Latest Updates

MAKALAH ALIRAN-ALIRAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN



BAB I
PENDAHULUAN
 1.1 Latar Belakang Masalah
Zaman dahulu sampai sekarang ini pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk membawa mereka kepada kehidupan yang lebih baik, dan masalah sukses tidaknya pendidikan tidak lepas dari factor pembawaan dan lingkungan. Pembawaan dan lingkungan merupakan hal yang tidak mudah untuk di jelaskan sehingga memerlukan penjelasan dan uraian yang tidak sedikit. Telah bertahun-tahun lamanya para ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi dan lain-lain memikirkan dan berusaha mencari jawaban, tentang perkembangan manusia itu sebenarnya bergantung kepada pembawaan ataukah lingkungan. Dalam hal ini penulis akan memaparkan beberapa pendapat dari aliran-aliran klasik, di antaranya aliran nativisme, naturalisme, empirisme dan konvergensi, serta pengaruhnya terhadap pemikiran dan praktek pendidikan di Indonesia, serta pandangan islam terhadap pendidikan.
Aliran-aliran pendidkan telah dimulai sejak awal hidup manusia karena setiap kelompok manusia selalu dihadapakan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam berbagai kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai dari zaman yunani kuno samapai sekarang.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan dalam Keperawatan dan juga guna mengetahui tentang aliran-aliran dalam duni pendidikan
 1.3 Sistematika Penulisan
Berdasarkan Tujuan Penulisan diatas maka penulis susun sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
·         Untuk mengetahui Pendidikan dan Filsafat Pendidikan
·         Untuk mengetahui Aliran Klasik Dan Gerakan Baru Dalam Pendidikan
·         Untuk mengetahui Dua Aliran Pokok Pendidikan Di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pendidikan dan Filsafat Pendidikan
1. Pendidikan Menurut Aliran Idealisme
Idealisme adalah aliran filsafat yang menganggap bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang muncul dan terlahir dari kejadian di dalam jiwa manusia. Kejadian tersebut bersumber dari transendensi kesadaran. Kenyataan dan pengenalan atas realitas terletak di luar konsepsi idealisme. Konsentrasi idealisme tertuju pada afirmasi terhadap ontologi kesadaran dan problem yang muncul di dalamnya. Konsep filsafat menurut aliran idealisme terdiri dari metafisika-idealisme, humanologi-idealisme, epistemologi-idealisme, dan aksiologi-idealisme.
Dalam konteks filsafat pendidikan, idealisme memberi sumbangsih yang besar. Kaum idealis percaya bahwa manusia merupakan bagian dari alam spiritual kesadaran. Setiap individu berkesadaran mempunyai potensi spiritual dan transendensi. Konsekuensinya, pendidikan dituntut dapat memperkenalkan konsep spiritual dan transendensi dalam kehidupan manusia. Pendidikan harus menenkankan kesesuaian batin antara manusia dengan alam semesta. Pendidikan merupakan pejalanan menuju pribadi manusia yang ideal. Pendidikan harus berorientasi pada tujuan, bukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Idealisme mengimpikan terciptanya manusia dengan watak terbaik.
Implikasi filsafat pendidikan menurut Power (1982) adalah sebagai berikut :
(1)   Tujuan: untuk membentuk karakter, mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial;
 (2) Kurikulum: pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan;
(3)   Metode: diutamakan metode dialektika, tetapi metode lain yang efektif dapat dimanfaatkan;
(4)   Peserta didik bebas untuk mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuan dasarnya;
(5)   Pendidik bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan melalui kerja sama dengan alam.
Implikasi tersebut dapat ditransformasikan dalam suatu kesimpulan bahwa, pada hakikatnya setiap manusia dilahirkan dengan bakat dan potensi masing-masing. Bakat dan potensi tersebut merupakan kodarat alam yang bersifat transenden. Bagi idealisme, pendidikan harus diarahkan untuk membimbing manusia menuju kepribadian positif. Pendidikan bukan hanya sekedar metode transfer pengetahuan. Proses pengajaran dalam pendidikan harus disadari sebagai suatu pengembangan potensi manusia, dan harus dapat memediasi pengenalan manusia terhadap fenomena kebenaran ideal yang tidak terbatas hanya dalam dunia imanensi.
2. Pendidikan Menurut Aliran Realisme
Realisme adalah sebuah pandangan tentang eksistensi dari objek yang mengacu pada objek dalam dunia nyata. Bagi realisme, objek-objek dalam realitas diangap berdiri terpisah dengan keberadaan sang subjek. Objek dianggap menampakkan diri kepada subjek. Realisme sangat menekankan pentingnya eksistensi alat indra. Melalui alat indra realitas dapat dikenali dan diinterpretasi. Realisme menekankan bahwa kenyataan adalah sesuatu yang bersifat lahiriah dan empiris.
Dalam konteks filsafat pendidikan, realisme dibagi dalam tiga hal yaitu realisme kemanusiaan (humanistic realism), realisme sosial (social realism), dan realisme indrawi (sense realism). Realisme kemanusiaan meyakini bahwa sesuatu yang tidak terlepas dari pusat kehidupan ini adalah kemanusiaan. Realisme kemanusiaan mempelajari solusi yang presentif untuk setiap masalah kehidupan. Karena itu, kemanusiaan harus dipelajari dan harus diwujudakan dengan cara mempelajarinya. Tujuan realisme kemanusiaan adalah untuk menguasai alam dan sosial melalui pengetahuan yang lebih maju dan lebih luas dari pengetahuan manusia sebelumnya. Realisme sosial berasumsi bahwa objek-objek realitas yang menampakkan diri kepada manusia juga berasal dari hubungan sosial. Sasaran realisme sosial adalah untuk mencapai kehidupan manusia yang bahagia dan sejahtera dengan cara mengikuti dan memenuhi tuntutan kebutuhan yang berasal dari hubungan sosial. Bagi realisme sosial, pendidikan harus dapat mendukung efisiensi pekerjaan manusia. Sementara realisme inderawi adalah aliran realisme yang mengedepankan bahwa pengetahuan tentang realitas hanya dapat dikenali melalui alat indera, bukan dari kata-kata (bookish). Bagi realisme inderawai, pendidikan harus mengadopsi metode observasi dan hubungan antara alat indera dengan objek eksternal. Pendidikan harus menyediakan kesempatan bagi manusia untuk melakukan observasi dan belajar tentang fenomena natural.
Dalam konteks realisme, peserta didik dituntut untuk dapat menguasai pengetahuan yang handal dan terpercaya. Dibutuhkan kedisiplinan sebagai metode mencapai esensi dalam belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan guna memperoleh hasil yang baik. Sedangkan pendidik dituntut untuk dapat menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar, dan dengan keras menuntut prestasi peserta didik menguasai bahan ajar yang sumbernya pengetahuan realistis.
3.  Pendidikan Menurut Aliran Neo Positivisme
Aliran positivisme dipelopori oleh Auguste Comte. Ia mengusahakan adanya re-organize masyarakat yang dicapai melalui science. Positivisme mengandung pengertian bahwa segala pengetahuan kemasyarakatan harus berdasarkan pada segalanya yang dapat diobservasi berdasarkan fakta-fata real dan teruji secara metodologis. Positivisme mereduksi alam sebagai mekanisme yang deterministik dan mekanistik. Sementara neo-positivisme atau biasa disebut positivisme logis, merupakan kelanjutan dan penegasan terhadap aliran positivisme. Neo-positivisme mengusahakan adanya keketatan dalam ilmu pengetahuan dan menerapkan prinsip-prinsip metodologi saintifik kesegala bidang keilmuan termasuk filsafat. Neo-positivisme menuntut adanya kepastian metodologis dengan alat bantu kalkulasi matematik dan statistik. Prinsip utama aliran neo-positivisme menyatakan bahwa fakta-fakta yang dapat diobservasi adalah syarat bagi dimungkinkannya pengetahuan. Fakta-fakta tersebut harus teruji melalui rasionalitas dengan metode matematis dan logico-linguistic. Aliran ini menolak teologi dan metafisika.
Pendidikan yang neo-positivistik menekankan pentingnya metode empiris-eksperimental dan menuntut adanya objektivitas dalam setiap kajiannya. Objektivitas adalah sasaran pendidikan yang diajukan guna menekan dominasi subjektivitas peneliti. Ralitas sebagai objek kajian harus bisa dimengerti secara rasional oleh peneliti atau peserta didik. Pendidikan harus mampu menjadi sarana bagi dijalankannya metode ilmiah. Tujuan pendidikan neo-positifistik adalah memperoleh pengetahuan sejati melalui metode ilmiah dan verifikasi.
Aliran ini sangat mendominasi sistem pendidikan yang sedang berjalan dewasa ini. Ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial memakai metode ilmiah dalam memahami rtealitas. Melalui metode ilmiah, kebenaran dapat tercapai. Namun kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran tentatif yang dapat gugur jika ditemukan kebenaran baru yang lebih ajeg. Konsekuensinya, proposisi-proposisi metafisik tidak mendapat tempat. Kajian ilmu yang memfokuskan diri pada problem metafisika dan teologi dipisahkan dalam kelompok ilmu-ilmu filsafat dan humaniora. Metafisika dianggap non-sense dan tidak dapat dibuktikan secara empiris. Pendidikan neo-positivistik selalu menuntut adanya pengujian secara matematis. Manusia dan alam direduksi sebagai objek kajian yang dapat diukur secara matematis.
4. Pragmatisme Pendidikan
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Kebenaran objektif dari pengetahuan bukan sesuatu yang dianggap penting, namun bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu lah yang lebih penting. Dasar pragmatisme adalah logika pengamatan. Apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Pragmatisme tidak mau terjebak dalam kalimat-kalimat metafisika. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan.
Pragmatisme menggagas konsep pendidikan menjadi tiga, yaitu: konsep realitas, konsep pengetahuan, dan konsep nilai. Konsep realitas menyatakan bahwa, manusia sebagai makhluk fisik yang selalu mengalami perubahan dan perkembangan akan menyesuaikan dirinya dengan perubahan dan perkembangan realitas. Konsep pengetahuan menyatakan bahwa, tujuan berpikir adalah kemajuan hidup. Akal pikiran selalu aktif untuk mencari kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan. Pengetahuan yang dianggap benar adalah pengetauan yan bermanfaat. Sementara konsep nilai menyatakan bahwa nilai merupakan suatu realitas dalam kehidupan yang dapat dimengerti sebagai wujud perilaku manusia. Nilai dianggap bersifat relatif. Suatu perilaku, pengetahuan, nilai, dan ide dikatakan benar bila mengandung kebaikan dan bermanfaat bagi manusia.
Pragmatisme pendidikan diorientasikan pada teori problem solving yang terdiri dari lima langkah: 1) Merasakan adanya masalah. 2) Menganalisis masalah dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin. 3) Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah. 4) Memilih dan menganalisis hipotesis. 5) Menguji, mencoba, dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen. Dengan demikian, pragmatisme pendidikan selalu memuat tujuan praktis yang mengandung kebermanfaat dan nilai guna pagi kehidupan. Segalanya yang tidak mengandung nilai guna disingkirkan dan dianggap tidak layak digolongkan dalam kurikulum pendidikan.
5. Pendidikan Transformatif
Pendidikan adalah usaha yang dialogis untuk memanusiakan manusia. Secara ffilosofis dipahami sebagai penyadaran akan realita, manusia yang hidup, nilai-nilai pembebasan disulap dan sengaja didistorsi menjadi pendidikan yang sukses melakukan proyek “dehumanisasi dan alienasi. Kenyataannya sampai sekarang praktik pendidikan kita sesuai dengan yang dijelaskan oleh Freire. Bahwa seorang guru (pendidik) telah terjebak pada pola “pendidikan gaya bank”. Gaya pendidikan seperti menjadi usaha yang mekanis, sebab siswa direduksi menjadi tumpukan bejana kosong, diisi oleh ilmu-pengetahuan yang bersumber dari guru. Siswa sebagai objek dan menjadi “sesuatu” yang ditentukan dan pasif.
Menurut Allen J. Moore, konsep Freire yang dirumuskan dalam konteks Amerika Latin tidak bisa diterapkan begitu saja dalam konteks yang berbeda sebab situasinya dan permasalahannya tidak sama. Namun jika bandingkan konteks di Amerika Latin memiliki banyak kemiripan dengan konteks di Indonesia. Ini merupakan permasalahan antara sang penguasa atau pemilik tanah dengan kaum proletar yang disebut dengan feodalisme.
Pendidikan transformatif mencoba menyibak kenyataan bahwa, kurikulum pendidikan pada dasarnya bukanlah sesuatu yang bersifat statis. Setiap pembelajar dapat mentransformasikan pengetahuan yang dimilikinya untuk lebih disempurnakan. Transformasi pendidikan memungkinkan adanya perubahan dan penyempurnaan pengetahuan. Manusia dianggap sebagai makhluk individu yang bersosialisasi dalam masyarakat dan mampu menciptakan perubahan dalam dirinya. Pendidikan digunakan sebagai jalan memperoleh pengetahuan yang lebih luas dalam menangkap makna kehidupan demi keberlangsungan perkembangan sejarah kehidupan manusia.
6. Pendidikan Konservatif
Pendidikan konservatif bertujuan untuk memertahankan nilai sosial budaya yang sudah mapan pada saat itu. Pendidikan konservatif bersifat anti liberalism. Dalam memertahankan nilai budaya, konservatisme dapat bersifat pro status quo namun relevan dengan nilai budaya yang dituju. Pendidikan dipahami sebagai suatu usaha pembentukan manusia (menjadi lebih manusia). Pendidikan konservatif mengacu pada nilai budaya yang sudah mapan.
Nilai positif pendidikan konservatif dapat lebih menjamin keutuhan suatu budaya yang dipertahanakan, memberi kemapanan dan menghindari konflik. Dengan dibatasinya kebebasan dalam kurikulum proses pendidikan dapat diharapkan dapat dijalankan dengan lebih teratur.
Kurikulum dibuat guna mengajarkan ilmu-ilmu yang lebih bersifat praktis kebergunaan nilai budaya saat itu dibanding ilmu-ilmu yang dapat memicu penolakan terhadap nilai konservatisme tersebut. Nilai negatif pendidikan konservatiff dapat dipandang dari sudut pandang liberal, yaitu bahwa model ini menekan kebebasan peserta didik.
Pendidikan konservatif selalu berorientasi pada kejayaan dan kemapanan sistem yang berlaku di masa lalu. konservatisme tidak membuka diri dan tidak bersifat dinamis. Ia cenderung statis. Konsekuensinya perkembangan pengetahuan tidak dapat berjalan lebih cepat. Manusia dituntut untuk selalu menganggap yang telah berlaku dalam masa lalu dan sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat sebagai kebenaran. kebenaran itu harus dipertahankan dan tidak dapat tergantikan. Konservatif selalu bereaksi terhadap suatu pembaruan dan revolusi. Reaksi tersebut dibarengi tuntutan untuk tetap bertahan dengan sistem yang sudah ada, yang telah jelas-jelas sudah dikenali masyarakat umum. Spekulasi-spekulasi tentang perbaikan pengetahuan dimasa depan tidak diberi ruang yang luas oleh paham ini. Kada akhirnya, konservatif mengajak manusia menjadi manusia yang bereferensi terhadap kebenaran dan kejayaan masa lalu. referensi tersebut tidak terkritisi, namun harus terafirmasi. Hal tersebut dimaksudkan agar pendidikan tetap berjalan dalam sistem yang ajeg dan tidak tergoyahkan oleh pandangan-pandangan baru yang belum tentu benar.
2.2 Aliran Klasik Dan Gerakan Baru Dalam Pendidikan
Aliran-aliran klasik yang dimaksud adalah aliran empirisme, nativisme, naturalisme, dan konvergensi. Sampai saat ini aliran aliran tersebut masih sering digunakan walaupun dengan pengembangan-pengembangan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.
1.  Aliran-aliran Klasik dalam Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Pemikiran Pendidikan di Indonesia.
a.  Aliran Empirisme
Aliran empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulsi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. Pengalaman yang diproleh anak dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alm bebaqs ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk pendidikan. Tokoh perintisnya adalah John Locke.
Menurut pandangan empirisme pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman  yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut kenyataan dalam kehidupa sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat, meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Penganut aliran ini masih tampak pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai makhluk pasif dan dapat dimanipulasi, umpama melalui modifikasi tingkah laku. Hal itu tercermin pada pandangan scientific psychology dai B.F. Skinner ataupun pandangan behavioral lainnya. Pandangan behavioral ini masih juga bervariasi dalam menentukan faktor apakah yang paling utama dalam proses belajar itu, sebagai berikut:
1)  Pandangan yang menekankan stimulus (rangsangan) terhadap prilaku seperti dalam “classical condidtioning” atau “respondent learning”.
2)  Pandangan yang menekankan peranan dari dampak ataupun balikan dari sesuatu prilaku seperti dalam “operant conditioning” atau “instrumental learning”.
3)  Pandangan yang menekankan peranan pengamatan dan imitasi seperti dalam “observational learning”, “social learning and imitation”, “participant modelling”,dan  self-efficacy”.
b.  Aliran  Nativisme
Aliran Nativisme bertolak dari Leinitzian Tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil prkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap dan pendidikan anak.
Istilah nativisme dari asala kata natie yang artinya adalah terlahir. Terdapat satu pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas yakni bahwa dalam diri individu terdapat satu inti pribadi yang mendorong manusia untuk mewujudkan diri, mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri, dan yang menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kemauan bebas. Pandangan-pandangan tersebut tampak anatara lain humanistik psychology dari Carl R. Rogers ataupun pandangan phenomenology/humanistik lainnya.
Pengalaman belajar ditentukan oleh “internal frame of refrence” yang dimilikinya. Terdapat variasi pendapat dari pendekatan phenomenology/humanistik tersebut sebagai berikut:
1)        Pendekatan aktualisasi diri atau non-direktif (client centered) dari Carl R. Rogers dan Abraham Maslow.
2)        Pendekatan “personal construct” dari George A. Kelly yang menekankan betapa pentingnya memahami hubungan “transaksional” antara manusia dan lingkungannya sebagai bekal awal memahami prilakunya.
3)        Pendekatan “Gestalt”, baik yang klasik maupun pengembangan selanjutnya.
4)        Pendekatan “search for meaning” dengan aplikasinya sebagai “Logotherapy” dari Viktor Franki yang mengungkapkan betapa pentingnya semangat (human spirit) untuk mengatasi berbagai tantangan/masalah yang di hadapi.
c.  Aliran Naturalisme
Aliran ini dipelopori oleh J.J Rosseau. Rosseau berpendapat bahwa semua anak baru dilahirkan mempunyai pembawaan BAIK. Pembawaan baik akan menjadi rusak karena dipengaruhi lingkungan. Pendidikan yang diberikan orang dewasa malah dapat merusak pembawaan baik anak itu.
  d.  Aliran Konvergensi
Aliran Konvergensi dipelopori oleh Wlliam Stern, ia berpedapat bahwa seorang anak dilahirkan di dumia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama sama mempunyai peranan sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan sesuai untuk perkembangan anak itu.
William Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju ke satu titik pertemuan yakni:
Karena itu, teori W. Stern disebut tori konvergensi (konvergen artinya memusat ke satu titik). Jadi menurut teori konvergensi:
1)        Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan.
2)        Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.
3)        Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang manusia. Terdapat variasi pendapat tentang faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh-kembang itu. Variasi pendapat tersebut melahirkan berbagai pendapat/gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator ataukah informator, teknik penilaian pencapaian siswa dengan tes objektif atau tes esai, perumusan tujuan pengajaran yang sangat behavioral, penekanan pada peran teknologi pengajaran (The Teaching Machine, belajar berprogram, dan lain-lain), dan sebagainya.
e.  Pengaruh Aliran Klasik terhadap Pemikiran dan Praktek Pendidikan di Indonesia
Aliran-aliran pendidikan yang klasik mulai dikenal di Indonesia melalui upaya-upaya pendidikan, utamanya persekolahan, dari penguasa penjajah Belanda dan disusul kemudian oleh orang-orang Indonesia yang belajar di negri Belanda pada masa penjajahan. Seperti telah dikemukakan, tumbuh kembang manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni hereditas, lingkungan, proses perkembangan itu sendiri, dan anugerah. Faktor terkhir itu merupakan pencerminan pengakuan atas adanya kekuasaan yang ikut menentukan nasib manusia.
Khusus dalam latar persekolahan, kini terdapat sejumlah pendapat yang lebih menginginkan agar sejumlah peserta didik lebih ditempatkan pada posisi yang seharusnya, yakni sebagai manusia yang dapat dididik dan juga dapat mendidik dirinya sendiri. Hubungan pendidik dan peserta didik seyogyanya adalah hubungan yang setara antara dua pribadi, meskipun yang satu lebih berkembang dari yang lain. Hubungan tersebut sesuai dengan asas “ing ngarsa sung tulada”, “ing madya mangun karsa”, dan “asas tut wuri handayani”, serta pendekata cara belajar siswa aktif (CBSA) dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, cita-cita pendidikan seumur hidup dapat diwujudkan melalui belajar seumur hidup
2. Aliran – Aliran Baru dalam Pendidikan
Di dalam perkembangan pendidikan dewasa ini dapat kita identifikasi lima aliran besar yaitu :
a.    Aliran Fungsionaris
Tokoh aliran ini adalah Durkheim dan Parsons. Aliran fungsionalisme berpendapat fungsi pendidikan masa kini adalah transmisi kebudayaan dan mempertahankan tatanan sosial yang ada. Masa depannya mempersiapkan dengan mendengarkan fungsi – fungsi dalam masyarakat masa depan.
b.   Aliran Kulturalisme
Tokoh aliran ini adalah Brameld dan Ki Hajar Dewantara. Aliran ini melihat fungsi pendidikan masa kini sebagai upaya untuk merekontruksi masyarakat. Masyarakat mempunyai masalah – masalah yang dihadapi dan upaya pendidikan adalah untuk mengatasi masalah – masalah tersebut seperti identitas bangsa, benturan kebudayaan, preservasi dan pengembangan budaya. Fungsi pendidikan adalah menata masyarakat berdasarkan budaya yang universal dengan berdasarkan budaya lokal yang berkembang ke arah kebudayaan nasional dan kebudayaan global seperti Trikon dari Ki Hajar Dewantara.
c.     Aliran Kritikal
Freire menggaris bawahi dalam pendidikan terdapat tiga unsur fundamental yakni : pengajar, peserta didik dan realitas dunia (Mansour Faqih, Roem Topatimasang, Toto Rahardjo : 2001 : 40). Hubungan antara unsur pertama dengan unsur kedua seperti halnya teman yang saling melengkapi dalam proses pembelajaran. Keduanya tidak berfungsi secara struktural formal yang nantinya akan memisahkan keduanya. Bahkan Freire mengarai bahwa hubungan antara pengajar dan peserta didik yang bersifat struktural formal hanya akan melahirkan “pendidikan gaya bank” (banking consept of education).
Posisi pengajar dan peserta didik oleh Freire dikategorikan sebagai subyek “yang sadar” (cognitive). Artinya kedua posisi ini sama – sama berfungsi sebagai subyek dalam proses pembelajaran. Peran guru hanya mewakili dari seorang teman (partnership) yang baik bagi muridnya. Adapun posisi realitas dunia menjadi medium atau obyek “yang disadari” (cognizable). Disinilah manusia itu belajar dari hidupnya. Dengan begitu manusia dalam konsep pendidikan Freire mendapati posisi sebagai subyek aktif. Manusia kemudian belajar dari raelitas sebagai medium pembelajaran.
d.   Aliran Interpelatif
Tokoh aliran ini Bernstein. Menurut aliran ini tugas pendidikan adalah mengajarkan berbagai peran dalam masyarakat melalui program - program dalam kurikulum. Sedangkan untuk masa depan pendidikan berfungsi menghilangkan berbagai bias budaya dan kelas – kelas sosial yang membedakan antar kelompok elit dan rakyat jelata yang miskin.
e.    Aliran Modern
Tokoh aliran ini adalah Derrida, Foucalt, Gramsci. Bagi mereka fungsi pendidikan masa kini adalah transmisi ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan masyarakat masa depan perlu menghargai kebhinekaan dan keberagaman pendapat. Fungsi pendidikan adalah membina pribadi – pribadi yang bebas merumuskan pendapat dan menyatakan pendapatnya sendiri dalam berbagai perspektif. Individu yang diinginkan adalah individu yang kreatif dan berfikir bebas termasuk berfikir produktif.
3.  Gerakan Baru Pendidikan dan Pengaruhnya terhadap Pelaksanaan di Indonesia
a.  Pengajaran Alam Sekitar
Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak dengan sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar,perintis gerakan ini adalah Fr. A. Finger di Jerman dengan heimatkunde, dan J. Ligthart di Belanda dengan Het Voll Leven.
b.  Pengajaran Pusat Perhatian
Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Ovideminat Decroly dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat-pusat minat, disamping pendapatnya tentang pengajaran global. Decroly menyumbangkan dua pendapat yang sangat berguna bagi pendidikan dan pengajaran, yaitu:Metode Global dan Centre d’interet.
c.  Sekolah Kerja
Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari pandangan-pandangan yang mementingkan pendidikan keterampilan dalam pendidikan. J.A. Comenius menekankan agar pendidikan mengembangkan pikiran, ingatan, bahasa, dan tangan. J.H. Pestalozzi mengajarkan bermacam-macam mata pelajaran pertukaran di sekolahnya.
d.  Pengajaran Proyek
Pengajaran proyek biasa pula digunakan sebagai salah satu metode mengajar di Indonesia, antara lain dengan nam pengajaran proyek, pengajaran unit, dan sebagainya. Yang perlu ditekankan bahwa pengajaran proyek akan menumbuhkan kemampuan untuk memandang dan memecahkan persoalan secara konprehensif. Pendekatan multidisiplin tersebut makin lama makin penting, utamanya masyarakat maju.
e.    Pengaruh Gerakan Baru dalam Pendidikan Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan di Indonesia
Gerakan-gerakan baru tidak diadopsi seutuhnya di suatu masyarakat atau negara tertentu, namun asas pokoknya menjiwai kebijakan-kebijakan pendidikan dalam masyarakat atau negara trsebut.
Kajian tentang pemikiran-pemikiran pendidikan pada masa lalu akan sangat bermanfaat untuk  memperluas pemahaman tentang seluk-beluk pendidikan, serta memupuk wawasan hitoris dari setiap tenaga kependidikan.
2.3 Dua Aliran Pokok Pendidikan Di Indonesia
Dua aliran pokok pendidikan di Indonesia itu di Indonesia itu dimaksudkan adalah Perguruan Kebangsaan Taman Siswa dan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam. Kedua aliran tersebut dipandang sebagai tonggak pemikiran tentang pendidikan di Indonesia.
1.    Perguruan Kebangsaan Taman Siswa
Perguruan Kebangsaan Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1932 di yogyakarta, yakni dalam bentuk yayasan.
a.    Asas dan Tujuan Taman Siswa
Asas Taman Siswa
·      Bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan terbitnya persatuan dalam peri kehidupan umum.
·      Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekan diri.
·      Bahwa pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
·      Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat.
·      Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka harus mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan.
·      Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu adanya keiklasan lahir dan batin untuk mengobarkan segala kepentinganpribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak.
Kemudian ditambahkan dengan asas kemerdekaan, asas kodrat alam, asas kebudayaan, asas kebangsaan, dan asas kemanusiaan.
Tujuan Taman Siswa
·      Sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat tertib dan damai.
·      Membangun abak didik menjadi manusia yang merdeka lahir dan batin, luhur akal budinya, serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas keserasian bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya.
b.   Upaya-upaya yang dilakukan Taman Siswa
Beberapa usaha yang dilakukan oleh Rtaman siswa adalah menyiapkan peserta didik yang cerdas dan memiliki kecakapan hidup. Dalam ruang lingkup eksternal Taman siwa membentuk pusat-pusat kegiatan kemasyarakatan.
c.    Hasil-hasil yang Dicapai
Taman siswa telah berhasil menemukakan gagasan tentang pendidikan nasional, lembaga-lembaga pendidikan dari Taman indria sampai Sarjana Wiyata. Taman siswa pun telah melahirkan alumni alumni besar di Indonesia.
2.    Ruang Pendidik INS Kayu Tanam
Ruang Pendidik INS (Indonesia Nederlandsche School) didirikan oleh Mohammad Sjafei pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayu Tanam (sumatera Barat).
a.    Asas dan Tujuan Ruang Pendidik INS Kayu Tanam
Pada awal didirikan, Ruang Pendidik INS mempunyai asas-asas sebagai berikut
·      Berpikir logis dan rasional
·      Keaktifan atau kegiatan
·      Pendidikan masyarakat
·      Memperhatikan pembawaan anak
·      Menentang intelektualisme
Dasar-dasar tersebut kemudian disempurnakan dan mencakup berbagai hal, seperti: syarat-syarat pendidikan yang efektif, tujuan yang ingin dicapai, dan sebagainya.
Tujuan Ruang pendidik INS Kayu Tanam adalah:
·      Mendidik rakyat ke arah kemerdekaan
·      Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
·      Mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat
·      Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani bertanggung jawab.
·      Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan.
b.   Upaya-upaya Ruang Pendidik INS Kayu Tanam
Beberapa usaha yang dilakukan oleh Ruang Pendidik INS Kayu Tanam antara lain menyelenggarakan berbagai jenjang pendidikan, menyiapkan tenaga guru atau pendidik, dan penerbitan mjalah anak-anak Sendi, serta mencetak buku-buku pelajaran.
c.    Hasil-hasil yang Dicapai Ruang Pendidik INS Kayu Tanam
Ruang Pendidik INS Kayu Tanam mengupayakan gagasan-gagasan tentang pendidikan nasional (utamanya pendidikan keterampilan / kerajinan), beberapa ruang pendidikan (jenjang persekolahan), dan sejumlah alumni.
 BAB III
PENUTUP
 3.1 Kesimpulan
Pemikiran tentang pendidikan sejak dulu, kini, dan masa yang akan datang terus berkembang. Aliran/ gerakan tersebut mempengaruhi pendidikan di seluruh dunia, termasuk pendidikan di Indonesia. Dari sisi lain, di Indonesia juga muncul gagasan–gagasan tentang pendidikan, yang dapat dikategorikan sebagai aliran pendidikan, yakni taman siswa dan INS kayu tanam. Setiap tenaga kependidikan diharapkan memiliki bekal yang memadai dalam meninjau masalah yang dihadapi, serta pertimbangan yang tepat dalam menetapkan kebijakan dan atau tindakan sehari-hari. Dari aliran–aliran pendidikan di atas kita tidak bisa mengatakan bahwa salah satu adalah yang paling baik. Sebab penggunaannya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan, situasi dan kondisinya pada saat itu, karena setiap aliran memiliki dasar–dasar pemikiran sendiri.
Dari pemaparan di atas dapat di simpulkan bahwa aliran yang sampai sekarang masih di anut oleh masyarakat adalah aliran konvergensi, karena merupakan aliran yang menggabungkan antara aliran nativisme dan empirisme dan juga merupakan aliran yang sempurna. Sedangkan masyarakat Indonesia mayoritas juga menganut aliran konvergensi.
3.2 Saran
Untuk membenahi sistem pendidikan di Indonesia banyak hal yang harus dilakukan, karena begitu kompleksnya permasalahan yang ada, sehingga tidak mudah untuk memulai membenahinya dari mana. Namun dalam hal ini tidak ada salahnya kita mencoba memperbaikinya melalui permasalahan yang ada yakni melalui peningkatan mutu, relevansi, dan pemerataan pendidikan. Ketiga hal ini merupakan bagian dari sistem pendidikan Indonesia yang kita pandang cukup penting untuk memulai pembenahan bagi sistem pendidikan di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

http://sanaky.com/wp-content/uploads/2010/09/ALIRAN-ALIRAN-PENDIDIKAN.pdf

http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/06/aliran-aliran-pendidikan-esensialisme.html

http://www.rancahbetah.info/2010/03/makalah-pengantar-pendidikan-aliran.html

Tirtarahardja,Umar dan La Sulo.2008.Pengantar Pendidikan.Jakarta:PT RINEKA CIPTA

0 Response to "MAKALAH ALIRAN-ALIRAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN"

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.