Latest Updates

MAKALAH PJKR "KONSEP PUASA DALAM KAJIAN TEOLOGIS, PSIKOLOGIS DAN SOSIOLOGIS"



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Melaksanakan Puasa merupakan sarana pembinaan bagi setiap muslim untuk membina dirinya, di mana masing-masing individu mengerjakan amalan yang dapat memperbaiki jiwa, meninggikan derajat, memotivasi untuk mendapatkan hal-hal yang terpuji dan menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak. Juga memperkuat kemauan, meluruskan kehendak, memperbaiki fisik, menyembuhkan penyakit, serta mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya. Dengannya pula berbagai macam dosa dan kesalahan akan diampuni, berbagai kebaikan akan semakin bertambah, dan kedudukan pun akan semakin tinggi.
Puasa merupakan sarana paling tangguh untuk membantu memerangi hawa nafsu serta menekan nafsu syahwat sekaligus sebagai sarana pensucian jiwa dan pemberhentiannya pada batas-batas Allah Ta’ala,
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis mencoba merumuskan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
·         Kajian Puasa Secara Teologis
·         Kajian Puasa Secara Sosiologis
·         Kajian Puasa Secara Psikologis
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
·         Untuk Mengetahui Kajian Puasa Secara Teologis
·         Untuk Mengetahui Kajian Puasa Secara Sosiologis
·         Untuk Mengetahui Kajian Puasa Secara Psikologis

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kajian Puasa Secara Teologis
Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, dengan ibadah puasa diharapkan kita menjadi orang yang takwa (QS.2:183). Ini berarti, dengan puasa manusia akan mampu menggapai derajat tertinggi kemanusiaan. Karena itu, ibadah puasa oleh Nabi SAW dipandang lebih berat dari perang mana pun yang telah dan mungkin bakal terjadi di dunia ini. "Kita baru saja kembali dari perang kecil (Badar) dan akan menuju perang yang terbesar, yaitu melawan hawa nafsu (puasa)", demikian penegasan Nabi SAW di hadapan prajuritnya.
Dimensi teologis puasa, secara implisit, dinyatakan dalam sebuah Hadis, bahwa dari sekian banyak amal ibadah anak Adam, ibadah puasalah yang segala rahasianya hanya Tuhan sendiri yang tahu. Di sini terlihat adanya prinsip dualitas, antara al-Khalik (Pencipta) dan makhluk, antara yang memiliki otoritas absolut untuk memerintah dengan yang berkewajiban menaati.
Di sisi lain, seruan puasa kepada orang-orang beriman (QS.2:183), mengandung implikasi, hanya orang beriman yang akan sanggup menempatkan prinsip dualitas itu pada proporsi sebenarnya. Sebab, iman sebagai sebuah epistemologi (bukan kepercayaan an-sich) akan memberi kemampuan kepada siapa pun yang secara maksimal berusaha meningkatkan daya nalarnya menuju al-Khalik. Orang semacam ini, menurut bapak filsafat modern, Rene Descartes, bukan hanya akan mampu melihat jiwa di dalam dirinya, tetapi juga hakikat Tuhannya.
Jika demikian, takwa sebagai terminal akhir ibadah puasa, hanya akan memiliki dimensi ruang dan waktu proses dalam diri orang-orang yang mampu meningkatkan daya nalarnya. Satu hal yang perlu ditegaskan, takwa bukanlah takut kepada Tuhan, sebab Tuhan dalam Islam bukan sesuatu yang menakutkan atau perlu ditakuti. Sebaliknya, citra Tuhan dalam Islam adalah Dia yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, Pemberi Maaf, Pemelihara, dan Pelindung manusia.

  2.2 Kajian Puasa Secara Sosiologis
Sejarah telah mencatat bahwa Ramadhan adalah titik balik perubahan manusia baik secara sosial, ekonomi, sosiologis dan budaya. Pencerahan spiritual ini diperoleh Nabi Muhammad dlm peristiwa Gua Hira dan telah mampu merombak tatanan sosial dlm kurun waktu 22 tahun, yakni kehidupan sosial yang egaliter dan menjunjung nilai keadilan.
Dalam kehidupan kita tentunya ada perubahan dalam nuansa religius lahir dan bathin. Kewajiban esensial puasa ini harus dirasakan makna tersirat dari ibadah yg kita lakukan yakni menjadi Insan Muttaqin. Dimensi Muttaqin ini harus berefek pada kesalehan individu dan sosial untuk menstranformasikan nilai dari makna ketaqwaan sebagai motivasi kesadaran beragama.
Kesalehan sosial ini tidak hanya ditandai dengan rukuk dan sujud, tetapi cucuran keringat praktis kehidupan sehari-hari sesuai dengan Firman Allah Q.S. Albaqarah 208. Perubahan sensitivitas dan kepedulian terhadap sesama yang lemah dan tindakan kritis dalam kontek penanggulangan kemiskinan.

2.3 Kajian Puasa Secara Psikologis
Secara psikologis seseorang yang berpuasa Ramadan menyatukan dirinya dalam kondisi penderitaan akibat rasa lapar dan haus yang selama itu lebih banyak diderita oleh fakir miskin yang dalam hidupnya selalu terbelenggu oleh kemiskinan. Esensi puasa Ramadan juga memberikan nilai ajaran agar orang yang beriman dan bertakwa mengikuti tuntunan Nabi SAW yang hidupnya amat sederhana dan selalu bersikap lugu dalam segala aspek kehidupannya. Beliau menganjurkan kepada umat Islam “berhentilah kamu makan sebelum kenyang.” Contoh sederhana tersebut mudah didengar tapi terasa berat dilaksanakan jika seseorang tengah bersantap dgn makanan lezat. Memang itulah tuntunan yang memiliki bobot kesadaran diri tinggi terhadap lingkungan masyarakat miskin yang berada di lingkungannya.
Fenomena kesadaran fitrah dalam puasa Ramadan saat ini diharapkan mampu membentuk rasa keterikatan jiwa dan moral untuk memihak kepada kaum dhuafa fakir miskin. Pendekatan ini harus diartikulasikan pada pola pikir dan pola tindak ke dalam bingkai amal saleh mampu melebur ke dalam pola kehidupan kaum mustadh’afin.
Seperti dicontohkan Nabi SAW saat membebaskan budak masyarakat kecil dan golongan lemah yg tertindas dgn membangkitkan ‘harga diri’ dan nilai kemanusiaan. Nabi SAW bisa hidup di tengah mereka dalam kondisi sama-sama lapar tidur di atas pelepah daun kurma. Begitu dekatnya Nabi Saw dgn orang-orang miskin sampai-sampai beliau mendapat julukan Abul Masakin . Ketika ada seorang sahabat bertanya terhadap keberadaan dirinya beliau menjawab “carilah aku di tengah orang-orang yg lemah di antara kalian.” Isyarat yg diberikan Nabi Saw ini menggugah seorang pemikir Islam dari Turki Hilmi H. Isyik mengatakan “Orang yg bersikap masa bodoh terahdap orang-orang miskin di sekitarnya tidak mungkin ia menjadi seorang muslim yg baik.”
Pengertian di atas mengambil esensi dari Sabda Nabi Saw yg maksudnya tiap orang muslim jangan mengabaikan dasar pokok iman ibadah dan akhlak. Kalau hal itu terabaikan amal atau muamalat duniawi akan menyimpang tidak terkontrol nafsu kemurkaannya tidak terkendali sehingga orang akan berperilaku sekehendaknya sendiri tanpa memperdulikan lingkungan dan penderitaan orang lain. Dampaknya dapat menghancurkan sikap toleransi dan solidaritas sesama umat muslim.
Nabi Saw bersabda “Barangsiapa tidak merasa terlibat dgn permasalahan umat Islam dia bukanlah dari golonganku.” Ini jelas memperingatkan permasalahan umat Muhammad yg tumbuh di dunia bukan hanya ibadah salat dan puasa saja juga luluh ke dalam nasib penderitaan sesama umat. Konteksnya dengan puasa Nabi SAW menegaskan “begitu banyak orang berpuasa tapi yang dihasilkannya hanya rasa lapar dan haus semata-mata.” Sabda ini mengandung arti hikmah puasa bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus menahan nafsu dan keinginan hedonistis melainkan secara esensial mengandung makna penghayatan rohani amat yg dalam yakni ekspresi jiwa dan konsentrasi mental secara utuh dan solid di mana sendi-sendi mental dan jiwa terperas ke dalam fitrah diri meluruskan disiplin pribadi dgn baik.
Di sinilah kekuatan iman dan takwa seorang Muslim diuji. Sehingga jelas nilai takwa seorang Muslim terangkat pada derajat hidup manusia ke dalam orientasi kehidupan duniawi sekaligus memperoleh justifikasi etis keakhiratan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Ada tiga aspek yang bisa diamati sebagai buah ibadah puasa, yaitu kesehatan fisik dan mental serta kesalehan sosial. Ketiganya bisa diamati dengan pendekatan medis dan psikologis, apakah efek yang ditimbulkan puasa bagi seseorang. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan, dampak puasa amat positif bagi kesehatan dan pembinaan mental. Namun, menyangkut aspek metafisik-spiritual, hal itu kita serahkan sepenuhnya kepada Allah karena seseorang tidak punya kewenangan dan kemampuan untuk mengukur keikhlasan dan ketakwaan seseorang. Tak ada yang tahu kualitas dan kedalaman ibadah puasa seseorang kecuali Allah.

3.2 Saran
Dengan demikian, ibadah puasa di tengah era reformasi ini, diharapkan mampu menggerakkan seluruh potensi negara dan bangsa menuju Indonesia Baru, dengan tatanan masyarakat madani (civil society) yang etis, demokratis, egaliterian, dan sesuai providentia Ilahi yang harmonis.
  DAFTAR PUSTAKA

Drs Maksun MAg Dosen dan aktivis Pusat Kajian Politik dan HAM (Puskapolham) Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo, Semarang

Sumber tulisan, KOMPAS Senin, 4 November 2002

Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar

0 Response to "MAKALAH PJKR "KONSEP PUASA DALAM KAJIAN TEOLOGIS, PSIKOLOGIS DAN SOSIOLOGIS""

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.