Latest Updates

MAKALAH KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU PAUD



BAB I
PENDAHULUAN
 A.      Latar Belakang
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memegang peranan yang sangat penting terhadap tumbuh kembang anak. Bahkan usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Tidaklah berlebihan karena pada usia ini, perkembangan otak sangat pesat hingga mencapai 70-80 persen. Bayi tiga bulan otaknya telah membentuk koneksi yang jumlahnya kurang lebih dua kali orang dewasa sekitar 1.000 trilliun. Bahkan dalam perkembangannya, otak yang selalu diberi stimulus akan semakin memperbanyak dan memperkuat jaringan sel neuronnya dan sebaliknya apabila tidak mendapat stimulus yang baik maka pertumbuhan otak justru bisa berhenti sama sekali.
Program PAUD yang dicanangkan dan digalakkan oleh pemerintah pusat patut kita apresiasi. Dengan segala keterbatasan PAUD terus tumbuh dan berkembang, menjamur bahkan hingga di pelosok-pelosok daerah. Namun pertumbuhan PAUD ini tidak sejalan dengan keterdsediaan SDM baik pengelola maupun tenaga pendidik.
Kementrian Pendidikan RI mencatat saat ini terdapat 252 ribu guru PAUD yang tersebar di penjuru tanah air, dari jumlah ini, hanya 15,7 persen yang memiliki kualifikasi S1 baik dari jurusan PAUD dan jurusan lain yang tidak relevan dengan PAUD. Sementara 24 persen lainnya merupakan tamatan Diploma 2 dan Diploma 3. Sisanya 60,6 persen memiliki kualifikasi pendidikan di bawah D2. Ini berarti layanan pendidikan Anak Usia Dini ditangani oleh SDM yang tidak sesuai dengan kualifikasinya. Bila tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat mengakibatkan proses pembelajaran dan output yang ditargetkan tidak sesuai dengan harapan.
Menurut Muhammad Hamid, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUDNI) hingga tahun  2015  Indonesia masih membutuhkan 727 ribu guru PAUD. Sedangkan Lembaga pendidikan dan Pergurun Tinggi baru bisa menghasilkan 60 ribu guru setiap tahunnya sementara kebutuhan guru PAUD pertahunnya hingga tahun 2015 mencapai 132 ribu guru. Artinya, Indonesia masih kekurangan 664 ribu guru PAUD yang berkomptensi.
Guru yang tidak sesuai dengan kualifikasinya/komptensinya akan mengakibatkan dampak yang tidak baik pada perkembangan PAUD. Pembelajaran di PAUD memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenjang pendidikan setelahnya. Bila guru tidak memiliki  kompetensi di bidang PAUD  tidak menutup kemungkinan akan terjadi mispersepsi dalam pelaksanaan pembelajaran yang dampaknya justru pada perkembangan anak.
Sebagai contoh, saat ini kondisi pembelajaran di PAUD masih berorientasi pada kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Padahal kompetensi tersebut baru diberlakukan pada tingkat Sekolah Dasar. Seharusnya pada usia PAUD kemampuan dasar anak harus dikembangkan secara holistik mulai dari kemampuan sosial-emosional, sains, bahasa dan seni tidak hanya terfokus pada calistung (baca, tulis, hitung).
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang diatas maka penulis merumuskan Rumusan Masalah dalam pembahasa makalah ini sebagai berikut :
·         Standar Kompetensi
·         Sosok Utuh Kompetensi Guru PAUD
·         Kompetensi Kepribadian Guru PAUD

C.      Tujuan Penulisan
Berdasarkan Rumusan Masalah diatas maka Tujuan Penulisan makalah ini sebagai berikut :
·         Untuk Mengetahui Standar Kompetensi
·         Untuk Mengetahui Sosok Utuh Kompetensi Guru PAUD
·         Untuk Mengetahui Kompetensi Kepribadian Guru PAUD
  
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Standar Kompetensi
Sebenarnya apakah seorang guru itu harus profesional? Dalam pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa standar nasional pendidikan yang terdiri atas standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mengisyaratkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesionalisme dalam pendidikan perlu dimaknai bahwa guru haruslah orang yang memiliki instink sebagai pendidik, mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus menguasai secara mendalam minimal satu bidang keilmuan. Guru harus memiliki sikap integritas profesional. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.
Kompetensi guru sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 8 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Keempat kompetensi tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1.      Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, sekurang-kurangnya meliputi (1) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, (2) pemahaman terhadap peserta didik, (3) pengembangan kurikulum/silabus, (4) perancangan pembelajaran, (5) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, (6) pemanfaatan teknologi pembelajaran, (7) evaluasi proses dan hasil belajar, dan (8) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2.      Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup (1) berakhlak mulia, (2) arif dan bijaksana, (3) mantap, (4) berwibawa, (5) stabil, (6) dewasa, (7) jujur, (8) mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, (9) secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan (10) mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.
3.      Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, sekurang-kurangnya meliputi (1) berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat, (2) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional,(3) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik, (4) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku, dan (5) menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan semangat kebersamaan.
4.      Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu, teknologi, dan/atau seni yang sekurang-kurang meliputi penguasaan (1) materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampunya, dan (2) konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampu.
Keempat kompetensi tersebut di atas bersifat holistik dan integratif dalam kinerja guru. Oleh karena itu, secara utuh sosok kompetensi guru meliputi (a) pengenalan peserta didik secara mendalam; (b) penguasaan bidang studi baik disiplin ilmu (diciplinary content) maupun bahan ajar dalam kurikulum sekolah (pedagogical content); (c) penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, serta tindak lanjut untuk perbaikan dan pengayaan; dan (d) pengembangan kepribadian dan profesionalitas secara berkelanjutan.
Pasal 7 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 menyatakan bahwa profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:
a.       memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
b.      memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;
c.       memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;
d.      memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
e.       memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
f.       memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;
g.      memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;
h.      memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan
i.        memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.
Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:
a.       Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
b.      Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
c.       Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
d.      Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan
e.       Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. Standar kompetensi guru mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru PAUD/TK/RA, guru kelas SD/MI, dan guru mata pelajaran pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK.
Ada beberapa pengertian tentang kompetensi yang dimiliki oleh seseorang. Kompetensi dapat diartikan semua karakter yang bisa meramalkan keberhasilan seseorang. Ada juga yang mengartikan bahwa kompetensi adalah kemampuan yang berkesesuaian dengan bidang kerja, di dalamnya bisa termuat pengetahuan, keterampilan, sifat, sikap/attitude, dan sebagainya.
Dalam UU nomor 14 tahun 2005, disebutkan pada pasal 1 ayat 10 tentang kompetensi seorang guru yaitu seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Jika seorang guru ingin mencapai sebuah keberhasilan, maka ada beberapa kemampuan yang sepatutnya dimiliki oleh setiap guru yang sudah tentu berkesesuaian dengan bidang kerjanya. Berikut akan dijelaskan tentang kualifikasi akademik dan beberapa kompetensi utama tersebut.

B.       Sosok Utuh Kompetensi Guru PAUD
Sebagaimana guru pada jenjang pendidikan yang lain, sosok utuh kompetensi profesional guru PAUD secara keseluruhan meliputi :
1)    Mengenal peserta didik dan profil perkembangan fisik dan psikisnya secara mendalam;
2)    Menguasasi konsep dasar pendidikan anak usia dini dan dasar-dasar ilmu terkait;
3)    Mampu menyelenggarakan kegiatan yang memicu pertumbuh-kembangan peserta didik sebagai pribadi yang utuh, yang meliputi kemampuan berikut:
a)  Merancang kegiatan yang memicu perkembangan peserta didik;
b)  Mengimplementasikan kegiatan yang memicu perkembangan peserta didik;
c)  Menilai proses dan hasil kegiatan yang memicu perkembangan peserta didik;
d) Melakukan perbaikan secara berkelanjutan berdasarkan hasil penilaian terhadap proses dan hasil kegiatan yang memicu perkembangan peserta didik; dan
e)  Mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan.
C.      Kompetensi Kepribadian Guru PAUD
Standar kemampuan yang diperlukan untukmenggambarkan kualifikasi seseorang baik secara kualitatif dalam pelaksanaan tygasnya dikenal dengan istilah competentensi. Kompetensi di dalam organisasi pendidikan mengandung unsur-unsur:
·         Attitude
·         Value
·         Personality
Kompetensi kepribadian berkaitan dengan perilaku guru dengan falsafah hidup. Banyak masalah psikologi yang dihadapi peserta didik dalam proses KBM, maka peran guru dalam hal ini sebagai pembimbing dan seri teladan
 Menurut Ki Hajar Dewantoro dalam sistem “Among” guru adalah panutan yang digugu dan ditiru.
Dalam melihat diri sendiri, guru berpedoman pada:
o Self concept
o Self idea
o Self reality
Guru senantiasa berhadapan dengan komunitas yang berbeda maka diperlukan kompetensi kepribadian guru yang toleran dan tenggang rasa
 Salah satu kompetensi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran adalah dengan menghayati dinamika organisasi pendidikan.
Kemampuan guru dalam mengembangkan dirinya disesuaikan dengan perubahan dalam bidang profesi dan spesialisasinya. Guru bersama-sama peserta didik dapat membangkitkan inisiatif untuk berkreasi dalam proses belajar, merupakan salah satu fungsi guru dalam system Among dikenal dengan “Ing madyo mangun kaso”
Kompetensi guru PAUD diantaranya kompetensi kepribadian, yakni bersikap dan berperilaku sesuai dengan kebutuhan psikologis anak, kemudian
Berprilaku sesuai dengan norma agama budaya dan keyakinan anak, dan menampilkan diri sebagai pribadi berbudi pekerti luhur.
Kompetensi kepribadian merupakan sejumlah kompetensi yang berhubungan dengankemampuan pribadi dengan segala karakteristik yang mendukung terhadap pelaksanaan tugas guru. Beberapa kompetensi kepribadian guru antara lain sebagai berikut.
1.  Beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
2.  Percaya kepada diri sendiri.
3.  Tenggang rasa dan toleran.
4.  Bersikap terbuka dan demokratis.
5.  Sabar dalam menjalani profesi keguruannya.
6.  Mengembangkan diri bagi kemajuan profesinya.
7.  Memahami tujuan pendidikan.
8.  Mampu menjalin hubungan insani.
9.  Memahami kelebihan dan kekurangan diri.
10.Kreatif dan inovatif dalam berkarya
Kompetensi yang berkaitan dengan terbangunnya konsep diri positif pada diri seorang guru sehingga bisa menjadi model ataupun contoh yang baik bagi anak didiknya. Seperti sifat terpuji, cara berbicara, berpakaian, dan sebagainya. Dapat pula kita sebutkan sebagai pengembangan attitude.
Banyak ahli yang sependapat bahwa attitude sering kali lebih berperan dalam pencapaian kesuksesan seseorang di bidangnya. Karena kecerdasan, kemampuan, wawasan, keterampilan atau keahlian seseorang tidak menjadi berarti apabila individu tersebut tidak memiliki sikap/attitude yang baik.
Selain pengembangan sikap terpuji dan yang patut ditauladani, seorang guru juga perlu untuk memiliki konsep diri yang positif. Mengetahui kekuatan/keunggulan serta kekurangan pada dirinya. Penilaian secara objektif terhadap diri sendiri akan memberikan dampak positif bagi pengembangan konsep diri seseorang.
Mengenali keunggulan dalam diri kita secara jujur dan objektif bukan berarti harus dikatakan ‘menyombongkan’ diri, tetapi sebaiknya bisa berdampak pada peningkatan rasa syukur kita atas karunia Tuhan yang diberikan kepada kita. Demikian sebaliknya, bila kita memahami segala kekurangan pada diri sendiri, bukan berarti menjadi individu yang rendah diri melainkan berbuat banyak hal sehingga bisa meminimalisir segala kekurangan.
  
BAB III
PENUTUP

A.      Simpulan
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan seseorang yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan beraklak mulia.
Guru yang telah memiliki kompetensi kepribadian seperti di atas, pasti dapat melakukan tuntutan profesi dengan baik pula. Ia akan bangga menjadi guru dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma hukum, agama, maupun sosial. Guru tersebut juga mampu menunjukkan kemandirian sebagai pendidik dan memiliki etos kerja yang tinggi. Jika ada guru yang tidak bangga terhadap profesinya, orang tersebut tidak akan maju dan berkembang.
Guru yang memiliki kepribadian mantap juga mampu melakukan kinerja yang bermanfaat bagi peserta didik, sekolah, dan masyarakat. Guru tersebut mampu menunjukkan kedewasaan dalam berfikir dan bertindak sehingga produk kinerjanya dapat dikontrol dan dievaluasi lebih lanjut.
B.       Saran
Oleh karena itu, guru disyaratkan memenuhi kualifikasi akademik minimal sarjana S1 /D4 yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran. Jadi, tidak heran kalau akhir-akhir ini banyak guru yang berlomba-lomba untuk melanjutkan kuliahnya. Rita berharap bahwa inisiatif guru untuk melanjutkan kuliah bukan sekadar untuk mendapat ijazah atau sertifikasi saja, tetapi lebih kepada peningkatkan kompetensi sebagai pendidik profesional.
Selain tuntutan akademik, banyak tugas yang harus dilaksanakan oleh guru dalam dunia pendidikan. Salah satunya adalah peran guru sebagai agen pembelajaran. Guru sebagai agen pembelajaran berperan memfasilitasi siswa agar dapat belajar secara nyaman dan berhasil menguasai kompetensi yang sudah ditentukan. Untuk itu, guru perlu merancang agar proses pembelajaran berjalan lancar dengan hasil optimal.


DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/62465835/Kode-Etik-Keguruan-Paud
http://endang965.wordpress.com/peraturan-diknas/standar-akademik-guru/
http://www.rosyid.info/2009/10/kompetensi-kepribadian-sosial-dan.html
http://consultant-academic-specialist.blogspot.com/2011/01/kompetensi-guru-paud.html
http://requestartikel.com/guru-sebagai-agen-pembelajaran-201103861.html

0 Response to "MAKALAH KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU PAUD"

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.