Latest Updates

MAKALAH BAHASA INDONESIA "kARAKTERISTIK KARYA ILMIAH"



BAB I
PENDAHULUAN
 Karya ilmiah lazim juga disebut karangan ilmiah. Lebih lanjut, Brotowidjoyo menjelaskan karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/keilmiahannya (Susilo, M. Eko, 1995:11).   
Karya ilmiah atau dalam bahasa Inggris (scientific paper) adalah laporan tertulis dan publikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Terdapat berbagai jenis karangan ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya semua itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan.  
Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah biasa dijadikan acuan (referensi) ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya. Isi (batang tubuh) sebuah karya ilmiah harus memenuhi syarat metode ilmiah. Menurut John Dewey ada 5 langkah pokok proses ilmiah, yaitu (1) mengenali dan merumuskan masalah, (2) menyusun kerangka berpikir dalam rangka penarikan hipotesis, (3) merumuskan hipotesis atau dugaan hasil sementara, (4) menguji hipotesis, dan (5) menarik kesimpulan. 
Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang tertentu yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian. Dalam beberapa hal, ketika mahasiswa melakukan praktikum, ia sebetulnya sedang melakukan verifikasi terhadap proses penelitian yang telah dikerjakan ilmuwan sebelumnya. Kegiatan praktikum didesain pula untuk melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis akan menuliskan rumusan makalah yang akan penulis bahas di pembahasan makalah ini sebagai berikut :
·           Karakteristik Karangan Ilmiah
·           Memahami Struktur Karangan Ilmiah
·           Penguasaan Karakteristik Karangan Ilmiah
I.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah supaya pembaca mengetahui tentang :
·           Karakteristik Karangan Ilmiah
·           Memahami Struktur Karangan Ilmiah
·           Penguasaan Karakteristik Karangan Ilmiah
 BAB II
PEMBAHASAN

II. 1   Karakteristik Karangan ILmiah
A.      Pengertian Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah adalah suatu produk dari kegiatan ilmiah. Membicarakan produk ilmiah, pasti kita membayangkan kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan temuan baru yang bersifat ilmiah, yaitu penelitian. Memang temuan ilmiah dilakukan melalui penelitian, namun tidak hanya penelitian merupakan satu-satunya karya tulis ilmiah.
Karya tulis ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu permasalahan. Pembahasan itu dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang diperoleh melalui suatu penelitian. Karya tulis ilmiah melalui penelitian ini menggunakan metode ilmiah yang sistematis untuk memperoleh jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan yang diteliti. Untuk memperjelas jawaban ilmiah berdasarkan penelitian, penulisan karya tulis ilmiah hanya dapat dilakukan sesudah timbul suatu masalah, yang kemudian dibahas melalui penelitian dan kesimpulan dari penelitian tersebut.
Karya tulis ilmiah sebagai sarana komunikasi ilmu pengetahuan yang berbentuk tulisan menggunakan sistematika yang dapat diterima oleh komunitas keilmuan melalui suatu sistematika penulisan yang disepakati. Dalam karya tulis ilmiah ciri-ciri keilmiahan dari suatu karya harus dapat dipertanggung jawabkan secara empiris dan objektif. Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber pengetahuan ilmiah yang digunakan dalam penulisan. Penulisan ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sebuah kalimat yang tidak bisa diidentifikasikan mana yang merupakan subjek dan predikat serta hubungan apa antara subjek dan predikat kemungkinan besar merupakan informasi yang tidak jelas. Penggunaan kata harus dilakukan secara tepat artinya kita harus memilih kata-kata yang sesuai dengan pesan apa yang harus disampaikannya.
Dalam penelitian yang digunakan sebagai bahan penulisan karya tulis ilmiah mengutip pernyataan orang lain sebagai dasar atau sebagai landasan penyusunan penelitian. Pernyataan ilmiah ini digunakan untuk bermacam-macam tujuan sesuai dengan bentuk argumentasi yang diajukan. Pernyataan tersebut dapat digunakan sebagai definisi dalam menjelaskan suatu konsep, atau dapat digunakan sebagai premis dalam pengambilan kesimpulan pada suatu argumentasi.
Pernyataan ilmiah yang harus kita gunakan dalam tulisan harus mencakup beberapa hal, yaitu :
1.    Harus dapat kita identifikasikan orang yang membuat pernyataan tersebut.
2.    Harus dapat kita identifikasikan media komunikasi ilmiah di mana pernyataan disampaikan apakah dalam makalah, buku, seminar, lokakarya dan sebagainya.
3.    Harus dapat diindentifikasikan lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut beserta tempat domisili dan waktu penerbitan itu dilakukan. Sekiranya publikasi ilmiah tersebut tidak diterbitkan maka harus disebutkan tempat, waktu dan lembaga yang melakukan kegiatan tersebut.
Cara kita mencantumkan ketiga hal tersebut dalam karya tulis ilmiah disebut teknik notasi ilmiah. Terdapat bermacam-macam teknik notasi ilmiah yang pada dasarnya mencerminkan hakikat dan unsur yang sama.
Buku ini memberikan contoh teknik notasi ilmiah yang menggunakan catatan kaki (Footnote). Catatan kaki merupakan informasi dari pernyataan yang kita kutip. Di samping itu catatan kaki dapat digunakan sebagai informasi tambahan yang tidak langsung berkaitan dengan pernyataan dalam badan tulisan.
Kutipan yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ada dua jenis yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung merupakan pernyataan yang kita tulis dalam karya tulis ilmiah susunan kalimat aslinya tanpa mengalami perubahan sedikit pun. Kutipan tak langsung merupakan kutipan pendapat atau pernyataan orang lain dengan melakukan perubahan kalimat yang dikutip disesuaikan dengan bahasa penulis itu sendiri.

B. Persyaratan Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah merupakan perwujudan kegiatan ilmiah yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Karya tulis ilmiah adalah karangan atau karya tulis yang menyajikan fakta dan ditulis dengan menggunakan metode penulisan yang baku.
Hal-hal yang harus ada dalam karya ilmiah antara lain:
1.        Karya tulis ilmiah memuat gagasan ilmiah lewat pikiran dan alur pikiran.
2.        Keindahan karya tulis ilmiah terletak pada bangun pikir dengan unsur-unsur yang menyangganya.
3.        Alur pikir dituangkan dalam sistematika dan notasi.
4.        Karya tulis ilmiah terdiri dari unsur-unsur: kata, angka, tabel, dan gambar, yang tersusun mendukung alur pikir yang teratur.
5.        Karya tulis ilmiah harus mampu mengekspresikan asas-asas yang terkandung dalam hakikat ilmu dengan mengindahkan kaidah-kaidah kebahasaan.
6.        Karya tulis ilmiah terdiri dari serangkaian narasi (penceritaan), eksposisi (paparan), deskripsi (lukisan) dan argumentasi (alasan).
Karya ilmiah adalah suatu karya tulis yang membahas suatu permasalahan. Pembahasan dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat dari suatu penelitian.
Karya tulis ilmiah harus memiliki gagasan ilmiah bahwa dalam tulisan tersebut harus memiliki permasalahan dan pemecahan masalah yang menggunakan suatu alur pemikiran dalam pemecahan masalah. Alur pemikiran tersebut tertuang dalam metode penelitian. Metode penelitian ilmiah pada hakikatnya merupakan operasionalisasi dari metode keilmuan. Dengan kata lain bahwa struktur berpikir yang melatarbelakangi langkah-langkah dalam penelitian ilmiah adalah metode keilmuan.
Metode penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan pemecahan masalah memiliki pengertian sebagai berikut:
1.        Penelitian adalah usaha yang sistematik dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah spesifik yang memerlukan pemecahan.
2.        Cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu.
3.        Cara ilmiah dilandasi oleh metode rasional dan metode empiris serta metode kesisteman.
4.        Penelitian meliputi proses pemeriksaan, penyelidikan, pengujian dan eksperimen yang harus diilakukan secara sistematik, tekun, kritis, objektif, dan logis.
5.        Penelitian dapat didefinisikan sebagai pemeriksaan atau penyelidikan ilmiah sistematik, terorganisasi didasarkan data dan kritis mengenai masalah spesifik yang dilakukan secara objektif untuk mendapatkan pemecahan masalah atau jawaban dari masalah tersebut.
Metode penulisan karya tulis ilmiah mengacu pada metode pengungkapan fakta yang biasanya berasal dari hasil penelitian dengan berbagai metode yang digunakan. Karya tulis ilmiah dapat juga disebut sebagai laporan hasil penelitian.
Laporan hasil penelitian ditulis sesuai dengan tujuan laporan tersebut dibuat atau ditujukan untuk keperluan yang dibutuhkan. Laporan hasil penelitian dapat ditulis dalam dua macam, yaitu sebagai dokumentasi dan sebagai publikasi. Perbedaan kedua karya tulis ilmiah ini terletak pada format penulisan.
Karya tulis ilmiah sebagian besar merupakan publikasi hasil penelitian. Dengan demikian format yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini ditentukan oleh isi penelitian yang menggambarkan metode atau sistematika penelitian. Metode penelitian secara garis besar dapat dibagi dalam empat macam.yaitu yang disusun berdasarkan hasil penelitian kuantitatif, hasil penelitian kualitatif, hasil kajian pustaka, dan hasil kerja pengembangan.
Karya tulis ilmiah yang berupa hasil penelitian ini dapat dibedakan berdasarkan sasaran yang dituju oleh penulis. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik berupa skripsi, tesis, dan disertasi. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik bersifat teknis, berisi apa yang diteliti secara lengkap, mengapa hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian. Isinya disajikan secara lugas dan. objektif. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat umum biasanya disajikan dalam bentuk artikel yang lebih cenderung menyajikan hasil penelitian dan aplikasi dari hasil penelitian tersebut dalam subtansi keilmuannya.
Dari berbagai macam bentuk karya tulis ilmiah, karya tulis ilmiah memiliki persyaratan khusus. Persyaratan karya tulis ilmiah adalah:
1.        Karya tulis ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
2.        Karya tulis ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etik penulis ilmiah yakni mencantukan rujukan dan kutipan yang jelas.
3.        Karya tulis ilmiah disusun secara sistematis setiap langkah direncanakan secara terkendali, konseptual dan prosedural.
4.        Karya tulis ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
5.        Karya tulis ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis
6.        Karya tulis ilmiah hanya mengandung kebenaran faktual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, serta tidak bersifat ambisius dan berprasangka, penyajian tidak boleh bersifat emotif.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam menulis karya ilmiah memerlukan persiapan yang dapat dibantu dengan menyusun kerangka tulisan. Di samping itu, karya tulis ilmiah harus mentaati format yang berlaku.
II.2    Memahami Struktur Karangan Ilmiah
Bagi sebagian besar, tugas menulis karya ilmiah, baik dalam bentuk makalah maupun skripsi, tampaknya menjadi tugas yang berat. Pemilihan topik penelitian, judul makalah, sampai penentuan teori menjadi bagian yang dianggap susah dikerjakan. Tidak heran ketika makalah atau skripsi disusun, beragam perbaikan harus dikerjakan oleh penulisnya.
Memahami struktur sebuah karya ilmiah bisa menjadi cara yang akan menolong penulis dalam menyajikan karya tulisnya. Bila sudah mengenal masing-masing aspeknya, sedikit banyak akan melapangkan alur pemikiran penulis.
Secara umum, sebuah karya tulis ilmiah terbagi dalam tiga bagian besar. Bagian yang dimaksud ialah pendahuluan, isi, dan pembahasan. Meskipun ketiganya merupakan inti dari sebuah karya, tentu saja masih dibutuhkan penyemarak lain, yaitu prakata (bedakan dengan kata pengantar!), daftar isi, daftar tabel/skema, bibliografi, dan lampiran. Tentu saja kelengkapan-kelengkapan tersebut tidak semuanya mutlak disertakan. Masing-masing akan dijelaskan di bawah ini.
A.      Pendahuluan
Seperti namanya, bagian ini memberikan gambaran mengenai topik penelitian yang hendak disajikan. Aspek-aspek yang biasa disertakan pada bagian ini diuraikan secara sederhana di bawah ini.
a.         Latar belakang masalah
Pada bagian ini, penulis harus menguraikan apa yang menjadi ketertarikannya pada objek yang diteliti. Oleh karena itu, kepekaan untuk memerhatikan fenomena-fenomena yang mutakhir di bidang yang sedang ditekuni menjadi kebutuhan. Tidak jarang, sebuah makalah atau skripsi mendapat sambutan hangat karena membahas topik-topik yang sedang hangat.
Satu aspek lain yang perlu dikemukakan pada bagian ini ialah tinjauan pustaka. Peneliti perlu menyertakan beberapa penelitian yang relevan dengan topik yang dikerjakan. Hal ini dilakukan agar memperjelas pembaca bahwa penelitian yang dilakukan bukan mengulangi berbagai penelitian lainnya.
b.         Masalah dan batasannya
Dari fenomena yang menarik perhatian, penulis harus secara eksplisit mengemukakan masalah yang hendak dibahas. Sebab pada bagian latar belakang, masalah yang hendak dibahas biasanya tidak dikemukakan secara eksplisit.
Meski demikian, masalah yang hendak dibahas atau diteliti itu masih harus dibatasi lagi. Hal ini dilakukan agar pembahasan tidak meluber luas kepada aspek-aspek yang jauh dari relevan. Selain itu, pembatasan masalah penelitian juga akan menolong dalam hal efektivitas penulisan karya ilmiah.
  1. Tujuan dan manfaat
Kemukakan tujuan dan manfaat penelitian yang dikerjakan. Sedapat mungkin dijabarkan keduanya, baik bagi lingkungan akademis maupun masyarakat secara umum.
  1. Metode dan Teknik Analisa
Penentuan metode dan teknik menganalisis data juga akan menentukan hasil dari sebuah penelitian. Metode harus dibedakan dari teknik. Mengenai keduanya, Sudaryanto (2001) menyebutkan bahwa metode merupakan cara yang harus dilaksanakan, sedangkan teknik merupakan cara melaksanakan metode. Sebagai cara, tambahnya, kejatian teknik ditentukan oleh adanya alat yang dipakai.
Dalam ilmu linguistik, metode penelitian berkisar pada dua metode besar, yaitu metode padan dan agih. Sementara tekniknya ada bermacam-macam. Tidak semua metode perlu dan relevan untuk digunakan dalam menganalisa data penelitian. Oleh karena itu, peneliti perlu berhati-hati dalam menentukan metode dan teknik analisanya. Data penelitian yang diperoleh harus benar-benar dicermati perilakunya.
  1. Landasan teori
Sebuah penelitian tentu perlu memiliki dasar teoritis yang kuat. Namun, penulis harus benar-benar teliti menentukan dasar teoritis yang akan mendukung pembedahan masalah. Biasanya, bila sudah mengerti perilaku data yang diperoleh, penentuan teori yang hendak dipakai akan lebih mudah.
B.     Isi
Setelah merampungkan bagian awal tadi, penelitian pun dapat dilanjutkan dengan lebih bergumul dengan data yang telah diperoleh. Sub dari bagian isi (biasa disebut juga subbab karena bagian isi umumnya dianggap sebagai bab yang mandiri) biasanya tergantung ruang lingkup masalah. Bila masalah yang hendak dibahas terdiri dari tiga butir, sub bagian isi bisa menjadi tiga. Jangan sampai empat apalagi lima, mengingat pada bagian isi, penulis harus melakukan analisa berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada bab pendahuluan.
C.       Penutup
Sebagai penutup, pada bagian ini peneliti harus memberi simpulan dari hasil penelitiannya. Simpulan tersebut harus disajikan secara sederhana dan singkat. Tujuannya agar pembaca bisa lebih menangkap hasil penelitiannya secara ringkas.
Salah satu bagian yang tampaknya masih banyak digunakan sebagai sub-bagian dari penutup ialah saran. Sejumlah departemen pada sejumlah perguruan tinggi belakangan ini mulai menghapus bagian tersebut. Sederhananya, sebuah penelitian mensyaratkan sebuah penelitian lanjutan, entah untuk menyanggah atau menguatkan hasil penelitian terdahulu.
D.       Bibliografi
Bibliografi atau yang umumnya disebut sebagai daftar pustaka turut menjadi bagian yang penting. Asumsinya, sebuah penelitian ilmiah tentu akan menggunakan referensi-referensi pendukung. Tidak ada batasan minimal maupun maksimal dalam penggunaan referensi. Namun, ini bukan berarti bahwa peneliti bisa seenaknya mencantumkan referensi. Referensi yang terlalu sedikit bisa menandakan peneliti tidak banyak membaca literatur pendukung atau hasil penelitian terkait. Sementara bila terlalu banyak, bisa-bisa dicurigai hasil tulisannya didominasi oleh pendapat ahli daripada pendapat peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, pemanfaatan referensi harus dilakukan sewajar dan seperlunya saja.
Tata cara penulisan bibliografi pun harus diperhatikan. Bedakan sumber referensi yang berasal dari buku dengan majalah dan surat kabar. Mengingat dunia internet saat ini pun menawarkan beragam hasil penelitian yang dengan mudah dapat diakses, peneliti dapat memanfaatkan sumber-sumber tersebut sebagai bahan referensi penelitiannya. Khusus untuk sumber referensi dari internet, saat ini disepakati bahwa tata cara penulisannya sebagai bibliografi diperlakukan seperti layaknya sebuah artikel.
E.       Mengenai Abstrak
Abstrak juga menjadi bagian penting lain yang perlu diperhatikan oleh peneliti. Abstrak merupakan suatu bagian uraian yang sangat singkat, jarang lebih panjang dari enam atau delapan baris, bertujuan untuk menerangkan kepada para pembaca aspek-aspek mana yang dibicarakan mengenai aspek-aspek itu (Keraf 1984).
F.        Mengenai Prakata
Salah kaprah sering terjadi pada bagian ini. Masih banyak yang memilih menggunakan kata pengantar daripada prakata. Perbedaan yang mendasar dari keduanya, kata pengantar ditulis oleh seseorang dalam rangka menyajikan karya tulis orang lain. Biasanya kata pengantar dipilih untuk memberi kesaksian yang menguatkan bagi pembaca, bahwa karya yang disajikan penulis pantas dibaca atau dijadikan referensi. Sebaliknya, prakata merupakan pengantar yang disajikan oleh penulis karya tersebut.
Pada bagian ini, penulis bisa memberi gambaran singkat mengenai karya tulis yang ia hasilkan. Penyajiannya harus dilakukan dengan variasi yang kreatif, agar tidak dianggap menjiplak bagian latar belakang masalah pada pendahuluan.
Pola di atas tidak sepenuhnya mutlak. Khusus dalam jurnal-jurnal ilmiah, masing-masing jurnal biasanya memberlakukan struktur penulisannya masing-masing. Informasi itu biasanya selalu disertakan dalam salah satu lembaran jurnal.
II. 3   Penguasaan Karakteristik Karangan Ilmiah
Memiliki kemampuan menulis karya ilmiah dinilai sangat penting bagi seorang mahasiswa. Selain itu, kemampuan ini juga sangat dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkecimpung dengan dunia akademik dan industri, seperti mahasiswa, guru, dosen, peneliti, dan penemu. Kegiatan-kegiatan ilmiah atau akademis yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tersebut di atas, dilaporkan secara tertulis, terstruktur, dan tentu memiliki ciri bisa dipertanggungjawabkan. Kali ini penulis ingin berbagi informasi mengenai bagaimana menyusun karya ilmiah dan kemampuan dasar yang penting di dalam penulisan karya ilmiah.
Menyusun karya ilmiah pada dasarnya cukup rumit, namun, jika ditekuni dengan serius dan sepenuh hati, menyusun atau menulis karya ilmiah bisa menjadi sebuah aktifitas yang sangat menyenangkan. Menurut pengalaman saya pribadi, menulis karya ilmiah melibatkan tiga unsur penting. Unsur-unsur tersebut antara lain bahan bacaan, pola berfikir dan penguasaan bahasa tulis.
Sesuai dengan hal di atas, bahan bacaan sangat mempengaruhi pola berfikir seseorang. Semakin bagus bahan bacaannya, maka semakin bagus pula pola ia berfikir. Meskipun demikian, bahan bacaan yang bagus tidak serta merta menjadikan pola berfikir seseorang terstruktur dan jelas. Hal ini disebabkan oleh follow-up dari apa yang ia baca. Saya memperhatikan bahwa mahasiswa, setelah membaca buku, jarang sekali melakukan follow-up dari apa yang ia baca.
Sekalipun ada, kuantitas mahasiswa yang melakukan hal ini tidak bisa dianggap secara menyeluruh. Kultur yang ada di dalam kampus perilah budaya membaca juga turut memberikan andil dan peran tersendiri di dalam pengembangan pola berfikir. Oleh sebab itu, follow-up terbaik dari kegiatan membaca adalah menulis apa yang telah dibaca dengan bahasa sendiri. Dengan demikian, bahan bacaan yang baik dan bagus, akan merangsang pola berfikir yang bagus, disejajarkan dengan penguasaan bahasa yang baik akan menghasilkan mahasiswa dan individu atau pelajar yang berkarakter penulis dan pemikir, di mana bukti mendasar akan hal ini adalah kemampuan mahasiswa untuk menulis sebuah karya ilmiah.
Agar bisa menyusun karya tulis ilmiah, terlebih dahulu mengetahui beberapa kemampuan dasar yang penting di dalam penulisan karya ilmiah (Hamalik, 1991:78-79). Hal ini penting dikuasai oleh mahasiswa, terutama di dalam membuat skripsi atau makalah sebagai tugas akhir, antara lain:
·         Penguasaan materi kuliah sebagai landasan pokok
Pada tahap penulisan karya ilmiah, penguasaan materi kuliah sangat penting bagi kelangsungan dan bahkan ‘nyawa’ dari sebuah karya tulis ilmiah. Pada saat menulis, materi kuliah yang sedang dipelajari bisa menjadi dasar utama untuk merancang konsep yang akan digunakan di dalam menulis sebuah karya ilmiah. Sebagai contoh, penulis adalah lulusan sastra Inggris, di mana pernah kuliah Literary Criticism. Pada mata kuliah ini, penulis belajar bagaimana melakukan proses analisa kritis terhadap sebuah karya sastra.
Dengan menggunakan dasar pemikiran yang ada dan berlaku pada mata kuliah ini, maka penulis akan menulis sebuah karya ilmiah yang merujuk kepada kritik sastra. Jika penguasaan mengenai kritik sastra sebagai mata kuliah tidak begitu jelas, maka hasil yang akan terjadi adalah kualitas karya tulis ilmiah menjadi tidak jelas juga. Demikian halnya jika mahasiswa tersebut belajar di jurusan Ekonomi, dengan mata kuliah Ekonomi Kerakyatan.
Penguasaan materi di mata kuliah ini akan membantu mahasiswa di dalam menulis karya ilmiah yang berkaitan dengan Ekonomi Kerakyatan. Pada dasarnya, penguasaan materi mata kuliah tertentu, dan berada dalam ruang lingkup bidang mereka sendiri akan dapat membantu mahasiswa di dalam menulis sebuah karya tulis ilmiah.
·         Kemampuan berpikir logis dan sistematis
Selanjutnya, berfikir logis dan sistematis juga perlu dan menjadi dasar di dalam menulis sebuah karya tulis ilmiah. Logis berarti masuk akal dan waras serta dapat dibuktikan di dunia nyata. Ini berarti bahwa semua kalimat yang ditulis di dalam karya tulis ilmiah harus masuk akal dan berterima dengan pola berfikir manusia pada umumnya. Untuk mencapai cara berfikir yang logis, cara yang bisa dilakukan adalah membaca berbagai bacaan yang bagus, sehingga ide-ide yang ditulis di dalam karya tulis akan logis. Sementara itu, berfikir sistematis artinya apa yang kita fikirkan selaku penulis harus tersusun dengan jelas dan teratur. Dengan arti kata, pola penyusunan ide yang akan ditulis seharusnya teratur dan tidak loncat kemana-mana. Dari satu pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya saling sambung menyambung. Logis dan sistematis pada akhirnya merujuk kepada pola berfikir mahasiswa sebelum dan pada saat  ia menulis karya ilmiah tersebut serta bisa dikembangkan secara terus menerus, sehingga setiap karya tulis ilmiah yang ia tulis bisa logis dan sistematis.
·         Penguasaan bahasa yang baik dan benar
Pada sebuah karya tulis ilmiah, bahasa memegang peran penting pada ketercapaian pesan dan ide kepada pembaca. Bahasa untuk komunikasi dan bahasa yang digunakan untuk menulis karya tulis ilmiah sangat berbeda. Bahasa ilmiah pada dasarnya cenderung kaku dan banyak aturan-aturan yang perlu dilakukan. Seperti, penulisan ekspresi dan kata-kata yang dipilih. Kata-kata yang ada pada karya tulis ilmiah bersifat umum dan bisa dimengerti, serta yang paling penting adalah tidak melanggar aturan berbahasa. Jika bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, maka mahasiswa tidak boleh melanggar etika penulisan EYD dan penyerapan bahasa asing. Jika bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris, maka, grammar, spelling, punctuation, vocabulary dan meaning perlu diperhatikan dengan seksama selain isi dan pesan yang disampaikan. Intinya adalah bahasa yang baik dan benar merupakan kunci mendasar di dalam menulis karya ilmiah selain menguasai isi karya tulis yang akan ditulis.
·         Penguasaan teknik penyajian menuruti sistematika karangan yang lengkap
Selain penguasaan materi, logis dan sistematis, berbahasa yang baik dan benar, menguasai teknik penyajian karangan juga sangat penting. Teknik penyajian ini berarti cara bagaimana karangan tersebut ditulis dan disajikan di atas kertas. Menurut penulis, teknik penyajian berkaitan dengan bagaimana mahasiswa menyusun ide-ide yang ada di kepala mereka menjadi sebuah tulisan yang memiliki struktur yang lengkap dan tertata dengan rapi. Struktur pada karangan seperti topik, kalimat topik, kalimat pendukung, dan kalimat kesimpulan jika menulis paragraf. Jika menulis essai, struktur yang harus ada adalah judul, paragraf pembuka, paragraf pendukung, dan paragraf penutup atau kesimpulan. Demikian halnya dengan jenis karangan lainnya. Setiap karangan memiliki strukturnya tersendiri sehingga hal ini menjadi penting bagi mahasiswa untuk diketahui agar ia bisa menulis karya ilmiah sesuai dengan jenisnya. (Silahkan baca nanti, penyusunan karya ilmiah – makalah, dan penyusunan karya ilmiah – skripsi).
·         Kemampuan menilai karangan, baik karangan sendiri maupun karangan orang lain
Pada kemampuan dasar terakhir, mampu menilai karangan sendiri dan orang lain juga penting. Kecenderungan mahasiswa adalah menilai karangan sendiri sebagai karangan yang baik, sementara karangan atau karya tulis orang lain biasa-biasa saja. Berbagai penulis juga mengalami hal yang sama pada waktu pertama kali ia menulis. Ini sudah menjadi sebuah kultur tersendiri ketika seseorang menulis. Tahap yang ia lalui antara lain proses drafting, writing, polishing (revising), dan finishing touch (rewriting). Setelah menulis sebuah karya ilmiah, mahasiswa seharusnya tetap terus membaca agar bisa membandingkan karya mereka sendiri dengan karya orang lain. Mampu melihat kekurangan tulisan sendiri dan mampu melihat kelebihan karya orang lain menjadi modal awal untuk meningkatkan kemampuan menulis bagi mahasiswa, terutama dalam menulis sebuah karya tulis ilmiah. Hal penting yang harus dicermati di sini adalah keterbukaan dan kejujuran. Jika tulisan kita menuai kritik, itu pertanda bagus bahwa kita bisa belajar untuk meningkatkan kualitas karya tulis kita. Jika sebaliknya, pertanda bahwa kita sebaiknya melakukan evaluasi terhadap tulisan atau karya tulis ilmiah yang telah kita buat dengan jujur.
BAB III
PENUTUP
 III.1  Simpulan
Sebagai kesimpulan, menulis karya ilmiah bagi mahasiswa adalah sebuah kepatutan. Terlebih lagi, mampu menulis sebuah karya ilmiah yang bisa dimanfaatkan oleh orang banyak bisa menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Melalui karya tulis, kemampuan berfikir mahasiswa bisa terlatih selain kemampuan memahami materi perkuliahan. Selain itu, mahasiswa juga bisa terbiasa mengembangkan sikap jujur dan terbuka apabila menilai tulisan sendiri dan tulisan orang lain. Lima kemampuan dasar yang telah dijelaskan di atas akan sangat berarti bagi perkembangan kemampuan menulis mahasiswa apabila mereka telah meningkatkan cara berfikir logis dan sistematis, menguasai bahasa yang baik dan benar berikut teknik penyajian serta mampu dengan jujur menilai karya orang lain.
III.2 Saran
Untuk mempermudah dalam menulis suatu karya tulis ilmiah maka seorang penulis harus dapat menentukan langkah awal yang harus diambil dalam memulai suatu tulisan, yakni penulis harus melakukan beberapa kegiatan sebelum membuat suatu tulisan ilmiah, diantaranya menentukan tema yang akan dijadikan patokan dalam menulis sekaligus melakukan penggalian data awal, kemudian menganalisis data awal yang diperoleh pada kegiatan sebelum menulis sehingga dapat dijadikan suatu latar belakang yang baik bagi pembuatan karya tulis ilmiah tersebut. Selanjutnya merumuskan masalah berdasarkan latar belakang tersebut. Terakhir menentukan tujuan, manfaat maupun ruang lingkup tulisan, dan pada akhirnya merumuskan atau menentukan judul tulisan yang mewakili permasalahan yang akan dibahas. Apabila langkah awal tersebut telah dilaksanakan, maka akan lebih mudah bagi si penulis untuk menindaklanjuti penulisan karya ilmiahnya, dengan menentukan judul serta memperhatikan ketentuan dalam membuat suatu tulisan. Baru kemudian mencoba menentukan metode ilmiah yang bagaimanakah yang tepat digunakan terhadap latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penulisan yang telah ditentukan tersebut. 
DAFTAR PUSTAKA
 Keraf, Gorys. 2004. "Diksi dan Gaya Bahasa". Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Soeseno, Slamet. 1982. "Teknik Penulisan Ilmiah-Populer". Jakarta: Gramedia.
Sudaryanto. 2001. "Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis". Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
DR. Oemar Hamalik. Manajemen Belajar di Perguruan Tinggi. Bandung; Sinar Baru, 1991.


0 Response to "MAKALAH BAHASA INDONESIA "kARAKTERISTIK KARYA ILMIAH""

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.