Latest Updates

MAKALAH DASAR PENILAIAN DAN PROSES PENDIDIKAN



BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tanggal 23 November 2007 tentang Standar Proses untuk satuan Pendidikan dasar dan menengah membawa implikasi terhadap sistem penilaian, termasuk konsep dan teknik penilaian yang dilaksanakan di kelas.

Penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik (guru), satuan pendidikan dan pemerintah. Penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru satuan pendidikan termasuk penilaian internal (internal assessment), sedangkan yang diselenggarakan pemerintah termasuk penilaian eksternal (external assessment).

Penilaian internal adalah penilaian yang direncanakan dan dilakukan oleh pendidik pada proses pembelajaran berlangsung dalam rangka penjaminan mutu misalnya penilaian kelas. Penilaian eksternal merupakan penilaian yang dilakukan oleh pemerintah sebagai pengendali mutu, seperti ujian nasional.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dari isi makalah ini adalah sebagai berikut :
·      Konsep Penilaian
·      Hasil Belajar
·      Dasar Penilaian dalam Proses Pendidikan
·      Pendekatan Penilaian
·      Ruang Lingkup Penilaian Hasil Belajar
·      Penilaian Hasil Belajar Masing-Masing Kelompok Mata Pelajaran

C.      Tujuan Penulisan
Tujuan dari Penulisan Makalah ini adalah :
·      Untuk mengetahui Konsep Penilaian
·      Untuk mengetahui Hasil Belajar
·      Untuk mengetahui Dasar Penilaian dalam Proses Pendidikan
·      Untuk mengetahui Pendekatan Penilaian
·      Untuk mengetahui Ruang Lingkup Penilaian Hasil Belajar
·      Untuk mengetahui Penilaian Hasil Belajar Masing-Masing Kelompok Mata Pelajaran
 

BAB II

PEMBAHASAN

A.      Konsep Penilaian

1.    Pengertian Penilaian

Penilaian merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memperoleh informasi secara objektif , berkelanjutan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang dicapai siswa, yang hasilnya digunakan sebagai dasar untuk menentukan perlakuan selanjutnya (Depdiknas, 2001). Hal ini berarti penilaian tidak hanya untuk mencapai target sesaat atau satu aspek saja, melainkan menyeluruh dan mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

Karena itu Grondlund (1984) menyatakan penilaian sebagai proses sistematik pengumpulan, penganalisaan dan penafsiran informasi untuk menentukan sejauh mana siswa mencapai tujuan.

Untuk dapat melakukan penilaian perlu melakukan pengukuran terlebih dahulu, sedangkan pengukuran tidak akan mempunyai makna yang berarti tanpa dilakukan penilaian (arikunto,1987). Pengukuran dapat diartikan sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang didasarkan pada aturan atau formulasi yang jelas (Zainul, 1992)

Dengan demikian , inti dari penilaian adalah proses memberikan atau menentukan terhadap hasil belajar tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Proses pemberian nilai tersebut berlangsung dalam bentuk interpretasi yang diakhiri dengan judgement. Judjement merupakan tema penilaian yang mengaplikasikan adanya suatu perbandingan antara kriteria dan kenyataan dalam konteks situasi tertentu. Atas dasar itu, maka dalam penilaian selalu ada objek/program, ada kriteria, dan ada judgement.

2. Fungsi Penilaian

1)  Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini maka penilaian harus mengacu kepada tujuan-tujuan instruksional

2)  Umpan balik bagi perbaikan proses belajar-mengajar. Perbaikan mungkin dapat dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar siswa, strategi mengajar guru, dll

3)  Dasar dalam menyusun laporan pkemajuan siswa pada orang tuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan dan kecakapan belajar siswa dalam bentuk-bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya (Nana Sudjana, 1998).

Dengan demikian, penilaian berfungsi sebagai pemantau kinerja komponen-komponen kegiatan proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan yang diharapkan dalam proses belajar-mengajar. Informasi yang diberikan oleh hasil analisis terhadap hasil penilaian sangat diperlukan bagi pembuatan kebijakan-kebijakan yang harus dilakukan oleh seorang guru untuk peningkatan mutu proses belajar mengajar.

3. Tujuan Penilaian

Dalam pedoman penilaian Depdikbud (1994), dinyatakan bahwa tujuan penilaian adalah untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, untuk perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa serta sekaligus memberi umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan belajar. Lebih bersifat koreksi, bahwa tujuan penilaian untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan atau kesulitan belajar siswa, dan sekaligus memberi umpan balik yang tepat.

Penilaian secara sistematis dan berkelanjutan untuk:

1) Menilai hasil belajar siswa di sekolah

2) Mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat dan

3)  Mengetahui mutu pendidikan di sekolah (Kep.Mendiknas No. 012/U/2001).


4.  Prinsip Penilaian

1)    Menyeluruh

Penguasaan kompetensi/kemampuan dalam mata pelajaran hendaknya menyeluruh, baik menyangkut standar kompetensi, kemampuan dasar serta keseluruhan indikator ketercapaian, baik menyangkut domain kognitif (pengetahuan), afekif (sikap, perilaku, dan nilai), serta psikomotor (ketrampilan), maupun menyangkut evaluasi proses dan hasil belajar.

2)    Berkelanjutan

Disamping menyeluruh, penilaian hendaknya dilakukan secara berkelanjutan (direncanakan dan dilakukan terus - menerus) guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar siswa sebagai dampak langsung ( dampak instruksional/pembelajaran ) maupun dampak tidak langsung ( dampak pengiring / nurturan effect) dari proses pembelajaran.

3)    Berorientasi pada indikator ketercapaian

Sistem penilaian dalam pembelajaran harus mengacu pada indikator ketercapaian yang sudah ditetapkan berdasarkan kemampuan dasar / kemampuan minimal dan standar kompetensinya. Dengan demikian hasil penilaian akan memberikan gambaran mengenai sampai seberapa indikator kemampuan dasar dalam suatu mata pelajaran telah dikuasai oleh siswa.

4)    Sesuai dengan pengalaman belajar

Sistem penilaian dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan pengalaman belajarnya. Misalnya jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas problem-solving maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (ketrampilan proses) maupun produk / hasil melakukan problem-solving.

5. Aspek yang Dinilai

Sesuai dengan kemampuan dasar yang ingin dicapai maka, pengujian harus mencakup :

1) Proses belajar, yaitu seluruh pengalaman belajar yang dilakukan siswa.

Contoh:

Dalam membuat karya tulis, selain memanfaatkan kemampuan mengetik dengan sepuluh jari juga harus mengetahui standar penulisan baku Bahasa Indonesia, serta cara menformat dengan word processing sesuai dengan aturan penulisan baku.

2) Hasil belajar, yaitu ketercapaian setiap kemampuan dasar baik kognitif, afektif maupun psikomotor, yang diperoleh siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.

Contoh:

Untuk ranah kognitif: hendaknya mencakup keempat jenis standar materi yaitu:

a.  Fakta: antara lain: kemajuan teknologi, kebutuhan Teknologi Informasi dan Komunikasi di segala bidang kehidupan, efektifitas dan efisiensi, teknologi yang semakin murah, masalah global, dan lain-lain.

b. Konsep: antara lain: definisi, pengertian, hakikat.

c. Prinsip: antara lain: rumus, dalil dan paradigma.

d. Prosedur: antara lain berupa langkah-langkah yang harus dikerjakan secara urut.

Untuk ranah psikomotor, diantaranya berupa kegiatan yang berkaitan dengan proses pelaksanaan tugas-tugas yang memerlukan ketrampilan fisik. Sedangkan pada ranah afektif, diantaranya mencakup hal-hal yang berkaitan dengan motivasi, minat serta kesungguhan dalam melakukan berbagai tugas, serta kedisiplinan dalam mengikuti prosedur.

B.       Hasil Belajar
Apa sebenarnya definisi atau pengertian hasil belajar?? Banyak kalangan menyamakan hasil belajar dengan prestasi belajar. Hal ini tidak dapat dibenarkan. Sesungguhnya pengertian prestasi belajar itu itu sendiri lebih luas hasil belajar, karena prestasi belajar merupakan hasil belajar secara keseluruhan yang biasa disebut dengan Indeks Prestasi (IP). Sedangkan hasil belajar adalah kemampuan dalam menerima pembelajaran terhadap satu bidang studi (mata pelajaran).
Hasil belajar umumnya dapat didefinisikan sebagai kemampuan seorang siswa dalam menerima pembelajaran di sekolah, di mana kemampuan itu dapat diukur melalui suatu tes atau ujian dengan menggunakan skala point. Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung, yang dapat memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya
Hamalik (1995) mengatakan bahwa hasil belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku subjek yang meliputi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor dalam situasi tertentu berkat pengalamannya berulang-ulang.
Sudjana (2005) mengatakan bahwa hasil belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotor yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.
Kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.  Kemampuan kognitif (cognitive domain) adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek intelektual atau secara logis yang biasa diukur dengan pikiran atau nalar. Kawasan ini terdiri dari :
a.  Pengetahuan (Knowledge), mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan.
b.  Pemahaman (Comprehension), mengacu pada kemampuan memahami makna materi.
c. Penerapan (Application), mengacu pada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip.
d.  Analisis (Analysis), mengacu pada kemampuan menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor penyebabnya, dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan lainnya sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti.
e. Sintesis (synthesis), mengacu pada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru.
f.  Evaluasi (Evaluation), mengacu pada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu.
2.  Kemampuan afektif (The affective domain) adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Kawasan ini terdiri dari:
a   Kemampuan menerima (Receiving), mengacu pada kesukarelaan dan kemampuan memperhatikan respon terhadap stimulasi yang tepat.
b. Sambutan (Responding), merupakan sikap mahasiswa dalam memberikan respon aktif terhadap stimulus yang datang dari luar, mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan perpartisipasi dalam suatu kegiatan.
Penghargaan (Valueving), mengacu pada penilaian atau pentingnya kita mengaitkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak, atau tidak memperhitungkan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi sikap yang apresiasi.
c. Pengorganisasian (Organizing), mengacu pada penyatuan nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan.
d. Karakteristik nilai (Characterization by value), mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya.
3.  Kemampuan psikomotor (The psychomotor domain) adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari:
a.  Persepsi (Perseption), mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan perbedaan antara ciri-ciri fisik yang khas pada masing-masing rangsangan.
Kesiapan (Ready), mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai sesuatu gerakan atau rangkaian gerakan.
b.  Gerakan terbimbing (Guidance response), mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik, sesuai dengan contoh yang diberikan (imitasi)
c. Gerakan yang terbiasa (Mechanical response), mencakup kemampuan untuk melakukan sesuatu rangkaian gerak-gerik dengan lancar, karena sudah dilatih secukupnya, tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan.
d. Gerakan kompleks (Complexs response), mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan, yang terdiri atas beberapa komponen,dengan lancar, tepat, dan efisien.
Penyesuaian pola gerak (Adjusment), mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan kondisi setempat atau dengan menunjukkan suatu taraf keterampilan yang telah mencapai kemahiran.
e. Kreatifitas (Creativity), mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak-gerik yang baru, seluruhnya atas dasar prakarsa dan sendiri.
C.   Dasar Penilaian dalam Proses Pendidikan
Dasar atau alasan fungsi penilaian dalam proses pendidikan dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu dasar psikologis, didaktis, dan administratif.
1) Dasar Psikologis
Secara psikologis orang selalu butuh mengetahui sudah saampai sejauh manakah dia berjalan menuju kepada tujuan yang ingin atau yang harus dicapainya. Masalah kebutuhan psikologi akan pengetahuannya mengeai hasil usaha yang telah dilakukan dapat ditinjau dari dua segi, yaitu:
a) Dari segi anak didik
b) Dari hasil-hasil penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak-anak, terutama dalam masa remaja, belum dapat mandiri pribadi(Zelfstanding), mereka membutuhka pendapat orang-orang yang lebih dewasa dalam menentukan sikap dan tingkah lakunya, dalam mengadakan orientai dalam sesuatu situasi tertentu.
c) Dari segi pendidik
Orang tua atau wali murid merupakan yang paling bertanggung jawab mengenai pendidikan anak-anaknya atau anak tanggungannya. Karena, pertimbangan-pertimbangan teknis harus menyerahkan sebagian tugasnya kepada lembaga pendidikan. Disamping yang telah dikemukakan itu sebagai pendidik yang professional yang melaksanakan tugas pendidik yang dipikul kepadanya, guru juga butuh mengetahui hasil-hasil usahanya itu sebagai pedoman dalam menjalankan uasaha-usaha yang lebih lanjut.
2) Dasar Didaktis
Mengenai dasar didaktis ini dapat ditinjau dari dua segi pula, yaitu :
a) Ditinjau dari sedi anak diidik
a. pengetahuan mengenai akan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai pada umumnya berpengaruh baik terhadap pekerjaan-pekerjaan selanjutnya, artinya menyebabkan prestasi-prestasi yang selanjutnya lebih baik(mursell 1946:267-268)
b. murid tahu akan kekuatan dan kelemahannya dan dengan pimpinan guru dia, terutama murid-murid yang sudah agak besar, akan dapat mempergunakan pengetahuannya itu untuk kemajuan prestasinya.
b) Dipandang dari segi pendidik atau guru
Dengan menilai hail atau kemajuan murid-muridnya, sebenarnya guru tidak hanya menilai hasil usaha muridnya saja tetapi sekaligus dia juga menilai hasil-hasil usahanya sendiri. Penilaian itu adalah untuk:
a. Membantu guru dalam, menilai readiness anak terhadap sesuatu mata pelajaran tertentu,
b. Mengetahui status anak didalam kelasnya,
c. Membantu guru dalam menempatkan murid dalam suatu kelompok pelajar tertentu didalam kelanya; berdasarkan pada kesamaan kesukaran yang dihadapi atau kesamaan kemampuan dalam kecakapan-kecakapan tertentu,
d. Membantu guru didalam usaha memperbaiki metode belajar dan mengajarnya,
e. Membantu guru dalam memberikan pengajaran tambahan atau pengajaran pembinaan.
3) Dasar Administratif
Orang menilai hasil-hasil pendidikan itu juga mempunyai dasar administratif. Dengan adanya penilaian yang rumusannya berwujud rapor itu, maka dapat dipenuhi berbagai kebutuhan administrasi itu yag pokok-pokoknya sebagai berikut;
a) Memberikan data untuk dapat menentukan status anak didik didalam kelasnya, misalnya apakah dia naik kelas atau tidak, apakah dia lulus ujian atau tidak.
b) Memberikan ikhtisar mengenai segala hasil usaha yang dilakukan oleh sesuatu lembaga pendidikan.
c) Merupakan inti laporan tentang murid-murid kepada orang tua atau pejabat pemerintah yag berwenang, guru-guru dan juga murid-muridnya.
D.   Pendekatan Penilaian
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam melakukan penilaian hasil belajar, yaitu penilaian yang mengacu kepada norma (Penilaian Acuan Norma atau norm-referenced assessment) dan penilaian yang mengacu kepada kriteria (Penilaian Acuan Kriteria atau criterion referenced assessment). Perbedaan kedua pendekatan tersebut terletak pada acuan yang dipakai. Pada penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi hasil penilaian peserta didik dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh peserta didik yang dinilai dengan alat penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh peserta didik digunakan sebagai acuan. Sedangkan, penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan, interpretasi hasil penilaian bergantung pada apakah atau sejauh mana seorang peserta didik mencapai atau menguasai kriteria atau patokan yang telah ditentukan. Kriteria atau patokan itu dirumuskan dalam kompetensi atau hasil belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi.
Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan. Dalam hal ini prestasi peserta didik ditentukan oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan suatu kompetensi. Meskipun demikian, kadang kadang dapat digunakan penilaian acuan norma, untuk maksud khusus tertentu sesuai dengan kegunaannya, seperti untuk memilih peserta didik masuk rombongan belajar yang mana, untuk mengelompokkan peserta didik dalam kegiatan belajar, dan untuk menyeleksi peserta didik yang mewakili sekolah dalam lomba antar-sekolah.

E.   Ruang Lingkup Penilaian Hasil Belajar
Hasil belajar peserta didik dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain), yaitu: (1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika - matematika), (2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan (3) domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal).
Sejauh mana masing-masing domain tersebut memberi sumbangan terhadap sukses seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan ? Data hasil penelitian multi kecerdasan menunjukkan bahwa kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika-matematika yang termasuk dalam domain kognitif memiliki kontribusi hanya sebesar 5 %. Kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi yang termasuk domain afektif memberikan kontribusi yang sangat besar yaitu 80 %. Sedangkan kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spatial dan kecerdasan musikal yang termasuk dalam domain psikomotor memberikan sumbangannya sebesar 5 %
Namun, dalam praxis pendidikan di Indonesia yang tercermin dalam proses belajar-mengajar dan penilaian, yang amat dominan ditekankan justru domain kognitif. Domain ini terutama direfleksikan dalam 4 kelompok mata pelajaran, yaitu bahasa, matematika, sains, dan ilmu-ilmu sosial. Domain psikomotor yang terutama direfleksikan dalam mata-mata pelajaran pendidikan jasmani, keterampilan, dan kesenian cenderung disepelekan. Demikian pula, hal ini terjadi pada domain afektif yang terutama direfleksikan dalam mata-mata pelajaran agama dan kewarganegaraan.
F.     Penilaian Hasil Belajar Masing-Masing Kelompok Mata Pelajaran
a.     Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan akhlak nulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui:
a)    Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik.
b)    Ujian, ulangan, dan atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif pesrta didik.
b.    Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknoogi diukur melalui ulangan, penugasan, dan atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi yang dinilai.
c.     Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik.
d.    Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan dilakukan melalui
a)    Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan
b)    Ulangan, dan atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik

 

                                                                           BAB III

PENUTUPAN

A.      Simpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penilaian merupakan sesuatu yang sangat penting dalam dunia pendidikan untuk mengetahuai atau mengukur kemampuan seorang siswa dalam pembelajaran.

B.       Saran
Setiap pendidik hendaknya merencanakan apa yang hendak disampaikan kepada peserta didik supaya proses penyampaian berjalan sesuai dengan prosedur dan hasilnyapun dapat memuaskan sesuai dengan apa yang diharapkan.
 DAFTAR PUSTAKA


http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2179456-pengertian-hasil-belajar-menurut-ahli/#ixzz1blOBTTS4

Wayan N, Sunartana.1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya:Usaha Nasional.

Sudijono, Anas.1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan.Jakarta:PT raja Grafindo

Persada

Jihad, Asep dan Abdul Haris. 2008. Evaluasi Pembelajaran.Yoyakarta: Multri

Presindo

 

 

 

 

 

 

0 Response to "MAKALAH DASAR PENILAIAN DAN PROSES PENDIDIKAN"

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.