Latest Updates

MAKALAH MANAJEMEN PAUD

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu upaya memaksimalkan bakat, potensi, kecerdasan, dankreativitas anak ialah dengan menyertakannya dalam kegiatan sekolah usia diniatau PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini ). Sedini mungkin anak diasah untuk  bersikap disiplin, bertanggung jawab, berjiwa sosial, kreatif, inovaif, penuhdedikasi, menjalankan program dll. Dengan metode yang tepat, kurikulum bagusdan lembaga bonafid niscaya anak akan lebih mampu bekembang pesat dibandingmereka yang tidak diasah melalui program PAUD tersebut.
Namun tidak semua lembaga penyelenggara PAUD mulai jenjangPreSchool, Play Group, dan TK mampu menyediakan metode, sarana, dan fasilitas penunjang kesuksesan pendidikan usia dini tersebut. Untuk itulah, para orang tuaharus mampu menentukan secara strategis lembaga yang dipilihnya. Demikian pula para penyelenggara harus mampu memperbaiki segala kekurangan yangmenghambat tujuan utama PAUD tersebut karena anak-anak usia dini yang identik dengan kegiatan bermain menjadi fase yang sangat menentukan perjalanan hidup manusia. Sehingga, merencanakan dan melaksanakan pendidikan pada usia diniini menjadi sebuah keniscayaan yang tidak boleh disepelekan dan ditelantarkan.
Jika hal ini tidak diperhatikan, masa depan kualitas generasi penerus bangsa akansemakin mundur, kalah jauh dibanding negara-negara lain yang selalu sigap dancepat mempersiapkan kader-kader andalnya di era kompetisi global sekarang. Negara ini tidak boleh lagi kecolongan dan ketinggalan. Pendidikan anak usia dini harus segera didirikan dan dikelola secara profesional di seluruh pelosok negeri ini. PAUD ini menjadi solusi terbaik pembentukan moral, agama, emosi,sosial, dan spirit kompetisi. Dengan PAUD, fase perkembangan anak akan berjalan secara fungsional dan produktif sehingga membentuk karakter yang kuat,kokoh dan progresif.
B.     Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini, rumusan masalah yang diajukan adalah:
•Bagaimana sistem kelembagaan pada PAUD ?
•Bagaimana metode pengajaran ?
•Apa kurikulum yang dipakai ?
•Keterampilan apa saja yang diberikan di PAUD ?
•Pelatihan-pelatihan apa saja yang ada di PAUD ?

C.    Tujuan
Dalam penyusunan makalah ini, tujuannya adalah:
•Bagaimana sistem kelembagaan pada PAUD ?
•Bagaimana metode pengajaran ?
•Apa kurikulum yang dipakai ?
•Keterampilan apa saja yang diberikan di PAUD ?
•Pelatihan-pelatihan apa saja yang ada di PAUD ?
 BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kelembagaan
Mengelola pendidikan bukanlah mengelola sebuah tempat usaha barang, melainkan mengelola sumber daya manusia yang memiliki keunikan-keunikan masing-masing. Untuk itu,dibutuhkan formula yang tepat dalam mengatur segala permasalahan manejemen pendidikan anak usia dini (PAUD). Ada beberapa model penataan kelembagaan yang konvensional. Karena iu kita harus mencari modelyang paling tepat agar PAUD bisa berkembang dengan baik. Model manejemenkelembagaan tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
       Pengelolaan PAUD selama ini terlalu banyak seninya disbanding dengan ilmunya sehingga gaya manejemen yang dilakukan lebih bersifat trial and error.
       Penerapan manajemen “gotong royong “ artinya semua orang melakukan semua pekerjaan. Tidak ada pembagian kerja yang tegas dan jelas.Sehingga proses manajemen tidak berlangsung secara efektif dan efisien.
       Bahkan sering terjadi benturan antara satu unit dengan unit lainnya. Inilah yang menyebabkan pendayagunaan sumber daya organisasi tidak secara sinergis dan banyak pemborosan. Dalam hal ini yang terjadi adalah sama-sama bekerja bukan kerja sama.
       Gaya manajemen tukang cukur yaitu satu orang melakukan semua pekerjaan, mulai dari membuka kios, menyapu, memotong rambut, menutupkios dan mengelola keuangan sekaligus. Dalam organisasi banyak orang yangmerasa dirinya mampu dalam segala hal dan tidak memberikan porsi pekerjaankepada orang lain. Akibatnya organisasi yang semestinya dapat menjalankan beban pekerjaan yang lebih banyak justru tidak dapat melakukan pekerjaankarena tersentralisasi di tangan beberapa orang saja sedang yang lain justrukurang pekerjaan.
       Penerapan manajemen “sungkanisme” yaitu suatu manajemenyang tidak asertif. Budaya sungkan (segan) menegur kesalahan teman dan budaya marah kalau ditegur teman membuat organisasi berjalan tak tentu arah,sehingga tidak bisa mencapai tujuan yang dikehendaki.Empat model manajemen tersebut memiliki banyak kekurangan. Tidak ada aspek struktural, job description, koordinasi, evaluasi dan proyeksi ke depan. Dalamkonteks ini dibutuhkan model manajemen yang lebih dinamis, progresif, danmempunyai unsur pemberdayaan dan penguatan. Disinilah pentingnya manajemen partisipatif yang mengedepankan kolektivitas, teamwork, soliditas dan kualitaskinerja.

B.     Metode Pengajaran
Mengajar anak usia dini membutuhkan metodologi yang unik dan kreatif. Disinilahsignifikansi dan urgensi peran seorang guru dalam mendidik dan menggali potensianak didik. Menurut Rini Utami Aziz, pendidik harus memiliki kualifikasiakademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani,serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dalam pasal 29, pendidik pada pendidikan anak usia dini harus diploma (D-IV) atausarjana (S1) latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan anak usia dini,kependidikan lain, atau psikologi dan sertifikat profesi guru untuk PAUD.
Kualitas pendidik sangat menentukan hasil pembelajaran yang dicapai. Kegagalandan kesuksesan pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas tenaga pengajar yangmenguasai materi, metodologi pengajaran dan skills yang profesional.
Tahapan mengajar anak usia dini
Walaupun pendidikan berlangsung sepanjang hayat namun menurut MariaMontessori, enam tahun pertama masa anak adalah jangka waktu yang paling penting bagi perkembangannya. Tahun prasekolah menjadi masa anak membinakepribadian mereka. Karenanya setiap usaha yang di rancang untuk mengembangkan minat dan potensi anak harus dilakukan pada awal ini untuk membimbing anak menjadi diri mereka dengan segala kelebihannya. Orang tua dan pendidik harus dapat membantu anak menyadari dan merealisasikan potensi anak untuk menimba ilmu pengetahuan, bakat, dan kepribadian yang utuh.Selain tawaran beberapa metode di atas ada beberapa etode pengajaran lain yanglayak dipertimbangkan untuk mencapai hasil maksimal dalam pengajaran anak usiadini yaitu :
   Metode Global (Ganze Method)Anak belajar membuat suatu kesimpulan dengan kalimatnya sendiri. Contohnyaketika membaca buku, minta anak menceritakan kembali dengan rangkaiankatanya sendiri. Sehingga informasi yang anak peroleh dari hasil belajar sendiriakan dapat diserap lebih lama. Dengan demikian anak akan terlatih berpikir kreatif dan berinisiatif.
   Metode Percobaan (Experimental method)Metode pengajaran ini mendorong dan memberi kesempatan anak melakukan percobaan sendiri. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Maryam, staf pengajar di Sekolah Alam Ciganjur, Jakarta Selatan yang menyatakan bahwa terdapattiga tahapan yang dilakukan anak untuk memudahkan masuknya informasiyaitu mendengar, menulis atau menggambar lalu melihat dan melakukan percobaan sendiri. Misalnya anak belajar tentang tanaman piang, lalu belajar menanamnya.
   Metode Learning by doingMenurut Nazhori Author, sabda Rasulullah yang berbunyi “ sholatlah kamuseperti kamu lihat aku sholat “ adalah sebuah bukti bahwa proses belajar mengajar sudah berlangsung sejak zaman Rasululla sebagai fondasi awal dalam pendidikan Islam. Sabda tersebut juga mengandung unsur pedagogis dimana bahasa nonverbal yang disampaikan Rasulullah sampai saat ini masih menjadi bumbu penyedap dalam melengkapi meteode pengajaran. Artinya bahasanonverbal memegang peranan dalam proses belajar mengajar. Bahkan bahasanonverbal banyak dgunakan taman kanak-kanak atau kelompok bermain (playgroup) yang banyak mengadopsi model belajar kindergarten nya froebel danmodel belajar Casa Dei Bambini nya Montessori.
   Metode Home Schooling GroupRumah merupakan lingkungan terdekat anak dan tempat belajar yang paling baik buat anak. Di rumah, anak bisa belajar selaras dengan keinginannyasendiri. Ia tak perlu duduk menunggu sampai bel berbunyi, tidak perlu harus bersaing dengan anak-anak yang lain, tidak perlu harus ketakutan menjawabsalah di depan kelas dan bisa langsung mendapatkan penghargaan atau pembetulan jika membuat kesalahan. Disinilah peran ibu menjadi sangat penting karena tugas utama ibu adalah pengatur rumah tangga dan pendidik anak. Di dalam rumah banyak sekali sarana-sarana yang bisa dipakai untuk  pembelajaran anak. Anak dapat belajar banyak sekali konsep tentang benda,warna, bentuk dan sebagainya sembari ibu memasak di dapur
 Pembelajaran BilingualSatu pertanyaan yang muncul sebagai tanggapan terhadap kecenderungan pengajaran bahasa inggris pada anak-anak adalah sebagai berikut “ sudah perlukah bahasa inggris diajarkan pada anak-anak ?” Pertanyaan ini tampaknyamudah diajukan. Jawaban terhadap pertanyaan ini bisa sederhana namun bisa juga memerlukan penjelasan panjang lebar, bahkan pertanyaan yang sederhanatersebut dapat memunculkan kontroversi yang berkepanjangan. Setidaknya adatiga alasan mengapa anak-anak perlu mempelajari bahasa inggris pada usiadini. Alasan pertama adalah tuntutan pragmatis. Tidak dapat dipungkiri bahwasaat ini tembok pembatas geografis antar wilayah atau bahkan antar negarasudah mulai runtuh, berguguran satu persatu akibat globalisasi. Perkembanganteknologi komunikasi dan informasi tampaknya merupakan salah satu faktor yang bertanggung jawab atas semakin terbukanya hubungan antar manusia pada era global ini. Dampak yang segera kita amati dengan runtuhnya tembok pembatas tersebut ialah semakin mudahnya satu individu, bahkan antar bangsadi tempat yang berbeda dan berada di belahan dunia yang lain berhubungandengan individu lainnya pada waktu yang sesungguhnya (real time).Alasan kedua merujuk pada alasan legal formal dan kesepakatan internasional.Undang-undang Dasar 1945 memberikan amanar kepada pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. UU No 23 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran guna pengembangan kepribadiannya dankecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.Alasan yang ketiga adalah konseptual. Brumfit (1991 : 11-12) menyatakanargumentasinya terkait dengan faktor usia muda bahwa tidak ada alasan kuatdalam pembelajaran anak-anak untuk tidak mengajarkan bahasa kedua padamereka. Setidaknya ada empat faktor yang ia rujuk untuk mendasariargumentasinya tersebut. Tiga faktor pertama tampaknya elevan untuk dibahas.Faktor pertama adalah proses pematangan. Proses pematangan ini tampaknyalebih berpihak pada pembelajar bahasa usia muda seorang anak belajar bahasasemakin mudah ia akan menguasai bahasa tersebut. Faktor kedua yang berperan penting pada anak-anak dalam mempelajari bahasa adalah emosi dan perasaan.Brown (1994: 135-152) mereview beberapa faktor yang terkait dengan faktor afektif dalam pembelajaran bahasa. Faktor-faktor tersebut adalah self esteem,inhibition, risk taking, anxiety, empathy, extroversion dan motivation. Padafaktor tersebut anak-anak cenderung memiliki nilai yang lebih positif dibanding pembelajaran dewasa. Misalnya anak-anak tidak memiliki beban mental yang berlebihan saat mempelajari bahasa asing, ketakutan membuat kesalahanrendah, dan siswa memiliki keiinginan yang lebih baik untuk mempelajari hal-hal baru lewat bahasa asing.Faktor ketiga adalah lingkungan. Anak-anak cenderung memiliki peluang yanglebih baik dalam mengintegrasikan kebutuhan komunikasi yang sesungguhnyadengan pengalaman kebahasaan barunya. Maksudnya dalam usia yang ditandaidengan eksplorasi terhadap lingkungannya, anak-anak lebih memiliki peluangyang lebih baik dalam menggunakan bahasa secara alami untuk mempresentasikan pemahamannya terhadap lingkungannya. Oleh karena itukebutuhan berkomunikasi anak-anak dengan dengan menggunakan bahasadalam lingkungan sekitarnya lebih terakomodasi secara luas dan alami.
C.    Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan belajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum adalah inti sebuah lembaga pendidikan. Kurikulum yang benar akan menghasilkan pengajaran dan kegiatan yang terpadu dan holistik yang mengarah kepada visi danmisi lembaga pendidikan yang dicanangkan. Disinilah pentingnya menyusunkurikulum yang visioner dan prospektif.Sehubungan dengan ciri-ciri di atas, tugas perkembangan yang di emban anak-anak adalah sebagai berikut :
  Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain
  Membangun sikap yang sehat terhadap diri sendiri
  Belajar menyesuaikan diri dengan teman sebayanya
  Mengembangkan peran sosial sebagai lelaki atau perempuan
  Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan dalam hidupsehari-hari
  Mengembangkan hati nurani penghayatan moral, dan sopan santun
  Mengembangkan keterampilan dasar untuk membaca, menulis,matematika dan berhitung
  Mengembangkan diri untuk mencapai kemerdekaan diriDalam pengembangan kurikulum ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan :
   Bersifat komprehensif. Kurikulum harus menyediakan pengalaman belajar yang meningkatkan pekembangan anak secara menyeluruhdalam berbagai aspek perkembangan
Dikembangkan atas dasar pekembangan secara bertahap.Kurikulum harus menyediakan berbagai kegiatan dan interaksi yang tepatdidasarkan pada usia dan tahapan perkembangan setiap anak
  Melibatkan orang tua sebagai pendidik utama bagi anak
  Melayani kebutuhan individu anak
  Merefleksikan kebutuhan dan nilai masyarakat
  Mengembangkan standar kompetensi anak
Mewadahi layanan anak yang memiliki kebutuhan khusus
  Menjalin kemitraan dengan keluarga dan masyarakat
  Memperhatikan kesehatan dan keselamatan anak
  Menjabarkan prosedur pengelolaan lembaga
  Memanejemen sumber daya manusia
  Penyediaan sarana dan prasarana Komponen Kurikulum
a.Anak Sasaran layanan pendidikan anak usia dini adalah anak yang berada padarentang usia 0-6 tahun. Pengelompokkan anak didasarkan pada usia sebagai berikut :1.0-1 tahun2.1-2 tahun3.2-3 tahun4.3-4 tahun5.4-5 tahun6.5-6 tahun
b.Pendidik Kompetensi pendidik anak usia dini memiliki kualifikasi akademik sekurang-kurangnya Diploma Empat (D-IV) atau sarjana (S-1) di bidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi dan memiliki sertifikasi profesi guruPAUD atau sekurang-kurangnya telah mendapatkan pelatihan pendidikan anak usia dini. Adapun rasio pendidik dan anak adalah sebagai berikut :1.Usia 0-1 tahun rasio 1:3 anak 2.Usia 1-3 tahun rasio 1:6 anak 3.Usia 3-4 tahun rasio 1:8 anak 4.Usia 4-6 tahun rasio 1:10/12 anak
c. Pembelajaran Pembelajaran dilakukan melalui kegiatan bermain yang dipersiapkan oleh pendidik dengan menyiapkan materi (content) dan proses belajar. Materi belajar  bagi anak usia dini dibagi dalam dua kelompok usia. Materi usia lahir sampai 3tahun meliputi :
   Pengenalan diri sendiri (perkembangan konsep diri)
2Pengenalan perasaan (perkembangan emosi)
PPengenalan tentang orang lain (perkembangan sosial)
  Pengenalan berbagai gerak (perkembangan fisik)
5Mengembangkan komunikasi (perkembangan bahasa)
   Keterampilan berpikir (perkembangan kognitif)
d.Penilaian (Assessment)Assessment adalah proses pengumpulan data, dokumentasi belajar, dan perkembangan anak. Assessment dilakukan melalui observasi , konferensidengan para guru, survei, wawancara dengan orang tua, hasil kerja anak danunjuk kerja. Keseluruhan penilaian dapat dibuat dalam bentuk portofolio.
e.Pengelolaan PembelajaranLembaga pendidikan anak usia dini dilaksanakan sesuai satuan pendidikanmasing-masing. Jumlah hari dan jam layanan antara lain sebagai berikut :
Ø  Taman Penitipan Anak (TPA) dilaksanakan 3-5 hari dengan jam layananminimal 6 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144-160 hari atau 32-3minggu
Ø  Kelompok Bermain (KB) dilaksanakan setiap hari atau minimal 3 kaliseminggu dengan jumlah jam minimal 3 jam. Minimal layanan dalam satutahun 144-hari 32-34 minggu
Ø  Satuan PAUD sejenis (SPS) dilaksanakan minimal satu minggu sekalidengan jam layanan minimal 2 jam.
Ø  Taman Kanak-kanak (TK) dilaksanakan minimal 5 hari setiap minggudengan jam layanan minimal 2,5 jam.
f.Melibatkan Peran MasyarakatPelaksanaan pendidikan anak usia dini hendaknya dapat melibatkan seluruhkomponen masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan anak usai dini dapatdilakukan oleh swasta dan pemerintah, yayasan maupun perorangan.
Penilaian Kurikulum Evaluasi / penilaian adalah suatu analisis yang sistematis untuk melihat efektivitas program yang diberikan dan pengaruh program tersebut terhadap anak. Penilaian kurikulum dilakukan secara berkala dan berkesinambungan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Penilaian kurikulum dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakurikulum dilaksanakan dan kesesuainnya dengan kerangka dasar fungsi dan tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan tuntutan perkembangan yang terjadidi masyarakat. Hasil penilaian kurikulum digunakan untuk menyempurnakan pelaksanaan dan mengembangkan kurikulum selanjutnya.Kurikulum dan pengembangannya, sebagaimana keterangan di atas, harusdijadikan standar pembelajaran PAUD agar ada standar minimal kualitas yang dicapai. Adapun dinamisasi dan optimalisasi menuju akselerasi kualitas sangat ditentukan oleh profesionalitas manajemen yang mengandalkan ide-ide progresif dari struktur yang diisi kader-kader berkualitas.
 D.Ketrampilan
Keterampilan yang seharusnya dikuasai anak-anak peserta PAUD adalah keterampilan melukis, menggambar, memainkan permainan edukatif, mengenalikemampuan terbesarnya dan lain-lain dengan latihan intensif. Keterampilan-keterampilan ini bisa berkembang sesuai dengan perkembangan potensi anak didik yang ada, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan pesatnya gelombanginformasi yang berjalan secara massif dan eskalatif. Dalam konteks ini, guru berperan aktif mengembangkan ketrampilan anak didik secara maksimal,mempunyai tips-tips dengan bakat dan minatnya.Fisilitas, sarana prasarana dan perangkat yang lain harus disiapkan demi suksesnya pendidikan keterampilan anak usia dini. Dengan sarana prasarana yang memadai,anak tertarik untuk mencoba sampai bisa, mengingat watak dasar anak adalahmeniru dan melakukan apa saja yang disenanginya. Salah satu keterampilan yangseharusnya dikuasai anak usia dini adalah keterampilan musik yang membangun jiwa,emosi, spiritual dan sosial bukan yang merusak.Menurut Sugiman, beberapa psikolog melihat bahwa pengaruh positf musik padamanusia tidak semudah analogi obat atas penyakit tertentu. Dr Alexandra Lemont(2000), pakar psikologi musik dari Universitas Keele di Inggris mengatakan tidak ada bukti yang menyatakan bahwa hanya dengan mendengarkan musik dapatmemberikan pengaruh pada kecerdasan maupun emosi anak.Beberapa fakta menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dengan musikal lah yangmenyebabkan musik mempunyai pengaruh positif bagi manusia. Aktif di sini tidak hanya bermakna fisikal atau motorik tetapi juga secara mental, emosional dan spiritual. Memberi makna dan nilai musik sebagai suatu hal yang berharga, bermanfaat dan menyenangkan. Musik tidak sekedar dipandang sebagai suaturangkaian bunyi yang harus dimainkan atau didengarkan namun juga rangkaian bunyi indah yang jika disimak lebih mendalam bisa menyampaikan sesuatu yang berharga kepada seseorang.
E.Pelatihan
Manajemen PAUD yang terdiri dari kelembagaan, metode pengajaran dankurikulum adalah hal-hal yang harus dipahami, baik secara teoritis dan praktis, oleh pengelola PAUD dan orang-orang yan terkait di dalamnya. Untuk itu dibutuhkan pelatihan-pelatihan secara intensif dan eksensif bagi calon pengelola PAUD agar materi dasar manajemen kelembagaan, metode pengajaran, dan kurikulum dapatdipahami secara mendalam. Pelatihan ini harus dirancang secara sistematis, efisiendan efektif dengan jadwal yang tepat dan produktif. Secara tekhnis pelatihan inimembutuhkan narasumber yan berkualitas baik dari akademisi, birokrat maupun praktisi, tips-tips khusus aplikasi dan implementasi nya serta simulasi dan praktik langsung.Menurut Dr. Fidesrinur M.Pd, profesionalisme pendidik PAUD harus ditingkatkanmelalui pelatihan-pelatihan, insentif atau penghargaan dari pemerintah sehinggaeksistensi pendidik PAUD dihargai dan diterima masyarakat. Pelatihan yang harusdilakukan dan diterima masyarakat. Pelatihan yang harus dilakukan oleh NationalEarly Childhood Specialist Team (NEST) yang diprogramkan oleh Depdiknas pada bulan maret 2007 lalu di sembilan kecamatan di daerah jakarta barat merupakansalah satu cara efektif dalam meningkatkan eksistensi pendidik PAUD.Cara lain untuk memberikan penyegaran pada pendidik PAUD adalah dengan kerjasama Diknas dengan universitas atau sekolah tinggi yang memiliki program studiPAUD. Selain untuk mempersiapkan calon tutor PAUD telatih, pelatihandiselenggarakan juga untuk menyadarkan dan meyakinkan masyarakat akan pentingnya menyelenggarakan program pendidikan anak usia dini denganmelibatkan masyarakat setempat. Setelah mengikuti pelatihan ini, para pesertadiharapkan mampu dan siap menjadi tutor PAUD dan daat menyelenggarakan pendidikan anak usia dini dengan tepat dan benar sesuai dengan kebutuhan dankondisi setempat.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Salah satu upaya memaksimalkan bakat, potensi, kecerdasan, dankreativitas anak ialah dengan menyertakannya dalam kegiatan sekolah usia diniatau PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini ). Sedini mungkin anak diasah untuk  bersikap disiplin, bertanggung jawab, berjiwa sosial, kreatif, inovaif, penuhdedikasi, menjalankan program dll. Dengan metode yang tepat, kurikulum bagusdan lembaga bonafid niscaya anak akan lebih mampu bekembang pesat dibandingmereka yang tidak diasah melalui program PAUD tersebut.
B.     Saran
Dalam hal ini penulis menyarankan agar pemerintah meningkatkan perannya dalam pendidikan anak usia dini, baik dari pendanaan, perekrutan tutor yang sesuai dengan kualifikasi maupun membuka ruang seluas-luasnya kepadamasayarakat untuk mengembangkan PAUD yang sesuai dengan kondisi dankebutuhan masyarakatnya.

DAFTAR PUSTAKA

•Asmani , Jamal Ma’mur. 2009.
Manajemen Strategis Pendidikan Anak Usia Dini .Jogjakarta : DIVA Press
•Baraja, Abu Bakar. 2006 .Mendidik Anak Dengan Teladan . Jakarta : Studia Press
• http://welcomeatdegaltar.blogspot.com/2010/05/manajemen-kurikulum- pendidikan-anak.html

0 Response to "MAKALAH MANAJEMEN PAUD"

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.