Latest Updates

MAKALAH ILMU ALAMIAH DASAR



BAB I
PENDAHULUAN
 Kemampuan proses belajar adalah tujuan pendidikan yang tidak/belum banyak disinggung dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial. Bahkan ada kesan bahwa pendidikan ilmu-ilmu sosial agak kurang memperhatikan kemampuan walaupun kurikulum telah dengan jelas menyatakan perlunya pengembangan kemampuan proses dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial. Kenyataan di sekolah yang berbeda dari apa yang diinginkan kurikulum adalah sesuatu yang seharusnya dapat dikurangi jika pendidikan ilmu-ilmu sosial diharapkan dikembangkan lebih baik. Oleh karena itu pendidikan ilmu-ilmu sosial tidak dapat melepaskan diri dari tugas mengembangkan kemampuan proses. Atas dasar pemikiran yang demikian maka bab ini mencoba membicarakan mengenai pengembangan kemampuan proses dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial. Kemampuan proses adalah kemampuan seseorang dalam mendapatkan informasi, mengolah informasi, menggunakan informasi, dan mengkomunikasikan hasil. Keempat kelompok kemampuan ini dapat berasal dari kemampuan yang bersifat umum tetapi dapat pula dikembangkan dari kemampuan khusus berdasarkan karakteristik disiplin tertentu dalam ilmu-ilmu sosial. Kemampuan proses tersebut dikatakan bersifat umum apabila ia berlaku untuk setiap disiplin dalam ilmu-ilmu sosial. Sedangkan suatu kemampuan dinamakan khusus apabila kemampuan tersebut hanya berlaku dalam satu disiplin tertentu dan tidak berlaku untuk disiplin  lain. Kekhususan itu pada dasarnya merupakan pengembangan/kekhasan  yang harus dilakukan karena ciri khas materi yang dikaji. Pertanyaan utama dalam Bahan Belajar Mandiri ini adalah bagaimana kemampuan proses tersebut dapat dikembangkan pada diri siswa yang belajar disiplin ilmu-ilmu sosial. Pertanyaan utama ini dijawab dalam tiga bagian atau sub-bab. Sub-bab pertama akan membahas mengenai pengertian kemampuan proses. Dibagian ini dibandingkan pengertian yang dimaksudkan dalam kurikulum yang berlaku disekolah saat sekarang dengan pengertian yang terdapat dalam literatur pendidikan ilmu-ilmu social. Dibagian sub-bab ini dibicarakan perbedaan  dan hubungan antara kemampuan berfikir dengan kemampuan proses dengan memanfaatkan diagram Vee. Sub-bab kedua membicarakan mengenai cara mengembangkan kemampuan proses dalam interaksi belajar-mengajar di kelas.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan masalah dalam pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut :
·         Pengertian Keterampilan proses
·         Bentuk-bentuk Pengajaran Kemampuan Proses
·         Strategi Pengajaran Keterampilan Proses
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
·         Untuk mengetahui Pengertian Keterampilan proses
·         Untuk mengetahui Bentuk-bentuk Pengajaran Kemampuan Proses
·         Untuk mengetahui Strategi Pengajaran Keterampilan Proses
 BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Keterampilan proses
Kurikulum untuk anak SMP dan SMA 1984 (Hamid Hasan, 1998) menyatakan bahwa keterampilan proses merupakan kemampuan yang  akan dikembangkan dalam setiap mata pelajaran di kedua sekolah tersebut. Kurikulum yang berlaku sekarang, kurikulum 1994, masih tetap menganjurkan guru untuk dapat mengembangkan proses belajar siswa aktif yang didasarkan atas keterampilan proses. Kemampuan dalam keterampilan proses terdiri atas tujuh kemampuan, yaitu :
- Mengamati
- Mengelompokkan 
- Memproyeksikan
- Menerapkan
- Menganalisis
- Melakukan penelitian sederhana, dan
- Mengkomunikasikan hasil
Apabila diperhatikan maka banyak kemampuan dalam keterampilan proses tersebut bersamaan dengan kemampuan berfikir dalam  taksonomi Bloom dan kawankawan. Kemampuan mengamati, menerapkan, melakukan penelitian sederhana, dan mengkomunikasikan hasil pada dasarnya adalah termasuk kemampuan menerapkan dalam taksonomi bloom dan kawan-kawan tersebut. Kemampuan mengelompokkan dan menganalisis sama dengan kemampuan analisis. Sedangkan kemampuan melakukan penelitian sederhana meliputi berbagai kemampuan penerapan, analisis, sintesis, bahkan evaluasi. 
Kemampuan pengamatan dan pencatatan serta pemahaman terhadap konsep akan sangat menentukan apa yang diamati dan bagaimana mengamati suatu objek terpilih. Suatu objek memberikan informasi yang dicatat tetapi informasi tersebut baru memiliki makna jika ia dilihat atau diamati dari suatu konsep tertentu. Demikian pula dengan pengolahan informasi yang dinamakan transformasi menjadi sesuatu yang menunjukkan adanya keteraturan memerlukan kemampuan berfikir dalam suatu prinsip/sistem konseptual tertentu, teori tertentu  dan bahkan filsafat tertentu. Teori tertentu dan filsafat tertentu akan melahirkan nilai dan pengetahuan tertentu. Apa yang dikemukakan kedua sarjana  tersebut sejalan dengan, bahwa kemampuan berfikir tinggi baru dapat dikembangkan jika seseorang telah memiliki pengetahuan dan pemahaman. Berdasarkan apa yang telah dikemukakan maka kemampuan proses yang dapat dikembangkan dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial terdiri atas kemampuan :
1. mengumpulkan informasi,
2. mengolah informasi,
3. memanfaatkan informasi, dan
4. mengkomunikasikan hasil.
Kemampuan mengumpulkan informasi mencakup pengamatan dan bahkan dapat dikatakan pengamatan sebagai primadona dalam kemampuan ini. Dalam kemampuan mengolah informasi termasuk kegiatan mengelompokkan dan menganalisis. Dalam kemampuan memanfaatkan informasi termasuk keterampilan memproyeksikan, menerapkan, dan melakukan penelitian (sederhana). Kemampuan mengkomunikasikan hasil tetap berdiri sendiri karena kemampuan ini memang mandiri dan meliputi berbagai kegiatan. Keempat kemampuan proses ini akan dibahas lebih lanjut.
1. Kemampuan Mengumpulkan Informasi
Pengumpulan informasi menurut Hamid Hasan, merupakan kegiatan yang sangat penting dalam belajar. Ia juga merupakan kegiatan yang amat penting dalam proses pengembangan ilmu. Secara mendasar dapat juga dikatakan bahwa proses belajar dan pengembangan ilmu selalu diawali dengan pengumpulan informasi/data. Seorang Newton menemukan hukum gravitasi melakukan pengumpulan data dengan mengamati jatuhnya buah apel dari pohonnya. George Stephenson mengamati naik turunnya tutup ketel ketika air ketel itu mendidih untuk menemukan tenaga uap.  Seseorang yang bekerja di laboratorium melakukan pengamatan terhadap reaksi tabung. Seorang ahli politik mengamati  interplay kekuasaan untuk dapa menyimpulkan apa yang dimaksudkan dengan kekuasaan dan siapa yang dapat dianggap pemegang kekuasaan riil. Seorang ahli
geografi melakukan pengamatan terhadap berbagai lapaisan tanah untuk menentukan perkembangan geologis suatu wilayah tertentu. Ahli ekonomi mengamati perkembangan harga untuk menentukan kecenderungan-kecenderungan  yang akan terjadi. Seorang sejarawan mengamati suatu benda untuk dapat melihat karakteristik-karakteristik tertentu.
Guru-guru ilmu sosial pun dapat membawa anak didiknya untuk mengamati apa yang terjadi dipasar. Mungkin diantara anak didik tersebut mereka yang sudah sangat mengenal mengenai pasar menurut kacamatanya. Ada juga yang masih asing dengan apa yang dinamakan dengan pasar. Apa lagi pasar swalayan, untuk anak-anak yang ada di kota mereka lebih tahu karena sering diajak oleh orang tuanya .   Bagi yang sudah sangat mengenal pasar tentu mereka merasa tahu seluk beluk pasar. Untuk itu guru dapat meminta yang bersangkutan menceritakan apa yang sudah diketahuinya (secara tertulis atau pun lisan menurut situasi yang ada). Jika memang apa yang dirancang guru sudah diketahui siswa yang bersangkutan tentu saja ia dapat dijadikan salah seorang pemandu atau narasumber bagi teman-temannya yang akan mengamati pasar. Jika apa yang dikatakannya belum sesuai dengan apa yang diharapkan guru maka yang bersangkutan tetap diminta mengamati aspek-aspek kehidupan pasar seperti yang dirancang guru. (Hamid Hasan)
Untuk tingkat pendidikan dasar atau menengah tentu  saja kecanggihan teknik yang digunakan tidaklah sama dengan apa yang harus  dialami/dikuasai mahasiswa perguruan tinggi. Oleh karena itu para guru tidak perlu mencoba mengembangkan keterampilan pengamatan yang kompleks seperti diperguruan tinggi (dalam kasus tertentu mungkin saja dapat dilakukan tetapi secara umum tidak perlu); yang penting adalah guru pendidikan ilmu-ilmu sosial harus mampu dan dapat mengembangkan keterampilan pengamatan ini dengan memberikan pengalaman langsung kepada siswa.
2.  Kemampuan Pengolahan Informasi
Agar memiliki makna yang lebih luas dan mendalam, informasi yang dimiliki seseorang harus diolah, Hamid Hasan dalam Beyer (1988:46) menamakan proses pengolahan informasi sebagai proses berpikir. Untuk pengolahan informasi itu diperlukan suatu kemampuan tertentu sehingga kebermaknaan yang diinginkan dapat diperoleh secara maksimal. Hasil olahan yang sangat seksama akan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menggunakan informasi itu secara lebih baik. Bahkan dapat dikatakan bahwa hasil pengolahan informasi yang baik akan menghasilkan informasi baru yang merupakan informasi yang lebih tinggi sifatnya dibandingkan dengan informasi dasar (informasi yang diperoleh dari hasil kegiatan pengumpulan).
Dalam melakukan identifikasi itu tentu saja diperlukan ketajaman berfikir. Seseorang baru dapat menentukan persamaan dan perbedaan unsurunsur dari berbagai informasi apabila ia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang berbagai konsep yang berhubungan dengan informasi tersebut.
Dalam pencapaian tingkat kemandirian tersebut siswa dapat ditantang untuk  mengembangkan berbagai alternatif pengelompokkan. Pengolahan data analisis masih merupakan bagian dari kategori  pengolahan data konseptual.
Kemampuan analisis yang dimaksudkan disini adalah kemampuan siswa dalam :
-      Menentukan keterhubungan antara satu kelompok informasi dengan kelompok informasi lainnya.
-      Menentukan pokok-pokok pikiran yang mendasari suatu informasi;dan
-      Kemampuan siswa dalam menarik konsekuensi dari informasi baik dalam waktu maupun dalam dimensi.
Menentukan keterhubungan informasi atau kelompok informasi satu dengan yang lainnya adalah suatu proses berfikir yang sangat tinggi. Dalam kemampuan ini seseorang harus dapat menetukan apakah suatu informasi memiliki kesejajaran dengan informasi lainnya, ataukah kedua informasi itu satu lebih tinggi/luas dari lainnya. Apabila kedua informasi itu memiliki kedudukan yang sejajar maka pertanyaan berikutnya apakah kedua informasi itu bersifat saling mendukung, kontradiktif atau satu dengan lain memperlihatkan arah yang berbeda. Sebagai contoh perhatikan kedua kalimat ini:
(1).  Masyarakat pertanian berpandangan bahwa tanah  adalah bagian dari kehidupan materiil dan kultural.
(2). Masyarakat kota memandang tanah sebagai investai jangka panjang.
Contoh lain:
(1). Masyarakat memilih jadi pegawai negeri, karena apabila sudah tua (pensiun) masih dapat menerima uang pensiunan.
(2). Masyarakat yang beriwiraswasta (pengusaha), dapat memperoleh pendapatan sesuai dengan yang mereka ingin.
Dari kedua contoh tersebut diatas memperlihatkan kesejajaran pemikiran. Kesemuanya menggambarkan tentang suatu kelompok masyarakat tertentu dan pandangannya mengenai tanah atau pegawai dengan pengusaha. Oleh karena itu semuanya dapat dikatakan bernilai sama.
Kemampuan mengolah data secara statistik dapat dilakukan guru. Pendidikan Ilmuilmu Sosial melalui dua kegiatan utama yaitu pemahaman akan kegunaan dan latihan mengenai prosedur. Pemahaman dapat dikembangkan melalui model pengajaran yang disebut dengan concept formation (Joyce dan Weil, 1980) dalam model ini siswa dilatih dalam mengembangkan pemahamannya mengenai suatu konsep analisis statistik secara induktif. Dalam membangun pemahaman tersebut latihan mengolah data secara teknis statistik dapat dilakukan dan dijadikan contoh.
3. Kemampuan Meningkatkan Keterampilan dan Informasi
Hamid Hasan, mengemukan tentang kemampuan memanfaatkan keterampilan dan informasi adalah kemampuan memanfaatkan apa yang telah menjadi milik siswa. Dalam kemampuan proses pertama dan kedua, siswa telah mampu mencari informasi yang semakin mandiri, kemudian mengembangkan kemampuan mengolah informasi yang juga semakin lama semakin mandiri juga. Kemampuan mencari dan mengolah beserta apa yang ditemukan dan diolah akhirnya akan menjadi milik siswa. Oleh karena itu, kemampuan memanfaatkan keterampilan dan informasi adalah kemampuan lanjutan yang melibatkan kemampuan mengari, mengolah, dan pengetahuan yang sudah diperoleh siswa dalam kegiatan sebelumnya.
Guru Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial dapat memilih materi pelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Guru sejarah akan memilih bahan untuk suasana baru yang berkenaan dengan sejarah; guru geografi akan memilih bahan yang sesuai dengan materi geografi. Demikian pula guru mata pelajaran lainnya. Guru dapat memanfaatkan masalah yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat atau pun di media massa sebagai bahan untuk menciptakan suasana baru itu.
Dengan demikian, guru dapat menyajikan isu dimulai dari yang dekat dengan kehidupan siswa sampai ke yang paling makro/mondial. Artinya, prinsip pendidikan yang menyatakan bahwa pendidikan harus dimulai dari lingkungan terdekat sampai ke lingkungan terjauh dapat dimanfaatkan guru Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial sebaik-baiknya. Contoh lain misal dari pelajaran  geografi regional Eropa, siswa diajak untuk melihat perkembangan regional Eropa pada masa 50 tahun, dan dampak dari perubahan distribusi penduduk, sumber alam dan sebagainya.
4.  Mengkomunikasikan Hasil
Suatu hasil olahan atau studi akan memiliki makna yang besar apabila hasil olahan itu dikomunikasikan. Seperti Edison penemu listrik, hukum gravitasi Newton, teori evolusi Erwin, semuanya menjadi terkenal dan banyak dibicarakan orang diberbagai kalangan dalam kesempatan pertemuan karena semua teori itu dikomunikasikan. Tokoh pendidikan terkenal di Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara beliau menerbitkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan melalui media massa dalam bentuk makalah di berbagai pertemuan, sehingga beliau bapak pendidikan . Seorang guru di kelas tidak akan tahu tentang kesulitan apa yang ada di pikiran siswanya, apabila siswa itu diam tidak berbicara.
Dalam ilmu-ilmu sosial materi pelajaran akan berhubungan dengan kehidupan manusia, budaya, sosial, ekonomi,  politik, dan sebagainya sehingga seakan-akan menentang otoritas manusiawi (apabila pendapat itu berbeda). Oleh karena itu, apabila guru-guru ilmu sosial mengembangkan keberanian siswa untuk berpendapat seolah-olah ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan budaya yang berlaku.sebagai guru ilmu-ilmu sosial harus menyadari bahwa yang menjadi pertimbangan kependidikannya bukanlah perbedaan pendapat itu tetapi bagaimana cara mengemukakan pendapat.
2.2 Bentuk-bentuk Pengajaran Kemampuan Proses
Seperti telah dikemukakan di bagian pendahuluan bab ini, dalam kurikulum 1984 dikenal adanya tujuh langkah keterampilan proses. Dalam literatur yang banyak dikenal, ada dua model pendekatan pengajaran yang dikembangkan untuk tujuan kemampuan proses. Keduanya adalah pendekatan pengajaran Pemecahan Masalah dan Inkuiri. Uraian ini berkenaan dengan :
1.    Pengajaran Ilmu-ilmu Sosial dengan Pemecahan Masalah (Problem Solving).
Kegiatan belajar melalui pendekatan pemecahan masalah bukanlah sesuatu yang baru. Dalam banyak kenyataan guru pendidikan ilmu-ilmu sosial sudah ada yang melakukannya, tetapi sayang jumlahnya masih sedikit. Kemampuan pemecahan masalah bukan saja berhubungan dengan disiplin ilmu-ilmu sosial tertentu, tetapi juga dapat berupa kemampuan yang bersifat umum dalam menghadapi masalah sehari-hari. Seorang siswa dalam kenyataan kehidupan sehari-harinya pun tidak lepas dari keharusan membuat berbagai macam keputusan mengenai masalah yang dihadapi.
Kegiatan belajar melalui pemecahan masalah bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi, mengembangkan kemampuan berpikir alternatif, dan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan alternatif yang tersedia. Kemampuan-kemampuan ini adalah kemampuan yang melibatkan kemampuan proses tinggi. Pengajaran melalui pemecahan masalah terdiri atas lima langkah yaitu :
1. identifikasi masalah
2. pengembangan alternatif
3. pengumpulan data untuk menguji alternatif
4. pengujian alternatif
5. pengambilan keputusan
Inti dari suatu pemecahan masalah adalah keputusan terbaik yang tersedia untuk menyelesaikan masalah yang ada. Oleh karena itu dalam pemecahan masalah, kemampuan mengidentifikasi masalah serta dimensi masalah adalah kegiatan pertama yang sangat penting. Kegagalan dalam menentukan masalah dan menguraikan dimensi masalah akan mengakibatkan kegagalan dalam upaya mencari penyelesaian.
Setelah itu langkah berikutnya adalah sama dengan yang telah dikemukakan. Pada waktu pengujian alternatif maka siswa akan melihat apakah hipotesisnya terbukti ataukah tidak. Ia juga dapat melihat mengapa hipotesisnya terbukti dan mengapa tidak. Ini akan meningkatkan kemampuan berikutnya dalam menentukan  alternatif yang paling sesuai dengan masalah yang ada. Tentu saja harus diingat bahwa kemampuan pemecahan masalah tidak mungkin terbina dengan baik hanya dengan satu atau dua kali pertemuan. Dalam pembahasan mengenai tujuan telah dikemukakan bahwa kemampuan ini bersifat developmental.
2. Pengajaran Ilmu-ilmu Sosial dengan Inkuiri 
Pengajaran Inkuiri  atau Inquiry menurut hamid Hasan sering dikacaukan orang dengan pemecahan masalah. Kekacauan itu mudah dimengerti karena antara keduanya terdapat langkah-langkah yang sama. Tetapi antara keduanya terdapat perbedaan yang cukup mencolok karena pengajaran  Inkuiri lebih ditekankan pada pengembangan kemampuan pemecahan masalah yang terbatas pada disiplin ilmu. Pengajaran inkuiri berlandaskan masalah yang ada dalam disiplin ilmu dan bukan pada masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Perbedaan lain antara keduanya ialah pengajaran  inkuiri sangat memperhatikan proses pengumpulan data dan pengujian hipotesis. Dalam pemecahan masalah proses pengumpulan data dilakukan secara sistematis tetapi tidak berdasarkan tata kerja keilmuan disiplin tertentu. Dalam pengajaran inkuiri proses pengumpulan data dilakukan secara sistematis dan berdasarkan tradisi keilmuan  disiplin tertentu (walaupun harus diakui adanya penyederhanaan proses sehingga sesuai dengan kemampuan siswa).
Demikian pula dalam proses pengolahan data dan pengujian hipotesis (yang merupakan suatu keharusan dalam inkuiri dan bukan alternatif seperti dalam pemecahan masalah). Dalam kemampuan pengembangan kemampuan proses pada  diri siswa kedua model pengajaran ini memiliki keunggulan yang sama. Kemampuan berfikir aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi sangat diperlukan dalam melakukan suatu proses inkuiri. Demikian pula kemampuan keduanya dalam mencari, mengolah, menerapkan, dan mengkomunikasikan hasil pun dapat dikatakan tidak berbeda. Oleh karena itu kemampuan-kemampuan tersebut dapat dikembangkan melalui inkuiri. Langkah/kegiatan
yang dilakukan dalam inkuiri terdiri atas :
1. perumusan masalah
2. pengembangan hipotesis
3. pengumpulan data
4. pengolahan data
5. pengujian hipotesis, dan
6. penarikan kesimpulan
Guru tentu saja dapat mengidentifikasi kesulitan yang mungkin timbul sejak sebelum suatu kegiatan dilaksanakan. Semakin mahir  siswa dapat mengembangkan kemampuan inkuiri, semakin sedikit bantuan teknis dari guru yang diperlukan. Prinsip ini tidak hanya berlaku untuk pengajaran dengan inkuiri saja tetapi terhadap semua pengajaran dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial. Pemberian bantuan yang terlalu banyak akan membosankan siswa karena mereka akan merasa seolah-olah tidak mampu berbuat sendiri. Pemberian bantuan yang terlalu sedikit akan meninggalkan siswa dalam kebingungan tanpa mengetahui apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
2.3 Strategi Pengajaran Keterampilan Proses
Dalam mengembangkan pengajaran untuk pendidikan ilmu-ilmu sosial, guru harus mendasarkan kegiatannya untuk kepentingan siswa. Kepentingan siswa yang dimaksudkan disini adalah kepentingan belajar mereka. Oleh karena itu guru
menggunakan strategi tertentu, metode tertentu, atau pun teknik tertentu, maka pemilihan penggunaan itu hanya dilakukan dengan satu tujuan agar siswa belajar. Atas dasar pemikiran yang demikianlah maka penulis buku ini (Hamid Hasan) berpendapat bahwa mengajar adalah aktivitas yang dilakukan guru agar siswa dapat belajar dengan sebaik-baiknya untuk mencapai hasil yang maksimum (Hasan,  1993). Dengan demikian maka strategi pengajaran keterampilan proses adalah langkah-langkah yang dilakukan guru untuk mencapai tujuan pengajaran yaitu agar siswa mampu belajar melalui keterampilan proses. Jadi dalam hal ini siswa lah yang aktif menggunakan dan memanfaatkan keterampilan proses.
Seperti pada pengajaran untuk pengembangan kemampuan berpikir dan keterampilan tinggi pada umumnya, guru harus membuat rencana yang meliputi tidak hanya satu pokok bahasan atau sub-pokok bahasan saja. Sebelum suatu pengajaran dilakukan, guru terlebih dahulu harus merancang dalam perencanaan semester atau tahunan. Topik yang akan dibahas dalam satu tahun tertentu sudah diketahui guru dari kurikulum. Dalam hal ini guru tidak perlu mengembangkan topik baru, terkecuali jika guru berpendapat ada urutan topik dalam semester yang akan dikembangkan harus diubah. Jika ada guru yang berpendapat bahwa ada perubahan dalam urutan (sequence) materi pelajaran dalam semester tersebut, tentu saja guru boleh saja melakukannya.
Demikian pula jika guru berpendapat bahwa materi suatu topik harus lebih mendalam dalam pembahasannya dibandingkan dengan topik lainnya.  Suatu hal yang jelas bahwa tidak ada kewajiban bagi guru untuk mengembangkan kedalaman materi suatu topik sama dengan kedalaman  materi topik lainnya. Setelah topik, urutan dan kedalaman materi (dalam bentuk garis besar) sudah ditentukan, maka barulah guru bekerja untuk merencanakan pengembangan kemampuan keterampilan proses. Dalam perencanaan tersebut guru harus memperlihatkan keterampilan apa saja yang akan dikembangkan selama satu unit waktu tertentu dalam satu tahun. Disini guru dapat menempuh tiga cara. Pertama mengembangkan keempat keterampilan yang telah dikemukakan diatas dalam setiap topik yang akan dibicarakan dalam satu semester atau bahkan satu tahun. Perencanaan yang demikian tentu saja lebih mudah tetapi kedalaman keterampilan yang akan dikembangkan tidak terlihat jelas, bahkan mungkin sekali keterampilan yang ingin dikembangkan tidak dapat dikuasai siswa sebagaimana seharusnya. Kedua dengan cara menentukan keterampilan-keterampilan tertentu untuk topik tertentu.: setiap topik tidak mengembangkan keterampilan yang sama. Suatu keterampilan  tertentu dikembangkan dalam satu atau lebih topik. Bila suatu keterampilan telah dikuasai maka dilanjutkan dengan keterampilan lain melalui pengajaran dalam topik-topik berikutnya. Melalui cara ini siswa dapat menguasai keterampilan pada tingkat yang seharusnya. Kelemahan cara ini adalahpenguasaan keterampilan itu lepas satu dengan yang lainnya, tidak berkesinambungan. Sedangkan studi menunjukkan bahwa suatu keterampilan yang sudah dikuasai akan sukar dipertahankan jika terampilan itu tidak lagi digunakan.
Dengan demikian , jika pada suatu tahun siswa bealjar 5 keterampilan aka pada akhir tahun pelajaran itu siswa hanya menguasai satu atau dua keterampilan saja: yaitu ketermpilan yang terakhir dikuasai. Karena itu, segala usaha yang telah dilakukan guru selama satu tahun itu tidak memberikan hasil yang maksimal. Cara ketiga memperbaiki kedua cara di atas. Dalam cara ketiga ini konsentrasi pengembangan satu keterampilan dalam satu pengajaran satu atau dua topic tetap dapat dipertahankan sehungga tingkat penguasaan keterampilan dapat dipertanggungjwabkan. Selain itu, latihan yang berkesinambungan dari keterampilan yang sudah dikuasai sebelumnya mendapat kesempatan. Melalui cara yang demikian, keterampilan yang sudah dikuasai siswa sama dengan  jumlah keterampilan yang dirancang dan dikembangkan pada tahun itu. Dalam bentuk diagram cara ketiga ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Seorang guru pendidikan ilmu-ilmu sosial dapat mengembangkan pola-pola lain berdasarkan prinsip-prinsip berikut ini :
a.    Pengembangan keterampilan harus dimulai dari apa yang dikuasai siswa ke keterampilan yang belum dikuasai siswa. Hal ini penting terutama bagi siswa yang sudah memiliki pengalaman belajar dengan keterampilan.
b.    Pengembangan keterampilan memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pengembangan ingatan dan pemahaman. Oleh karena itu seringkali pengembangan suatu keterampilan dilakukan lebih dalam suatu topik.
c.    Pengembangan keterampilan tidak boleh terputus untuk suatu waktu yang lama terutama jika keterampilan tersebut belum menjadi milik siswa. Jika hal itu terjadi maka keterampilan yang sudah dimiliki akan hilang.
d.    Pengembangan suatu keterampilan merupakan akumulasi dari berbagai keterampilan kecil yang berkaitan. Oleh karena pengembangan suatu keterampilan harus dimulai dari pengembangan keterampilan-keterampilan kecil.
e.    Dalam proses pemilikan suatu keterampilan yang menetap diperlukan proses pemantapan yang berulang dan sering dalam berbagai topik yang berikutnya.
f.     Pengembangan suatu keterampilan tidak terbatas apalagi terbelenggu pada proses interaksi di kelas saja. Proses pengembangan dapat dilakukan di kelas, di sekolah atau pun di luar sekolah. Guru harus dapat menentukan tempat dimana proses pengembangan keterampilan itu dirasakan paling tepat.
g.    Proses pengembangan keterampilan dapat dilakukan sebelum kegiatan kelas yang membahas suatu pokok bahasan, pada waktu di kelas ketika membicarakan pokok bahasan tersebut atau pun setelah kegiatan di kelas sebagai tindak lanjut dari apa yang dibicarakan di kelas. Setelah guru pendidikan ilmu-ilmu sosial siap dengan perencanaan maka proses berikutnya adalah pengembangan lebih rinci dari rencana satu tahun tadi ke dalam rencana pelajaran satuan pelajaran (Satpel) sekarang KTSP. Setelah itu barulah dilanjutkan dengan proses belajar-mengajar dalam upaya pengembangan keterampilan yang dimaksudkan.
 BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Kemampuan proses yang dapat dikembangkan dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial adalah kemampuan siswa atau seseorang dalam mendapatkan informasi, mengolah data/ informasi, menggunakan informasi dan mengkomunikasikan hasil. Kemampuan dalam keterampilan proses terdiri dari tujuh kemampuan, yaitu, mengamati, mengelompokkan, memproyeksikan, menerapkan, menganalisis, melakukan penelitian sederhana, dan mengkomunikasikan hasil. Kemampuan mengamati dan menerapkan, melakukan penelitian sederhana, dan mengkomunikasikan hasil pada dasarnya adalah termasuk kemampuan menerapkan dalam  taksonomi Bloom dan kawan-kawan.Diagram Vee menurut Gowin (Novak,dan Gowin, 1986:5-6) digunakan  untuk menjelaskan keterhubungan dan perbedaan antara proses berpikir dengan kemampuan dalam proses.
Mengkomunikasikan hasil temuan dalam Pendidikan ilmu-ilmu Sosial dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan komunikasi lisan dan dapat pula melalui pemanfaatan media melalui bahasa tulis, grafik/diagram/table/gambar, gerak, isyarat dan sebagainya.
Bentuk-bentuk Pengajaran Kemampuan Proses
1.    Dengan pemecahan masalah (problem solving), yaitu pemecahan masalah adalah keputusan terbaik yang tersedia untuk menyelesaikan masalah yang ada. Ada lima langkah yang harus ditempuh, (1) identifikasi masalah; (2) pengembangan alternatif; (3) pengumpulan data untuk menguji alternatif; (4) pengujian alternatif; dan (5) pengambilan keputusan.
2.    Dengan Inkuri, antara pemecahan masalah dengan inkuiri langkah-langkahnya sama, tapi dalam pengajaran inkuiri lebih ditekankan pada pengembangan kemampuan pemecahan masalah yang terbatas pada disiplin ilmu. Ada enam langkah yang dilakukan dalam inkuri, yaitu (1) perumusan masalah; (2) pengembangan hipotesis; (3) pengumpulan data; (4) pengolahan data;(5) pengujian hipotesis dan; (6) penarikan kesimpulan. Dalam mengembangkan keterampilan, guru harus mengembangkan rencana pengajaran untuk satu semester atau mungkin satu tahun. Ada tiga cara pengembangan pengajaran, yaitu mengembangkan setiap keterampilan dalam setiap pokok bahasan yang dikaji, mengembangkan satu katerampilan untuk satu pokok bahasan; dan ketiga adalah mengembangkan keterampilan tertentu sebagai suatu yang utama pada suatu pokok bahasan yang kemudian diikuti dengan penguatan keterampilan itu pada pokok bahasan berikutnya. Yang paling dianjurkan adalah dengan cara yang ketiga. Tujuh persyaratan yang dapat digunakan dalam pengembangan keterampilan. Yaitu, dimulai dari apa yang sudah dikuasai siswa, memerlukan waktu lebih lama, berkesinambungan, bersifat akumulatif dari keterampilan-keterampilan yang lebih teknis, memerlukan penguatan-penguatan sebelum kegiatan kelas dimulai. 
 DAFTAR PUSTAKA

Carr, W. dan Kemmis, S. 1986. Becoming Critical: Education, Knowledge and Action Research. East Sussex: The Palmer Press.
Gillion. M.E. et.al. 1977.  Practical Methods for The Social Studies. Belmont, California: Wadsmorth Publishing Company, Inc.
Goetz, J.P. dan Le Compte, M.D. 1984.  Enthmography and Qualitative Design in Educational Research. Orlando: Academic Press.
Good, T.L. dan Brophy, J.E. 1977. Educational Psychology: A Realistic Approach. New York: Holt, Rinehart and Winston.
S. Hamid Hasan,. 1995. Pendidikan Sosial. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Bandung 
Johnson, D.W.,Johnson, R.T. dan Holubec, E.J. 1994. The New Circles of Learning: Cooperation in the Classroom and School. Alexanria. Virginia: ASCD. 
Joyce, B. dan Weil, M. 1980. Models of Teaching. New York: Prentice Hall.
Reichardt, C.S. dan Rallis, S. 1994.  The Qualitative-Quantitative Debate: New Perspective. New Directions for Program Evaluation, 61.
Trigg, R. 1991.  Understanding Social Sciences: A Philosophical Introduction to the Social Sciences. Oxford: Basil Blackwell

0 Response to "MAKALAH ILMU ALAMIAH DASAR"

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.