Latest Updates

MAKALAH PENILAIAN DIRI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA NON TES



BAB I
PENDAHULUAN
 1.1 Latar Belakang
Dalam proses pembelajaran tentu adanya suatu penilaian. Secara khusus Pembelajaran bahasa secara komunikatif menekankan pada dikuasainya keterampilan berkomunikasi oleh siswa, yaitu mampu memahami dan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Pada materi ini, anda akan dibantu memahami dan menggunakan penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia difokuskan pada kemampuan siswa memahami dan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Pada materi ini, anda akan dibantu memahami dan menggunakan penilaian dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Adapun kompetensi dasar yang ingin dicapai adalah mahasiswa mampu mengembangkan berbagai instrument penilaian proses dan hasil pembelajaran bahasa Indonesia. Sedangkan indikatornya adalah mahasiswa dapat mengembangkan berbagai instrument pembelajaran bahasa Indonesia yang berbentuk nontes.
Dalam proses pembelajaran kegiatan mengukur atau melakukan pengukuran merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar. Kegiatan mengukur itu pada umumnya tertuang dalam bentuk tes dengan berbagai variasinya. Dalam praktek, teknik tes inilah yang lebih sering dipergunakan dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik.
Pernyataan di atas tidaklah harus diartikan bahwa teknik tes adalah satu-satunya teknik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, sebab masih ada teknik yang lainnya yang dapat dipergunakan, yaitu teknik non tes. Dengan teknik non tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik, melainkan dilakukan dengan pengamatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara (interview), mennyebarkan angket (questionnaire), skala (skala penelitian, skala sikap, skala minat), studi kasus, dan sosiometri.
Kuesioner dan wawancara pada umumnya digunakan untuk menilai ranah kognitif seperti pendapat atau pandangan seseorang serta harapan dan aspirasinya disamping aspek afektif dan perilaku individu. Skala dapat digunakan untuk menilai aspek afektif seperti skala sikap dan skala minat serta ranah kognitif seperti skala penilaian. Pengamatan biasanya dilakukan untuk memperoleh data mengenai perilaku individu atau proses kegiatan tertentu. Studi kasus digunakan untuk memperoleh data yang komprehensifmengenai kasus-kasus tertentu dari individu. Sosiometri pada umumnya digunakan untuk menilai aspek perilaku individu, terutama hubungan sosialnya. 
Penggunaan nontes untuk menilai hasil dan proses belajar masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan penggunaan tes dalam menilai hasil belajar peserta didik. Para guru di sekolah pada umumnya lebih banyak menggunakan tes mengingat alatnya mudah dibuat, penggunaannya lebih praktis, yang dinilai terbatas pada aspek kognitif berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Maka dari itu untuk membahas dan memperjelas secara umum tentang alat penilaian nontes kami menyusun makalah yang berjudul “Evaluasi Pembelajaran Non Tes”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:
·         Penilaian Diri Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
·         Pengertian Tehnik Nontes
·         Penyusunan Alat Penilaian Teknik Non-Tes

1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
·         Untuk Mengetahui Penilaian Diri Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
·         Untuk Mengetahui Pengertian Tehnik Nontes
·         Untuk Mengetahui Penyusunan Alat Penilaian Teknik Non-Tes
   BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penilaian Diri Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Penilaian diri merupakan suatu metode penilaian yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil tanggung jawab terhadap belajar mereka sendiri. Mereka diberi kesempatan untuk menilai pekerjaan dan kemampuan mereka sesuai dengan pengalaman yang mereka rasakan.
Reys, Suydam, linguist, & Smith (1998) mengatakan bahwa siswa merupakan penilai yang baik (the best assessor) terhadap perasaan dan pekerjaan mereka sendiri. Oleh karena itu, guru dapat memulai proses penilaian diri dengan kesempatan siswa untuk melakukan validasi pemikiran mereka sendiri atau jawaban-jawaban hasil pekerjaan mereka.
Siswa perlu memeriksa pekerjaan mereka dan memikirkan tentang apa yang terbaik untuk dilakukan dan area mana mereka perlu dibantu. Untuk menuntun siswa dalam memahami proses penilaian diri, guru perlu melengkapi mereka dengan lembaran self-assessment.
Penilaian diri dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab pada diri siswa karena penilai yang tahu persis tentang diri siswa adalah siswa sendiri dan siswa menjadi penilai yang terbaik atas hasil pekerjaannya sendiri.
Selama ini penilaian keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran pada umumnya dilakukan oleh guru, sedangkan siswa menjadi obyek penilaian. Sehingga informasi yang diperoleh belum menunjukkan gambaran yang sesungguhnya tentang siswa. Sebagai contoh, seorang guru memberi nilai rendah pada siswanya yang suka mengganggu temannya pada saat guru mengajar. Disini guru memberikan keputusan bukan berdasarkan kemampuan siswa itu sendiri, tetapi hanya berdasarkan perilaku siswa yang dilihat guru secara kasat mata saja, padahal guru belum mengetahui secara jelas apa atau mengapa siswa tersebut menggangu temannya.
Secara garis besar, alat penilaian yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi atau data-data  mengenai siswa yang dinilai, dibedakan atas teknik tes dan nontes. Bentuk soal ujian yang dipergunakan dapat objektif, esai ( nonbjektif ) atau tugas-tugas tertentu yang sebaiknya dilakukan siswa diluar jam pembelajaran bergantung pada kompetensi hasil belajar yang akan diukur.
Dinyatakan Alwi ( 2005, Handout Desain Instruksional ) langkah pokok kegiatan evaluasi hasil belajar/penilaian meliputi:
1.     Menyusun rencana penilaian, yaitu:
a.  Merumuskan ntujuan penilaian, sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai dan indikator.
b.  Menetapkan ranah yang akan dievaluasi kognitif, apektif, dan psikomotor.
c.  Menentukan teknik penilaian: tes/nontes.
d.  Menentukan bentuknya: objektif atau esai.
e.  Menyusun alat pengukuran dan penilaian.
f.  Menentukan tolak ukur, norma/kriteria penilaian.
g.  Menentukan frekuensi kegiatan penilaian.
2.    Menghimpun data, yaitu: melaksanakan pengukuran dan penilaian melalui tes, wawancara, atau dengan cara lain.
3.    Melakukan verifikasi/penelitian data untuk menyaring data ( memisahkan data yang baik dan yang buruk ) sebelum diolah lebih lanjut.
4.    Mengolah dan menganalisis data, yaitu memberi makna terhadap data yang sudah diperoleh, dapat dilakukan menggunakan statistic atau tidak.
5.    Menginterpretasi dan menyimpulkan data yang sudah dianalisis, yaitu: verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah diolah dan dianalisis, selanjutnya dibuat kesimpulan bedasarkan tujuan yang ingin dicapai.
6.    Data hasil evaluasi yang sudah disusun, diatur, diolah, dianalisis, dan disimpulkan, sehingga diketahui ‘ maknanya’ , selanjutnya guru/evaluator dapat menentukan kebijakan yang akan ditempuh: siswa lulus/ tidak lulus, naik/tidak naik kelas, perlu remidi atau pengayaan, dan peringkta siswa.
Salah satu ciri soal yang bermutu baik adalah soal itu dapat membedakan setiap kemampuan siswa. Semakin tinggi kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah diajarkan, maka semakin tinggi pula peluang menjawab benar soal yang menanyakan materi yang telah diajarkan itu. Semakin rendah kemampuan siswa dalam memahami materi yamg telah diajarkan, maka semakin kecil pula peluang menjawab benar suatu soal yang menanyakan materi yang telah diajarkan. Syarat soal yang bermutu baik adalah bahwa soal harus ashih ( valid ), dan handal ( riliabel ). Sahih maksunya bahwa setiap alat ukur hanya mengukur satu dimensi/aspek saja. Handal maksudnya bahwa setiap alat ukur harus dapat memberikan hasil pengukuran yang tepat, cermat, dan ajek.
Pengguanan berbagai teknik dan alat itu harus disesuaikan dengan tujuan melakukan penilaian, waktu yang tersedia, sifat tugas yang dilakukan siswa, dan banyaknya/jumlah materi waktu yang sudah disampaikan.
2.2    Pengertian Tehnik Nontes
Alat penilaian dapat berarti teknik evaluasi. Tehnik evaluasi nontes berarti melaksanakan penilain dengan tidak mengunakan tes. Tehnik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara kelompok. Alat penilaian yang non-test, yang biasanya menyertai atau inheren dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sangat banyak macamnya. Di antaranya bisa disebutkan adalah observasi (baik dengan cara langsung, tak langsung, maupun partisipasi), wawancara (terstruktur atau bebas), angket (tertutup atau terbuka), sosiometri, checklist, concept map, portfolio, student journal, pertanyaan-pertanyaan, dan sebagainya. Keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar tidak dapat diukur dengan alat tes. Sebab masih banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas misalnya aspek efektif psikomotor.
2.3 Penyusunan Alat Penilaian Teknik Non-Tes
Teknik non-tes sering kali kurang mendapat perhatian para guru, karena kurang dikenal atau kurang handal dibanding dengan teknik tes. Namun teknik ini besar kegunaannya sebagai pelengkap dari teknik tes terutama untuk mengevaluasi hasil belajar yang sukar diukur dengan tes, seperti kerajinan, ketekunan, kepemimpinan, keterampilan, dan lain-lain. Pada umumnya teknik non-tes lebih bermanfaat untuk mendapatkan gambaran siswa secara keseluruhan/kualitatif. Perbedaannya apabila pada tes, jawaban siswa dinilai benar atau salah, sedangkan pada teknik non-tes jawaban siswa dapat bersifat kesesuaian, persetujuan, pilihan, minat, kecenderungan. Secara keseluruhan alat pengumpul data dibagi ke dalam dua katagori yaitu tes dan non-tes.Untuk mengetahui hasil belajar yang bersifat kognitif (pengetahuan, pemahaman, dan lain-lain) lebih tepat digunakan instrument tes. Sedangkan untuk mengungkap hasil belajar yang bersifat afektif dan psikomotor digunakan instrument non-tes
A.      Macam-Macam Bentuk Intrumen Non-Tes
1) Wawancara
Menurut Sudijono (2009) wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan Tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah tujuan yang terlah ditentukan. Sedangkan menurut Bahri (2008) Wawancara adalah komunikasi langsung antara yang mewancarai dan yang diwancarai. Dari pengertian tersebut kita dapat simpulkan bahwa wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (Tanya jawab) secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung (menggunakan alat komunikasi). Ada dua jenis wawancara yang dapat dipergunakan sebagai alat dalam evaluasi, yaitu:
1)    Wawancara terpimpin (guided interview), biasanya juga dikenal dengan istilah wawancara berstruktur (structured interview) atau wawancara sistematis (systematic interview), dimana wawancara ini selalu dilakukan oleh evaluator dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu dalam bentuk panduan wawancara (interview guide). Jadi, dalam hal ini responden pada waktu menjawab pertanyaan tinggal memilih jawaban yang sudah disediakan.
2)    Wawancara tidak terpimpin (un-guided interview), biasanya juga dikenal dengan istilah wawancara sederhana (simple interview) atau wawancara tidak sistematis (non-systematic interview) atau wawancara bebas, diamana responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh evaluator. Dalam wawancara bebas, pewancara selaku evaluator mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik atau orang tuanya tanpa dikendalikan oleh pedoman tertentu, mereka dengan bebas mengemukakan jawabannya. Hanya saja pada saat menganilis dan menarik kesimpulan hasil wawancara bebas ini evaluator akan dihadapkan kesulitan-kesulitan, terutama apabila jawaban mereka beraneka ragam. Mengingat bahwa daya ingat manusia itu dibatasi ruang dan waktu, maka sebaiknya hasil wawancara itu dicatat seketika.
Dalam melaksanakan wawancara, ada beberapa hal yang harus diperhatikan evaluator dalam pelaksanaan wawancara antara lain ; evaluator harus mendengar, mengamati, menyelidiki, menanggapi, dan mencatat apa yang sumber berikan. Sehingga informasi yang disampaikan oleh narasumber tidak hilang dan informasi yang dibutuhkan dapat ditangkap dengan baik. Selain itu evaluator harus meredam egonya dan melakukan pengendalian tersembunyi. Kadang kala banyak evaluator yang tidak dapat meredam egonya sehingga unsur subyektivitas muncul pada saat menganalisis hasil wawancara yang telah dilaksanakan. Menurut Zainal (2009) ada 3 tujuan dalam melaksanakan wawancara yakni :
1)    Untuk memperoleh informasi secara langsung guna menjelaskan suatu hal atau situasi dan kondisi tertentu.
2)    Untuk melengkapi suatu penyelidikan ilmiah.
3)    Untuk memperoleh data agar dapat mempengaruhi situasi atau orang tertentu.
Berbeda dengan observasi, wawancara memiliki kelebihan antara lain;
(1)   dapat secara luwes mengajukan pertanyaan sesuai dengan situasi yang dihadapi pada saat itu ;
(2)   mengetahui perilaku nonverbal, misalnya rasa suka, tidak suka atau perilaku lainnya pada saat pertanyaan diajukan dan dijawab oleh sumber;
(3) Pertanyaan dapat diajukan secara berurutan sehingga sumber dapat memahami maksud penelitian secara baik, sehingga dapat menjawab pertanyaan dengan baik pula;
(4)   Jawaban tidak dibuat oleh orang lain tetapi benar oleh sumber yang telah ditetapkan;
(5)   Melalui wawancara, dapat ditanyakan hal-hal yang rumit dan mendetail. Namun, wawancara juga memiliki kelemahan antara lain; (1) memerlukan banyak waktu dan tenaga dan juga mungkin biaya; (2) dilakukan secara tatap muka, namun kesalahan bertanya dan kesalahan dalam menafsirkan jawaban, masih bisa terjadi; (3) keberhasilan wawancara sangat tergantung dari kepandaian pewawancara. 
Contoh pedoman wawancara bebas:
Tujuan                  :    memperoleh informasi mengenai cara belajar yang dilakukan  oleh siswa di rumahnya.
Bentuk                  :    wawancara bebas
Responden            :    sisawa yang memperoleh hasil belajar cukup tinggi.
Nama siswa           :    ………………………………
Kelas\semester      :    …………………………
Jenis kelamin        :    …………………….
Pertanyaan guru
Jawaban siswa
Komentar dan kesimpulan hasil wawancara
Kapan dan berapa lama anda belajar di rumah?

Bagaimana cara anda mempersiapkan diri untuk belajar secara efektif?

Kegiatan apa yang anda lakukan pada waktu mempelajari bahan pelajaran?

Seandainya anda mengalami kesulitan dalam mempelajarinya, usaha apa yang anda lakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut?

Dst.






2)  Kuesioner/Angket
Kuesioner atau sering disebut angket merupakan alat pengumpuldata melalui komunikasi tidak langsung, yaitu melalui tulisan.Kuesioner ini memiliki kelebihan yaitu bersifat praktis, hemat waktudan tenaga. Namun kuesioner juga mempunyai kelemahan yaitu jawaban yang diberikan seringkali tidak objektif, siswa memberikan jawaban yang bersifat pura-pura. Kuesioner ada dua macam, yaitu:
1.  Kuesioner berstruktur, ialah model angket yang setiap pertanyaannya sudah disediakan jawabannya. Siswa tinggal memilih jawaban mana yang sesuai dengan dirinya.
2.  Kuesioner tidak berstruktur, ialah angket yang jawabannya terbuka.Siswa bisa mengungkapkan jawabannya sendiri.
Adapun beberapa tujuan dari pengembangan angket adalah :
1)    Mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari siswa tentang pembelajaran matematika.
2)    Membimbing siswa untuk belajar efektif sampai tingkat penguasaan tertentu.
3)    Mendorong siswa untuk lebih kreatif dalam belajar.
4)    Membantu anak yang lemah dalam belajar.
5)    Untuk mengetahui kesulitan – kesulitan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Ada beberapa hal yang menjadi kelebihan angket sebagai instrument evaluasi, diantaranya yaitu:
1)    Dengan angket kita dapat memperoleh data dari sejumlah anak yang banyak yang hanya membutuhkan waktu yang sigkat.
2)    Setiap anak dapat memperoleh sejumlah pertanyaan yang sama
3)    Dengan angket anak pengaruh subjektif dari guru dapat dihindarkan
Sedangkan kelemahan angket, antara lain:
1)    Pertanyaan yang diberikan melalui angket adalah terbatas, sehingga apabila ada hal-hal yang kurang jelas maka sulit untuk diterangkan kembali
2)    Kadang-kadang pertanyaan yang diberikan tidak dijawab oleh semua anak, atau mungkin dijawab tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Karena anak merasa bebas menjawab dan tidak diawasi secara mendetail.
3)    Ada kemungkinan angket yang diberikan tidak dapat dikumpulkan semua, sebab banyak anak yang merasa kurang perlu hasil dari angket yang diterima, sehingga tidak memberikan kembali angketnya.
Berikut ini contoh angket penelitian tentang pengembangan silabus dan merancang pembelajaran Bahasa Indonesia:
KUESIONER PENELITIAN TENTANG PENGEMBANGAN SILABUS DAN MERANCANG PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA
Dengan penuh rasa hormat, kami mohon kerjasama dan batuan Bapak/Ibu Guru Bahasa Indonesia mengisi/menjawab kuesioner ini, dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia lewat penelitian ini. Kuesioner ini dibuat untuk kebutuhan penelitian khususnya tentang Pengembangan silabus dan merancang pembelajaran di sekolah-sekolah.
Penelitian ini sama sekali tidak menilai kinerja anda sebagai guru, tetapi semata-mata hanya untuk pengumpulan informasi untuk kepentingan penelitian, itulah sebabnya sangat diharapkan kesungguhan dan kejujuran anda mengisinya, apa adanya, sesuai dengan kenyataan maupun pengalaman anda sehari-hari sebagai guru di sekolah.Kuesioner ini terdiri atas 3 kelompok pertanyaan. Diharapkan anda mengisi tanpa pengaruh atau bantuan orang lain. Atas kerjasama serta bantuannya disampaikan banyak terima kasih.
IDENTIFIKASI
Nama lengkap/Jenis Kelamin      : ....................................................
Pendidikan terakhir                     : ....................................................
Tempat dan tanggal lahir            : ....................................................
Status kepegawaian                    : ....................................................
Sekolah tempat mengajar            : ...................................................
Mengajar di kelas                        : ....................................................
Masa kerja sebagai guru              : ....................................................
Pelatihan yang pernah diikuti     : 1)………………………………
3)  Observasi
Observasi digunakan untuk mengukur tingkah laku individu atauterjadinya suatu proses kegiatan yang dapat diamati langsung, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun situasi buatan, seperti tingkahlaku siswa dalam belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Ada tiga jenis observasi yaitu observasi langsung, observasi dengan menggunakan alat (tidak langsung), dan observasi partisipasi. Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam mengembangkan penilaian dengan menggunakan teknik observasi diantaranya:
1.  Tentukan aspek kegiatan yang akan diobservasi.
2.  Tentukan pedoman observasi yang akan digunakan, apakah bentuk bebas atau berstruktur.
3.  Melaksanakan observasi, mencatat tingkah laku yang terjadi saatkejadian berlangsung. Cara dan teknik pencatatnya sesuai dengan format observasi yang digunakan.
4.  Mengolah hasil observasi, agar hasilnya lebih efektif dan terarahhendaknya:
·      Dilakukan dengan tujuan yang jelas dan direncanakansebelumnya.
·      Menggunakan pedoman observasi berupa daftar cek atau skala, atau model-model pencatat lainnya.
·      Pencatatan dilakukan selekas mungkin tanpadiketahui peserta didik yang diobservasi.
·      Kesimpulan dibuat setelah program observasi selesaidilaksanakan.
Contoh pedoman observasi:
Pedoman observasi
Topik diskusi                        :
Kelas/semester                     :
Bidang studi                        :
Nama siswa yang diamati    :
Aspek yang diamati
Hasil pengamatan
Ket
Tinggi
Sedang
Rendah
Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah


Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain

Mengerjakan tugas yang diberikan

Motivasi siswa yang mengerjakan tugas-tugas

Toleransi dan mau menerima pendapat siswa lain

Tanggung jawab sebagai anggota kelompok






 4)  Studi Kasus
Studi kasus pada dasarnya mempelajari individu secara intensif yangdipandang memiliki kasus tertentu. Misalnya mempelajari anak yangsangat nakal, sangat rajin, sangat pintar atau sangat lamban dalammemahami pelajaran. Penekanan utama dalam studi kasus adalahmencari penyebab mengapa individu tersebut melakukan sesuatu danapa pengaruhnya terhadap lingkungan. Kelebihan dari studi kasus adalah subjek dipelajari secara mendalam dan menyeluruh sehingga karakter individu tersebut dapat diketahui dengan selengkap-lengkapnya. Sedangkan kelemahannya yaitu tidak dapat digeneralisasi dengan individu lain sekalipun memiliki kasus yang hampir sama.
5) Sosiometri
Banyak ditemukan dilingkungan sekolah siswa yang kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia nampak murung, mengasingkan diri, mudah tersinggung bahkan over acting. Kondisi ini perlu diketahui oleh guru dan mencari upaya untuk memperbaikinya,karena hal ini dapat menggangu proses belajarnya. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan dengan teknik sosiometri. Dengan teknik ini dapat diketahui posisi siswa dalam hubungan sosialnya dengan siswa lainnya. Misalnya siswa yang terisolasi dari kelompoknya atau yang paling disukai oleh teman-temannya. Sosiometri dapat dilakukan dengan cara menyuruh siswa dikelasuntuk memilih satu atau doa orang teman yang paling disukai ataupunyang kurang disukainya. Dengan cara tersebut maka dapat diketahui siswa mana saja yang menghadapi kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya, kemudian diberi bantuan.
6) Analisi Hasil Karya
Hasil karya yaitu salah satu hasil dokumentasi asli yang dibuat olehtesti (siswa). Dari hasil karya tersebut, guru dapat sesuatu yang berharga sebagai bagian dari prestasi yang dihasilkan siswa. Hasil karya tidak hanya berupa benda produk (kerajinan), tapi bisa juga berupa tulisan (jawaban dari suatu soal). Dengan mengetahui hal tersebut guru dapat menilai, menganalisa, tentang apa yang dimiliki atau apa kelemahan yang dialami dari seorang siswa.
7) Catatan Kejadian
Catatan kejadian yaitu suatu catatan peristiwa yang dialami oleh siswa, yang dianggap sangat penting bagi siswa maupun sekolah. Misalnya saja siswa yang mempunyai prestasi yang luar biasa selain dalam bidang akademik, contohnya berhasil mencegah tawuran atau berhasil mencegah terjadinya kebakaran. Tindakan-tindakan positif tersebut hendaknya dicatat sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian beasiswa, penentuan siswa/mahasiswa teladan, atau yang sejenis.
8) Daftar cek
Daftar cek lebih menunjukan sebagai alat daripada sebagai teknik evaluasi. Daftar cek adalah berupa daftar aktivitas, sifat-sifat, masalah, jenis kesukaan, dan lain-lain. Di depan setiap butir disediakan kolom cek (…) yang diisi oleh siswa bersangkutan, atau oleh guru, tergantung tujuannya.
Contoh daftar cek kegiatan:
(…) Mendengarkan
(…) Berbicara
(…) Membaca
(…) Menulis
B.       Langkah-Langkah Pengembangan Alat Evaluasi Non-Tes
1.    Menentukan aspek apa yang akan diukur. Tetapkan aspek apa yang akan diungkap. Biasanya aspek belajar yang akan diungkap dengan non-tes berkenaan dengan ranah afektif dan psikomotor.
2.      Menentukan instrument yang akan digunakan sesuai dengan hal yang telah ditetapkan diatas.
3.      Menentukan definisi atau bahasan tentang aspek yang akan diungkap. Hal ini biasanya berdasarkan atas teori tertentu. Misalnyakita akan mengungkap keterlibatan siswa dalam diskusi. Rumuskanapa yang dimaksud dengan keterlibatan itu. Misalnya menurut pendapat Nana Syaodih (2005) keterlibatan siswa dalam berdiskusi mencakup kemampuan siswa dalam mengikuti diskusi, yang mencakup: keaslian dalam mengungkapkan ide atau gagasan siswadan keikutsertaan dalam menyanggah pendapat orang lain. Maka yang akan dinilai hanya hal itu saja, bukan yang lain.
4.      Menentukan format instrument. Misalnya kita akan mengungkap keterlibatan siswa dalam berdiskusi dengan menggunakan observasi.Maka format instrument yang digunakan adalah uraian bebas (essay), skala penilaian (rating skill), pilihan ganda atau daftar cek,atau yang lainnya. Hal yang akan lebih dijelaskan dalam hal ini adalah berkenaandengan skala. Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, mina tatau perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden yang hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang digunakan. Ada dua jenis skala yang sering digunakan, yaitu:
1.      Skala sikap
Sikap dapat diartikan sebagai reaksi seseorang terhadap stimulus yang datang pada dirinya. Jadi skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa katagori sikap, yaitu mendukung, menolak atau netral.
  2.      Skala penilaian
Skala penilaian mengukur perilaku siswa melalui pernyataan perilaku pada suatu titik kontinum atau suatu katagori yang bermakna nilai.
5.    Mengembangkan kisi-kisi.
6.    Menulis pernyataan yang sesuai dengan kisi-kisi. Lakukan penulisanatau pembuatan pernyataan.
7.    Analisis rasional terhadap pernyataan yang telah dirumuskan. Bisadilaukan oleh sendiri atau orang lain yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut.
 BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari uraian diatas dapatlah kita simpulkan bahwa dalam melaksanakan evaluasi dalam dunia pendidikan kita tidak hanya semata dapat menggunakan instrument tes. Namun, kita bisa menggunakan instrument tes dalam kegiatan pengukuran dan penilaian. Teknik-teknik non-tes juga menempati kedudukan yang penting dalam rangka evaluasi hasil belajar, lebih-lebih evaluasi yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan peserta didik, seperti presepsinya terhadap mata pelajaran tertentu, prsepsi terhadap guru, bakat dan minat, dan sebagainya.
Tehnik penilaian nontes berarti melaksanakan penilain dengan tidak mengunakan tes. Tehnik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara kelompok. Pada umumnya teknik non-tes lebih bermanfaat untuk mendapatkan gambaran siswa secara keseluruhan atau kualitatif. Perbedaannya apabila pada tes, jawaban siswa dinilai benar atau salah, sedangkan pada teknik non-tes jawaban siswa dapat bersifat kesesuaian, persetujuan, pilihan, minat, kecenderungan.

3.2 Saran
Kami sebagai penyusun pertama-tama mohon maaf apabila dalam pembuatan makalah ini masih belum mencapai kesempurnaan. Meskipun demikian, mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan gambaran atau tambahan ilmu bagi para pembaca. Oleh karena itu, untuk penyempurnaan makalah ini kami tunggu kritik dan sarannya dari para pembaca.
 
DAFTAR PUSTAKA

Wahyudin Uyu, dkk. 2006. Evaluasi pembelajaran.Bandung: UPI PRESS.

Sudirman N, dkk. 1990. Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja RosdaKarya.

Setiawan. 2006. Bimbingan dan Konseling. Bandung: UPI PRESS

Arifin,Zaenal (2009), Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, Prosedur, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.

Arniatiu (2010). Evaluasi Pembelajaran. Makalah Perkuliahan. Padang: Non-Publikasi.

Bahri Djamarah, Saiful (2008). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta

Bahri Djamarah, Saiful (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT.Rineka Cipta,

Daryanto (2008), Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sudijono, Anas (2009) Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Widoyoko, S. Eko Putra (2009) Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Didik, Yogyakarta: Pustaka Belajar

0 Response to "MAKALAH PENILAIAN DIRI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA NON TES"

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.