Latest Updates

MAKALAH SEJARAH


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pengertian sejarah berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata syajaratun, yang memiliki arti pohon kayu. Pengertian pohon kayu di sini adalah adanya suatu kejadian, perkembangan atau pertumbuhan tentang sesuatu hal (peristiwa) dalam suatu kesinambungan (kontinuitas).
Ilmu Sejarah sering dikaitkan dengan politik, padahal yang sesungguhnya ilmu sejarah itu memiliki arti yang cangkupannya dapat lebih luas karena berhubungan dengan kejadian masyarakat di masa lalu yang dapat dilihat dari segi ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti sosiologi, antropologi,antropologi budaya, psikologi, geografi, dan ilmu ekonomi. Sehingga sejarah dan ilmu-ilmu sosial saling berkaitan dalam pembahasannya sesuai kajian dan objek yang dipelajari.
Semakin luasnya, mengkaji ilmu sejarah ini diharapkan dapat membuat wawasan akan semakin luas tentang pengertian dan ruang lingkup sejarah, metode dan ilmu bantu sejarah, tujuan dan kegunaan sejarah, sejarah perkembangan sejarah, hubungan ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, konsep-sonsep sejarah, dan teori-teori sejarah.

B    Rumusan Masalah
Beberapa hal yang menjadi masalah dalam penulisan ini pada pokoknya adalah, “ILMU SEJARAH”. Secara terperinci masalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.  Apa pengertian dan ruang lingkup sejarah?
2.  Apa sajakah metode dan ilmu Bantu sejarah?
3.  Apa tujuan dan kegunaan sejarah?
4.  Bagaimanakah sejarah perkembangan sejarah?
5.  Bagaimanakah hubungan ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya?
6.  Apa sajakah konsep-konsep sejarah?
7.  Apa sajakah teori-teori sejarah?

C.      Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan :
1. Ingin memperoleh informasi tentang pengertian dan ruang lingkup sejarah.
2. Ingin memperoleh informasi tentang tujuan dan kegunaan sejarah.
3. Ingin memperoleh informasi tentang sejarah perkembangan sejarah.
4. Ingin memperoleh informasi tentang hubungan ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.
5. Ingin memperoleh informasi tentang konsep-konsep sejarah.
6. Ingin memperoleh informasi tentang teori-teori sejarah.

   BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Dan Ruang Lingkup Sejarah
Pengertian sejarah sekarang ini, yang setelah dilihat secara umum dari para ahli ialah memiliki makna sebagai cerita, atau kejadian yang benar-benar telah terjadi pada masa lalu. Kemudian, disusul oleh Depdiknas yang memberikan pengertian sejarah sebagai mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia dari masa lampau hingga kini (Depdiknas,2003:1).Namun, yang jelas kata kuncinya bahwa sejarah merupakan suatu penggambaran ataupun rekonstruksi peristiwa, kisah, maupun cerita, yang benar-benar telah terjadi pada masa lalu. Pada umumnya, para ahli sepakat untuk membagi peranan dan kedudukan sejarah yang terbagi atas tiga hal, yakni sejarah sebagai peristiwa, sejarah sebagai ilmu, sejarah sebagai cerita (Ismaun, 1993:277).
1.    Sejarah Sebagai Peristiwa
Adalah sesuatu yang terjadi pada masyarakat manusia di masa lampau. Para ahli pun mengelompokkan sejarah agar dapat memudahkan kta untuk memahaminya yaitu:
a) Pembagian sejarah secara sistematis, yaitu pembagian sejarah atas beberapa tema. Contoh: sejarah sosial, politik, sejarah kebudayaan, sejarah perekonomian, sejarah agama, sejarah pendidikan, sejarah kesehatan, sejarah intelektual, dan sebagainya.
b) Pembagian sejarah berdasarkan periode waktu. Contoh: sejarah Indonesia, dimulai dari zaman prasejarah, zaman pengaruh Hindu-Buddha, zaman pengaruh Islam, zaman kekuasaan Belanda, zaman pergerakan nasional, zaman pendudukan Jepang, zaman kemerdekaan, zaman Revolusi Fisik, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi.
c) Pembagian sejarah berdasarkan unsure ruang. Dalam sejarah regional dapat menyangkut sejarah dunia, tetapi ruang lingkupnya lebih terbatas oleh persamaan karakteristik, baik fisik maupun sosial budayanya.Contoh : Sejarah Eropa, sejarah Asia, Tenggrara, sejarah Afrika Utara,dan sebagainnya Sejarah sebagai peristiwa sering pula disebut sejarah sebagai kenyataan dan serba objektif (Ismaun, 1993:279) Artinya, peristiwa-peristiwa tersebut benar-benar terjadi dan didukung oleh evidensi-evidensi yang menguatkan, seperti berupa saksi mata (witness) yang dijadikan sumber-sumber sejarah (historical sources), peninggalan-peninggalan (relics atau remains), dan catatan-catatan (records) (Lucey, 1984:27). Selain itu, dapat pula peristiwa itu diketahui dari sumber-sumber yang bersifat lisan yang disampaikan dari mulut ke mulut. Menurut Sjamsudin (1996:78), ada dua macam sumber lisan. Pertama, sejarah lisan (oral history), contohnya ingatan lisan (oral reminiscence), yaitu ingatan tangan pertama yang dituturkan secara lisan oleh orang-orang yang diwawancarai oleh sejarawan. Kedua, tradisi lisan (oral tradition), yaitu narasi dan deskripsi dari orang-orang dan peristiwa-peristiwa pada masa lalu yang disampaikan dari mulut ke mulut selama beberapa generasi.
2. Sejarah Sebagai Ilmu
Sejarah dikategorikan sebagai ilmu karena dalam sejarah pun memiliki “batang tubuh keilmuan” (the body of knowledge), metodologi yang spesifik. Sejarah pun memiliki struktur keilmuan tersendiri, baik dalam fakta, konsep, maupun generalisasinya (Banks,1977:211-219;Sjamsuddin, 1996:7-19). Kedudukan sejarah di dalam ilmu pengetahuan digolongkan ke dalam beberapa kelompok.
a)    Ilmu Sosial,karena menjelaskan perilaku sosial. Fokus kajiannya menyangkut proses-proses social (pengaruh timbal balik antara kehidupan aspek sosial yang berkaitan satu sama lainnya) beserta perubahan-perubahan sosial.
b) Seni atau art. Sejarah digolongkan dalam sastra. Herodotus (484-425SM) yang digelari sebagai :Bapak Sejarah” beliaulah yang telah memulai sejarah itu sebagai cerita (story telling), dan sejak saat itu sejarah telah dimasukkan ke dalam ilmu-ilmu kemanusiaan atau humaniora (Sjamsuddin, 1996:189-5190). Sejarah dikategorikan sebagai ilmu humaniora, terutama karena dalam sejarah memelihara dan merekam warisan budaya serta menafsirkan makna perkembangan umat manusia. Itulah sebabnya dalam tahap historigrafi dan eksplanasinya, sejarah memerlukan sentuhan-sentuhan estetika atau keindahan (Ismaun, 1993:282-283).
3. Sejarah Sebagai Cerita
Dalam sejarah sebagai cerita merupakan sesuatu karya yang dipengaruhi oleh subjektivitas sejarawan. Artinya, memuat unsur-unsur dari subjek, si penulis /sejarawan sebagai subjek turut serta mempengaruhi atau memberi “warna”, atau
“rasa” sesuai dengan “kacamata” atau selera subjek (Kartodirdjo, 1992:62). Dilihat dari ruang lingkupnya, terutama pembagian sejarah secara tematik, Sjamsuddin (1996: 203-221) dan Burke (2000:444) mengelompokkannya dalam belasan jenis sejarah, yaitu sejarah sosial; sejarah ekonomi; sejarah kebudayaan; sejarah demografi; sejarah politik; sejarah kebudayaan rakyat; sejarah intelektual; sejarah keluarga; sejarah etnis; sejarah psikologi dan psikologi histori; sejarah pendidikan; sejarah medis.

B.       Metode Dan Ilmu Bantu Sejarah
Secara sederhana, Ismaun (1993: 125-131) mengemukakan bahwa dalam metode sejarah meliputi (1) heuristic (pengumpulan sumber-sumber); (2) kritik atau analisis sumber (eksternal dan internal); (3) interpretasi; (4) historiografi (penulisan sejarah). Sjamsuddin (1996: 68-69) merinci ada tujuh kriteria yang dipersyaratkan sebagai sejarawan, sebagai berikut.
1.      Kemampuan praktis dalam mengartikulasi dan mengekspresikan pengetahuannya secara menarik, baik secara tertulis maupun lisan.
2.      Kecakapan membaca dan atau berbicara dalam satu atau dua bahasa asing atau daerah.
3.      Menguasai satu atau lebih disiplin kedua, terutama ilmu-ilmu sosial lain, seperti antropologi, sosiologi, ilmu politik, ilmu ekonomi, atau ilmu-ilmu kemanusiaan  (humaniora), seperti filsafat, seni atau sastra, bahkan kalau mungkin relevan juga yang berhubungan dengan ilmu-ilmu alam.
4.      Kelengkapan dalam penggunaan pemahaman (insight) psikologi, kemampuan imajinasi, dan empati.
5.      Kemampuan membedakan antara profesi sejarah dan sekadar hobi antikuarian, yaitu pengumpulan benda-benda antik.
6.      Pendidikan yang luas (broad culture) selama hidup sejak dari masa kecil.
7.      Dedikasi pada profesi dan integritas pribadi, baik sebagai sejarawan peneliti maupun sebagai sejarawan pendidik.
Selanjutnya, dikemukakan pula oleh Gray (1964:9) bahwa seorang sejarawan minimal memiliki enam tahap dalam penelitian sejarah.
1. Memilih suatu topik yang sesuai.
2. Mengusut semua evidensi atau bukti yang relevan dengan topik.
3.  Membuat catatan-catatan penting dan relevan dengan topik yang ditemukan ketika penelitian diadakan.
4.  Mengevaluasi secara kritis semua evidensi yang telah dikumpulkan atau melakukan kritik sumber secara eksternal dan internal.
5.  Mengusut hasil-hasil penelitian dengan mengumpulkan catatan fakta-fakta secara sistematis.
6.  Menyajikannya dalam suatu cara yang menarik serta mengomunikasikannya kepada para pembaca dengan menarik pula.
Sedangkan sebagai ilmu bantu dalam penelitian, sejarah terdiri atas hal-hal berikut.
1.    Paleontologi, yaitu ilmu tentang bentuk-bentuk kehidupan purba yang pernah ada di muka bumi, terutama fosil-fosil.
2.    Arkeologi, yaitu kajian ilmiah mengenai hasil kebudayaan, baik dalam periode prasejarah maupun periode sejarah yang ditemukan melalui ekskavasi-ekskavasi di situs-situs arkeolog.
3.    Paleoantropologi, yaitu ilmu tentang manusia-manusia purba atau antropologi ragawi
4.    Paleografi, yaitu kajian tentang tulisan-tulisan kuno, termasuk ilmu membaca dan penentuan waktu, tanggal, tahun.
5.    Epigrafi, yaitu pengetahuan tentang cara membaca, menentukan waktu, serta menganalisis tulisan kuno pada benda-benda yang dapat bertahan lama (batu, logam, dan sebagainya).
6.    Ikonografi, yaitu arca-arca atau patung-patung kuno sejak zaman prasejarah maupun sejarah.
7.    Numismatik, yaitu tentang ilmu mata uang, asal usul, teknik pembuatan, dan mitologi.
8.    Ilmu keramik, kajian tentang barang-barang untuk tembikar dan porselin.
9.    Genealogi, yaitu pengetahuan tentang asal usul nenek moyang atau asal mula keluarga seseorang maupun beberapa orang.
10.  Filologi, yaitu ilmu tentang nasakah-nasakah kuno.
11.  Bahasa, yaitu penguasaan tentang beberapa bahasa, baik bahasa asing maupun bahasa daerah yang diperlukan dalam penelitian sejarah.
12.  Statistik, adalah sebagai presentasi analisis dan interpretasi angka-angka terutama dalam quantohistoryatau cliometry.
13.  Etnografi, merupakan kajian bagian antropologi tentang deskripsi dan analisis kebudayaan suatu masyarakat tertentu.

C.      Tujuan Dan Kegunaan Sejarah
Secara rinci dan sistematis, Notosusanto (1979:4-10) mengidentifikasi empat jenis kegunaan sejarah, yakni fungsi edukatif, fungsi inspiratif, fungsi instruktif, dan fungsi rekreasi.
1.    Fungsi Edukatif
Artinya, bahwa sejarah membawa dan mengajarkan kebijaksanaan ataupun kearifan-kearifan.Hal itu dikemukakan dalam ungkapan John Seeley yang mempertautkan masa lampau dengan sekarang, we study history, so that we maybe wise before the event. Oleh karena itu, penting pula ungkapan-ungkapan, seperti belajarlah dari sejarah atau sejarah mengajarkan kepada kita.
2.    Fungsi Inspiratif
Artinya, dengan mempelajari sejarah dapat memberikan inspirasi atau ilham.Dan juga, sejarah dapat memberikan spirit dan moral.Menurut spiritual Prancis Henry Bergson sebagai elan vital, yaitu sebagai energi hidup atau daya pendorong hidup yang memungkinkan segala pergerakan dalam kehidupan dan tindak tanduk manusia.
3.    Fungsi Instruktif
Bahwa dengan belajar sejarah dapat berperan dalam proses pembelajaran pada salah satu kejuruan atau keterampilan tertentu, seperti navigasi, jurnalistik, senjata/militer, dan sebagainya.

4.    Fungsi Rekreasi
Artinya, dengan belajar sejarah dapat memberikan rasa kesenangan maupun keindahan. Seorang pembelajar sejarah dapat terpesona oleh kisah sejarah yang mengagumkan atau menarik perhatian membaca, baik itu berupa roman maupun cerita-cerita peristiwa lainnya. Selain itu, sejarah dapat memberikan kesenangan lainnya, seperti “pesona perlawatan” yang dipaparkan dan digambarkan kepada kita melalui berbagai evidensi dan imaji. Sebab dengan mempelajari berbagai peristiwa menarik di berbagai tempat negara dan bangsa, kita ibarat berwisata ke berbagai negara di dunia.

D.      Sejarah Perkembangan Sejarah
Sejarah merupakan salah satu disiplin ilmu tertua. Pada abad ke-17 dan ke-18, sejarah secara formal diajarkan di universitas-universitas Eropa mulai dari Oxford University hingga Gottingen (Gilbert,1977). Tulisan-tulisan sejarah di Eropa, pertama kali muncul dalam bentuk puisi, yaitu Homerus (Homer) dengan karyanya Iliad dan Odyssey.Syair Iliad menceritakan tentang perang Yunani dengan Troya tahun 1200 SM. Sedangkan syair Odyssey menceritakan tentang petualangan Odysseus setelah jatuhnya kota Troya.
Penulis sejarah Yunani yang terkenal adalah Herodotus (198-117 SM), Thuydides (456-396 SM), dan Polybius (198-117 SM). Herodotus menulis karyanya yang berjudul History of the Persian Wars (Sejarah Perang-Perang Persia 500-479 SM), ia melihatnya perang ini sebagai bentrokan antardua peradaban berbeda, yaitu Yunani dan Persia. Lain halnya dengan Thucydides yang menulis tentang The Peloponnesian War (Perang Peloponesia, 431-404 SM), kisah yang merupakan perang saudara antara dua polis, yakni Athena dan Sparta. Polybius lebih dikenal sebagai penulis yang mengkaji tentang perpindahan kekuasaan dari tangan Yunani ke Romawi. Historiografi Romawi pada mulanya masih menggunakan bahasa yunani, baru kemudian memakai bahasa Latin, tetapi tulisan sejarah Yunani tetap menjadi model.
Beberapa penulis sejarah Romawi adalah Julius Caesar (100-44 SM), seorang jenderal yang menaklukan Gaul dan bukunya Commentaries on Gallic Wars,mengisahkan tentang suku Gallia, Sallustius (86-34 SM), terkenal dengan monografinya berjudul History of Rome, Conspiracy of Catilinr, dan Jugurthine War. Livius (59 SM-17 M), sebagai narrator yang sering mengorbankan kebenaran demi retorika. Sedangkan Tacitus (55-120), menulis tentang Annals Histories dan Germania. Kemudian pada zaman Kristen Awal, seperti tulisan Agustine (354-430) yang berjudul The City of God adalah filsafat sejarah Kristen
yang bertumpu pada agama dan supernaturalisme yang tidak dapat dipisahkan.
Beberapa penulis lainnya, seperti Africanus (180-250 M) dengan karyanya Chronographia yang mengisahkan tentang penciptaan yang mengambil dari Yahudi, Yunani, dan Romawi. Eusebius (260-340 M), menulis Chronicle dan Chruch History yang memisahkan antara kelompok sacred, yaitu Yahudi, Kristen,
dan profane, yaitu pagan atau kafir. Kemudian Orosius (380-420 M), dikenal sebagai penulis Seven Books Against the Pagans, merupakan pembelaan atas peradaban Kristen yang dituduh menyebabkan runtuhnya Romawi memang sudah
kehendak Tuhan (Kuntowijoyo, 1999:42).Sedangkan pada zaman Kristen Pertengahan, terdapat beberapa nama, seperti Marcus Aurelius Casiodorus (480-570),Procopius (500-565), Gregory atau Bishop Tours (538-594), dan Venerable Bede (672-735). Di antara nama-nama tersebut, Bede yang menulis Ecclesiastical
History of the English People, yang terbentuknya kebudayaan Anglo-Saxon.Pada
zaman Rasionalisme dan Pencerahan, Sejarawan Rene Descartes (1596-1650) dari
Prancis, Frasncis Bacon (1561-1626) dari Inggris, dan Baruch Spinoza (1632-1677) dari Belanda, mereka banyak memengaruhi historiografi abad ke-18. Terdapat tiga aliran yang berkembang pada zaman itu, yaitu aliran radikal yang dipelopori oleh Voltaire, aliran moderat dipimpin oleh Montesquieu, dan aliran sentimental yang dipelipori oleh J.J. Rousseau (Kuntowijoyo, 1999:48).
Secara periodik, ilmu sejarah memang sudah berlangsung sejak lama dan terminology sejarah pun sudah amat tua, khususnya sejak zaman Yunani Kuno. Sebab mengenai catatan-catatan masa lalu, khususnya masa lalu tentang bangsanya sendiri, negaranya sendiri, memang merupakan suatu aktivitas yang sudah lazim dalam dunia pengetahuan, dan hagiografi (riwayat hidup dan legenda orang-orang yang dianggap suci) penulisannya senantiasa didorong oleh mereka yang berkuasa. Akan tetapi, yang membuat disiplin baru ilmu sejarah itu berbeda adalah sejak dikembangkan penekanan pada wie es eigentlich gewesen,apa yang nyata-nyata terjadi oleh Leopod von Ranke (1795-1886) pada abad ke-19 dengan
karyanya A Critique of Modern Historical Writers.Ranke menganjurkan supaya sejarawan menulis apa yang sebenarnya terjadi sebab periode sejarah itu akan dipengaruhi oleh semangat zamannya. Lebih ekstrem lagi, penulisan sejarah pada
waktu itu kebanyakan tentang penciptaan kisah-kisah yang dibayangkan atau dilebih-lebihkan sehingga bersifat retoris karena kisah-kisah yang semacam itu hanya menyanjung-nyanjung pembaca meupun melayani tujuan-tujuan yang mendesak bagi para penguasa ataupun kelompok-kelompok yang berkuasa lainnya (Wallerstein, 1997:23). Lalu,para sejarawan, seperti Robinson, Becker, dan Tilly mendesak perlunya The New History „Sejarah Baru sebagai pengaruh pesatnya perkembangan ilmu-ilmu sosial.
Para peminat ilmu sejarah dapat menyaksikan dua kebangkitan kembali unsur lama dalam ilmu sejarah, yakni kebangkitan kembali politik dan narasi. Sejak lama, sejumlah besar sejarawan memang menghendaki dimasukkannya kembali tinjauan politik ke dalam ilmu sejarah. Kondisi keilmuan pada tahun 1980-an dan 1990-an tampaknya mendukung hal itu, setelah terkikisnya determinisme yang sebelumnya selalu dikaitkan dengan strategi dan taktik politik sempit. Sejarah politik pun berkembang lagi, bahkan mencakup hal-hal baru, termasuk apa yang oleh Michel Foucault disebut mikropolitik. Strategi dan taktik politik yang dibahas bukan hanya yang berskala negara, namun dalam komunitas yang lebih kecil, seperti desa ataupun kampung.
Sejarah diplomatic yang semula berfokus pada negara pun, sejak itu melebar dan mencakup berbagai hal-hal baru, seperti mentalitas dan ritual. Kebangkitan politik relatif lancar daripada kebangkitan narasi yang sering menyulut kontroversi setelah dahulu terdesak aliran baru yang dipimpin mazhab Annales. Istilah kebangkitan narasi pun sering disalah tafsirkan. Sama halnya dengan para antropolog dan sosiolog, kini para sejararawan secara terang-terangan mempermasalahkan hubungan antara peristiwa dan struktur, di mana struktur dapat bersifat sosial dan kultural. Paparan naratif dalam bentuk yang baru lebih beraneka ragam, dimunculkan kembali karena ada sejumlah sejarawan yang menyadari perlunya penggunaan retorika,eksperimen, dan kombinasi antara fakta dan fiksi untuk meningkatkan daya tarik (White, 1978).
Salah satu bentuknya yang menonjol adalah narasi mengenai peristiwa-peristiwa berskala kecil, dengan menggunakan sebuah teknik pemaparan yang lazimnya dipakai para ahli sejarah mikro. Hal itu berlawanan dengan Grand Naratif yang menekankan peristiwa-peristiwa kunci dan tahun-tahun baku, seperti 1492,1789,1914,1945, dan seterusnya. Bentuk lain kemunculan narasi adalah berkembangnya paparan sejarah yang diceritakan dari sudut pandang majemuk untuk mengakomodasi berbagai persepsi mengenai peristiwa tersebut dari kalangan bawah maupun atas. Dari pihak-pihak yang bertempur pada suatu perang saudara, maupun mereka yang hanya merasakan dampak negatifnya, dan seterusnya. Bersamaan dengan tumbuhnya minat untuk mempelajari benturan-benturan antara berbagai kebudayaan, bentuk-bentuk narasi dialogis nampaknya akan semakin kerap dipraktikkan di masa mendatang.

E.   Hubungan Ilmu Sejarah Dengan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya
1. Hubungan Sejarah dengan Sosiologi
Perkembangan akhir-akhir ini banyak sekali karya sosiologiwan diterbitkan yang berupa studi sosiologis mengenai gejala sosial atau sociofact di masa lampau, seperti Pemberontakan Petani karya Tilly, Perubahan Sosial masa Revolusi Industri di Inggris oleh Smelzer, dan Asal Mula Sistem Totaliter dan Demokrasi oleh Barrington Moore, yang kesemuanya itu disebut sebagai historical sociology sejarah sosiologi (Kartodidjo, 1992: 144).
Adapun karakteristik dari historical sociology tersebut bahwa studi sosiologis mengenai suatu kejadian atau gejala di masa lampau yang dilakukan oleh para sosiologiwan. Di satu pihak, sekarang ini pun sedang terjadi apa yang disebut sociological history (sejarah sosiologis) yang menunjuk kepada sejarah yang disusun oleh sejarawan dengan pendekatan sosiologis. Akhir-akhir ini sedang terjadi pula apa yang disebut sebagai gejala Rapprochement atau proses saling mendekat antara ilmu sejarah dan ilmu-ilmu sosial. Metode kritis ini berkembang pesat sejak diciptakan oleh Mabilon sehingga terjadi inovasi-inovasi yang sangat penting dalam sejarah,yang mana dapat menyelamatkan sejarah dari “kemacetan” (Kartodirdjo, 1992:120). Sebab jika dipandang dari titik sejarah konvensional, perubahan metodologi tersebut sangat revolusioner dengan meninggalkan model penulisan sejarah naratif. Dikatakan revolusioner karena ilmu sejarah lebih bergeser ke ilmu sosial.Kombinasi antar berbagai perspektif akan mampu mengekstrapolasikan interdepedensi antara berbagai aspek kehidupan. Dalam hal ini, sejarawan tidak langsung berurusan dengan kausalitas, tetapi lebih banyak dengan kondisi-kondisi dalam berbagai dimensinya.
2.    Hubungan Sejarah dengan Antropologi
Hubungan ini dapat dilihat karena kedua disiplin ini memiliki persamaan yang menempatkan manusia sebagai subjek dan objek kajiannya, lazimnya mencakup berbagai dimensi kehidupan. Dengan demikian, di samping memiliki titik perbedaan, kedua disiplin itu pun memiliki persamaan. Bila sejarah membatasi diri pada penggambaran suatu peristiwa sebagai proses di masa lampau sebagai cerita secara „sekali terjadi, hal ini tidak termasuk bidang kajian antropologi. Namun jika penggambaran sejarah menampilkan suatu masyarakat di masa lampau dengan berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, politik, religi, dan keseniannya maka gambaran tersebut mencakup unsur-unsur kebudayaan masyarakat.
Dalam hal itu ada persamaan bahkan tumpang tindih antara sejarah dengan antropologi (Kartodirdjo, 1992:153).Antropolog terkemuka Evans-Pritchard, ia mengemukakan bahwa Antropologi adalah sejarah. Karena antropologi mempelajari objek yang sama dengan sejarah, yaitu tiga jenis fakta yang terdiri atas artifact, sociofact, dan mentifact, di mana semuannya adalah produk historis dan hanya dapat dijelaskan eksistensinya dengan melacak sejarah perkembangannya (Kartodirdjo, 1992:153).
3.    Hubungan Antropologi Budaya dengan Sejarah
Dapat dipahami terdapat dua hal yang penting. Pertama, makna kebudayaan telah semakin meluas karena semakin luasnya perhatian para sejarawan, sosiologiwan, mengkritisi sastra, dan lain-lain. Perhatian semakin dicurahkan kepada kebudayaaan popular, yakni sikap-sikap dan nilai-nilai masyarakat awam serta pengungkapannya ke dalam kesenian rakyat, lagu-lagu rakyat, cerita rakyat, festival rakyat, dan lain-lain (Burke, 1978;Yeo dan Yeo, 1981). Kedua, mengingat semakin luasnya makna kebudayaan semakin meningkat pula kecenderungan untuk menganggap kebudayaan sebagai sesuatu yang aktif, bukan pasif.
4. Hubungan Sejarah dengan Psikologi
Dalam cerita sejarah, aktor atau pelaku sejarah senantiasa mendapat sorotan yan tajam,baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Sebagai aktor individu, tidak lepas dari peranan faktor-faktor internal yang bersifat psikologis, seperti motivasi, minat, konsep diri, dan sebagainya yang selalu berinteraksi dengan faktor-faktor eksternal yang bersifat sosiologis, seperti lingkungan keluarga, lingkungan sosial budaya, dan sebagainya. Begitu pun dalam actor yang bersifat kelompok menunjukkan aktivitas kolektif, yaitu
a) Konflik-konflik itu terselesaikan sedemikian rupa sehingga menguntungkan tenaga-tenaga produktif, lalu muncul relasi-relasi produksi yang baru dan lebih tinggi persyaratan materiilnya telah matang dalam “rahim” masyarakat itu sendiri. Masyarakat dan pemerintahan kelas memang tidak terhindarkan, sekaligus diperlukan untuk memaksa produktivitas para produsen agar melampaui tingkat substensinya. Namun, kemajuan produktif yang dihasilkan kapitalisme tersebut menghancurkan kelayakan dan landasan histories pemerintahan kelas, Karena negara merupakan alat suatu kelas untuk mengamankan pemerintahannya maka negara akan melemah dalam masyarakat pascakelas.
b)  Relasi-relasi produksi yang lebih baru dan lebih tinggi ini mengakomodasi secara lebih baik keberlangsungan pertumbuhan kapasitas produksi masyarakat. Di sinilah model produksi borjuis mewakili era progresif yang paling baru dalam formasi ekonomi masyarakat, tetapi hal itu merupakan bentuk produksi antagoni stik yang terakhir. Dengan matinya bentuk produksi tersebut maka prasejarah kemanusiaan berakhir.
c) Di sinilah kapitalisme akan hancur oleh hasratnya sendiri untuk meletakkan masyarakat pada tingkat produktif yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Selain itu, perkembangan tenaga-tenaga produktif yang membayangkan munculnya kapitalisme sebagai respons terhadap tingkat tenaga produktif pada awal mula terbentuk.
d)    Dengan demikian, perkembangan kapasitas produktif masyarakat menentukan corak utama evolusi yang dihasilkan, yang pada gilirannya menciptakan institusi-institusi hukum dan politik masyarakat atau suprastruktur.
7. Teori Feminisme Wollstonecraft
Mary Wollstonecraft dilahirkan di Inggris tahun 1759. Isi pokok pemikiran (teori) Wollstonecraft adalah sebagai berikut.
a)  Salah satu ciri yang paling universal sekaligus mencolok adalah subordinasi wanita atas pria. Sekalipun saat ini banyak kemajuan-kemajuan politik dan budaya yang diperolehnya, masyarakat tetap menempatkan wanita sebagai subordinat posisi pria.
b) Dalam beberapa segi, Hal itu disebabkan oleh kaum wanita itu yang berprasangka buruk terhadap kapabilitas bakat-bakat dan kapasitas-kapasitas mereka sendiri sebuah pandangan yang diajukan oleh banyak penulis dan pemikir pembenci wanita
c) Padahal pria dan wanita sama-sama mampu bernalar dan memperbaiki diri. Meskipun demikian, kapasitas wanita bagi tindakan rasional dan bagi keseluruhan sejati, telah dikurangi oleh beragamnya institusi sosial dan tuntutan-tuntutan budaya.
d)    Masyarakat dan kaum pria telah membatasi kesempatan-kesempatan yangdimiliki wanita untuk menggunakan kemampuan alaminya bagi kebaikan masyarakat.
e) Keluhuran-keluhuran jinak dan kesenangan-kesenangan hampa telah mendorong kaum wanita berfokus pada penyanjungan dan penyenangan pria yang dapat menjauhkan wanita untuk berkontribusi pada kehidupan moral, budaya, dan politik.
f) Wanita tidak boleh memiliki status inferior, sekalipun penyebabnya oleh kaum wanita itu sendiri yang begitu pasrah menerima citra mereka yang tidak menguntungkan diri.
g) Semakin baik pendidikan mereka, semakin baik wanita menjadi warga negara, istri,dan ibu. Wanita terdidik adalah orang-orang yang lebih rasional dan lebih luhur.
BAB III
PENUTUP

A.      Simpulan
Pengertian sejarah yang setelah dilihat secara umum dari para ahli ialah memiliki makna sebagai cerita, atau kejadian yang benar-benar telah terjadi pada masa lalu. Dilihat dari pengertiannya tersebut, maka sejarah dapat dibagi tiga yaitu, Sejarah sebagai Peristiwa, adalah sesuatu yang terjadi pada masyarakat manusia di masa lampau, Sejarah sebagai Ilmu Sejarah dikategorikan sebagai ilmu karena dalam sejarah pun memiliki “batang tubuh keilmuan” (the body of knowledge), metodologi yang spesifik,dan Sejarah sebagai cerita merupakan sesuatu karya yang dipengaruhi oleh subjektivitas sejarawan. Artinya, memuat unsur-unsur dari subjek, si penulis /sejarawan sebagai subjek turut serta mempengaruhi atau memberi “warna”, atau “rasa” sesuai dengan “kacamata” atau selera subjek (Kartodirdjo, 1992:62).
Dalam penelitian subjeknya, sejarah memiliki metode yaitu, (1) heuristic (pengumpulan sumber-sumber); (2) kritik atau analisis sumber (eksternal dan internal); (3) interpretasi; (4) historiografi (penulisan sejarah).dan sejarah memiliki ilmu Bantu lainnya dalam peneltian yaitu, Paleontologi, Arkeologi, Paleoantropologi, Paleografi, Epigrafi, Ikonografi, Numismatik, Ilmu keramik, Genealogi, Filologi, Bahasa, Statistik, Etnografi.
Tujuan dan kegunaan sejarah, pada hakikatnya adalah memberi pelajaran bagi masyarakat sekarang, untuk dapat mengambil pelajaran di masa lalu agar di masa depan menjadi lebih baik. Dan Notosusanto (1979:4-10) mengidentifikasi empat jenis kegunaan sejarah, yakni fungsi edukatif, fungsi inspiratif, fungsi instruktif, dan fungsi rekreasi. Dalam perkembangannya, sejarah memiliki sejarah yang dimulai dari tulisan-tulisan sejarah di Eropa, pertama kali muncul dalam bentuk puisi, yaitu Homerus (Homer) dengan karyanya Iliad dan Odyssey, dan dalam perkembangannya itu terdapat konflik para sejarawan tentang penulisan dan isi dari sejarah hingga munculnya dua kebangkitan kembali unsur lama dalam ilmu sejarah, yakni kebangkitan kembali politik dan narasi.
Bersamaan dengan perkembangannya, maka sejarah memiliki hubungan dengan ilmu-ilmu sosial lainnya yaitu dalam subjek dan objek kajiannya,yang dapat dilihat dari sosiologi, antropologi, antropologi budaya, psikologi, geografi, ilmu ekonomi, dan ilmu politik. Karena pembahasan sejarah meliputi masyarakat di masa lalu yang berupa peristiwa yang unik dan mengubah hidup masyarakat tersebut. Maka ilmu-ilmu sosial dan sejarah saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Adapun konsep-konsep dalam sejarah yaitu, Perubahan, Peristiwa, Sebab dan Akibat, Nasionalisme, Kemerdekaan/Kebebasan, Kolonialisme, Revolusi, Fasisme, Komunisme, Peradaban, Perbudakan, Waktu, Feminisme, Liberalisme, Konservatisme. Dan sejarah memilki teori-teori dari para sejarawan yaitu Teori Gerak Siklus Sejarah Ibnu Khaldun, Teori Daur Kultural Spiral Giambattista Vico, Teori Tantangan dan Tanggapan Arnold Toynbee, Teori Dialetika Kemajuan Jan Romein, Teori Despotisme Timur Wittfogel, Teori Perkembangan Sejarah dan Masyarakat Karl Marx, danTeori Feminisme Wollstonecraft.


DAFTAR PUSTAKA

Supardan, Dadang.2007.Pengantar Ilmu Sosial.Bandung: PT Bumi Aksara

0 Response to "MAKALAH SEJARAH"

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.