sebagai gambaran isi karangan.Judul lebih spesifik dan sering menyiratkan permasalahan atau variable yang akan dibahas.
Judul yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a.  Relevan, ada hubungan dengan isi karangan (topik)
b. Provokatif, dapat menimbulkan hasrat ingin tahu pembaca
c.  Singkat, mudah dipahami dan enteng diingat
d.  Judul sebaiknya dinyatakan dalam bentuk frase.
 Secara umum terdapat model perumusan judul karangan:
1.  Model judul untuk karangan populer seperti artikel untuk koran dan
majalah, cenderung menggunakan judul-judul yang singkat dan sangat provokatif
2.  Model judul untuk karangan ilmiah.
2.  Tema
Tema berarti pokok pemikiran, ide atau gagasan serta yang akan disampaikan oleh penulis dalam karangannya disebut tema karangan.Tema dapat diartikan sebagai pengungkapan maksud dan tujuan,tujuan yang dirumuskan secara singkat dan wujudnya berupa satu kalimat disebut tesis.Perhatikan contoh dibawah ini.
Topik       : Belajar mengemukakan pendapat secara efektif.
Tujuan      : Menjelaskan dan memahami bagaimana cara mengeluarkan pendapat secara lisan, tertulis, logis, dan sistematis dalam bahasa yang baik secara efektif dan efisien.
Perumusan tema hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
a.  Kejelasan, tema hendaknya dirumuskan dengan kalimat yang jelas, tidak berbelit-belit.
b.  Kesatuan tema yang baik adalah tema yang memiliki satu gagasan
sentral.Sentralisasi gagasan ditandai oleh jumlah masalah pokok yang hendak digarap penulis.
c.  Keaslian (originalitas), hal ini penting untuk menciptakan kesegaran dan daya tarik karangan.
3.  Pembuatan Outline
Kerangka karangan adalah rencana kerja yang mengandung ketentuan- ketentuan tentang pembagian dan penyusunan gagasan yang memuat garis-garis besar suatu karangan. Fungsi utama kerangka karangan adalah mengatur hubungan antara gagasan-gagasan yang ada. Adapun manfaat kerangka karangan adalah:
1.  Memudahkan penyusunan kerangka secara teratur sehingga karangan menjadi lebih sistematis dan mencegah jauh dari sasaran yang sudah dirumuskan dalam topik atau judul
2.  Memudahkan penempatan antara bagian karangan yang penting dan yang tidak penting.
3.  Menghindari timbulnya pengulangan pembahasan.
4.  Memperlihatkan bagian-bagian pokok karangan secara memberaikan kemungkinan bagi perluasan bagian-bagian tersebut sehingga membantu penulis menciptakan suasana yang berbeda-beda dengan fariasi yang diinginkan.
5.  Membantu mengumpulkan data dan sumber-sumber yang diperlukan.
Dalam proses penyusunan kerangka karangan ada tahap yang harus dijalani, yaitu memilih topik, mengumpulkan informasi, mengatur gagasan dan menulis kerangka itu sendiri. Adapun langkah-langkah penyusunan kerangka karangan adalah sebagai berikut:
1.    Mencatat semua ide
Langkah ini dilakukan setelah penentuan topik atau tema dan tujuan karangan. Dalam langkah ini semua ide yang muncul berkenaan dengan topik karangan yang diinfentarisasikan tanpa kecuali.
2.    Menyeleksi ide-ide
Dasar-dasar penyeleksian adalah:
a.  Relefan-tidaknya ide dengan topik atau tujuan karangan
b.  Penting-tidaknya ide tersebut untuk dibahas.
c.  Dikuasai-tidaknya ide tersebut oleh penulis.
d.  Ada tidaknya data atau penunjang untuk membahasnya.
3.  Mengurutkan dan mengelompokkan ide-ide secara tepat.
Langkah penyeleksian untuk menyelesaikan ide-ide dengan topik karangan. Namun demikian langkah langkah itu belum menjamin kelogisan hubungan antara ide-idenya. Untuk itulah diperlukan langkah pengurutan dan pengelompokan. Ide-ide yang berdekatan, disatukan dalam satu topik atau pada rumusan ide yang lebih luas.
Dengan berpedoman pada kerangka karangan, seorang penulis dapat menyusun karangan secara teratur dan mempersiapkan bahan yang dipersiapkan, karena pada prinsipnya menyusun kerangka berarti memecahkan topik ke dalam subtopik dan mungkin selanjutnya kedalam sub-sub topik. Cara penyususan ide-ide dapat dilakukan dalam berbagai pola pengembangan, dalam berbagai bentuk karangan:
1.    Narasi
Pola pengembangannya dapt disusun dari mulai:
a.  urutan kejadian
b.  penjelas tentang proses
c.  sorot balik
d. titik pandang
e.  akibat dramatis
2.  Deskripsi
Pola pengembangan bisa dimulai dari:
a.  spasial
b.  objekip
c.  subjektip
d. observasi
e.  fokus
f.  seleksi
3.  Eksposisi
Pola pengembangannya dapt disusun dari mulai:
a.  proses
b.  kausalitas
c.  klimaks
4.  Pengumpulan Data
Pada waktu memilih dan membatasi topik kita hendaklah sudah memperkirakan kemungkinan mendapatkan bahan. Dengan membatasi topik, penulisan sebetulnya sudah memusatkan perhatian pada topik yang terbatas, serta mengumpulkan bahan yang khusus pula. Dengan bahan–bahan yang khusus ini kita berusaha membahas topik sacara terinci dan memdalam. Sumber Bahan Penulisan Yang dimaksud dengan bahan penulisan ialah semua informasi yang digunakan untuk mencapai tuluan penulisan .Informasi itu,mungkin merupakan teori ,contoh-contoh ,rincian atau detil,perbandingan, sejarah kasus, fakta, hubungan sebab akibat  ,pengujian dan pembuktian,angka-angka ,kutipan, gagasan dan sebagainya.
Sumber-sumber penulisan:
a.    Bahan dari bacaan
Kita dapat mencari bahan penulisan dengan membaca buku-buku ,malah, dan bahan-bahan bacaan lainnya terutama di perpustakaan. Bahan bacaan di perpustakaan di bedakan menjadi tiga:
1.  Bahan bacaan yang memberikan gambaran umum tentang topik yang dipilih
2.  Bahan bacaan yang harus dibaca kritik dan mendalam
3.  Bahan bacaan tambahan sabagai pelengkap bahan-bahan yang sudah data.
b.  Pengamatan
Agar dapat melakukan pengamatan secara cermat, kita perlu berlatih mengamati sebuah objek dari jarak yang lebihdekat.Dalam hal ini tentunya diperlukan konsenyrasi dan minat yang memadai .Jika kita tidak memeliki perhatian dan minat yang memadai maka kita akan memperoleh bahan berupa kesan umum yang kerap sekali kurang jelas.
c.    Wawancara dan angket
Wawancara adalah suatu cara mengumpulkan bahan dengan menanyakan langsung kepada informan atau orang yang berwenang. Angket ialah daftar pertanyaan yang disampaikan sasaran untuik diisi melalui angket ini kita dapat memperoleh keterangan dari responden dalam wilayah yang lebih luas
d.   Kewenangan
Pendapat yang dikemukakan oleh orang yang berwenang, juga dapat dijadikan bahan penulisan. Hanya dalam hal ini kita harus berhati hati dalam memilihnya. Sikap kritis kita dituntut karena pendapat yang dikemukakan sering bersifat subjektif.
5.    Penulisan Draft
Penulisan draft merupakan pengklasifikasian data yang telah terkumpul yang kemudian disusun menjadi sebuah wacana yang terdapat dalam karangan.
6.    Penyuntingan wacana
Dalam penulisan karangan hendaknya melakukan pengeditan ulang terhadap bahan yang akan disajikan karena bahan tersebut harus sesuai dengan bahasa diksi, alinea dan kalimat.Contohnya: Penulisan kutipan yang benar, penulisan kata serapan yang sesuai EYD.
    BAB III
PENUTUP
 3.1    Simpulan
Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.
Penulisan sebuah karangan harus memenuhi persyaratan.persyaratan ini menyangkut isi, bahasa, dan teknik penyajian,oleh sebab itu untuk membuat sebuah karangan perlu direncanakan dan tentunya sesuai dengan pengelompokkan karangannya, baik menurut bentuk, ragam, jenis, rumpun, ataupun macam karangannya
3.2    Saran
Harapan kami semoga dengan selesainya makalah ini dapat memenuhi kebutuhan materi bagi para pembaca terutama bagi para mahasiswa khususnya bagi kami, namun tidak menutup kemungkinan makalah ini bisa sesempurna mungkin maka dari itu kritik dan saran dari para pembaca kami harapkan
  DAFTAR PUSTAKA

http://bayuzu.blogspot.com/2010/05/perencanaan-penyusunan-karangan.html
http://www.anneahira.com/menulis-karangan.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Karangan


0 Response to "MAKALAH BAHASA DAN SASTRA INDONESIA "PENULISAN KREATIF KARANGAN""

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.